Meskipun pandemi COVID-19 telah mengakibatkan morbiditas dan mortalitas tinggi secara global, informasi tentang dampak histopatologis multi-organ terutama pada pasien Indonesia masih terbatas. Tujuan studi ini adalah mendeskripsikan temuan jaringan organ vital (paru, jantung, hati) dari pasien COVID-19 berat pasca-meninggal.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan teknik biopsi post-mortem menggunakan jarum inti (core needle biopsy) yang dilakukan pada 41 pasien terkonfirmasi COVID-19, yang dirawat di ruang isolasi khusus RSUD Dr. Soetomo antara Juli hingga Desember 2020. Semua pasien telah dinyatakan positif melalui uji RT-PCR dan pengambilan sampel dilakukan dalam waktu 1“2 jam setelah kematian. Spesimen dari paru-paru, hati, dan jantung dianalisis di laboratorium histopatologi menggunakan pewarnaan Hematoxylin & Eosin dan diperiksa secara teliti oleh tim patologi anatomi.
Rerata usia pasien adalah 48,66 tahun, dengan mayoritas laki-laki (73,17%). Komorbiditas yang paling sering ditemukan adalah diabetes melitus tipe 2 (77,55%) dan hipertensi (51,02%). Hasil pemeriksaan jaringan paru menunjukkan bahwa hampir semua pasien mengalami infiltrasi inflamasi interstisial atau intra-alveolar (97,56%), perubahan fibrotik interstisial (85,37%), dan adanya pneumosit yang membesar dan atipikal (82,93%). Selain itu, ditemukan juga deposit kolagen interstisial serta mikrotrombi, meskipun dalam jumlah yang lebih kecil. Menariknya, sebagian besar temuan ini lebih dominan pada pasien laki-laki.
Pada jaringan hati, ditemukan adanya peradangan lobular ringan hingga sedang pada 87,80% pasien dan peradangan portal pada 75,61% kasus. Selain itu, kolestasis ditemukan pada 68,29% dan steatosis hati ringan hingga berat pada 58,54% pasien. Hanya satu kasus yang menunjukkan adanya fibrosis hati. Tidak ditemukan proliferasi saluran empedu ataupun perubahan vaskular yang berarti pada jaringan hati. Temuan ini memperkuat hipotesis bahwa cedera hati pada COVID-19 berat disebabkan oleh proses inflamasi sistemik, hipoksia, dan kemungkinan efek toksik obat-obatan yang digunakan selama perawatan.
Pemeriksaan jaringan jantung menunjukkan bahwa 95,12% pasien mengalami edema interstisial, dan 80,49% mengalami hipertrofi miokard ringan. Infiltrasi sel mononuklear, fibrosis miokard, dan kejadian trombosis juga ditemukan pada sebagian kasus. Namun, tidak ada satu pun pasien yang menunjukkan tanda-tanda infark miokard akut. Temuan langka seperti endotelitis dan miokarditis limfositik hanya terjadi pada pasien perempuan. Hasil ini sejalan dengan studi-studi sebelumnya yang menyatakan bahwa meskipun jantung bukan organ utama target infeksi SARS-CoV-2, ia tetap rentan mengalami perubahan struktural akibat respons imun sistemik dan beban inflamasi tinggi selama fase kritis infeksi.
Studi ini merupakan yang pertama di Indonesia yang secara komprehensif menggambarkan perubahan histopatologi pada organ-organ utama pasien COVID-19 yang meninggal dunia. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pemantauan ketat terhadap fungsi paru, hati, dan jantung pada pasien COVID-19 berat. Evaluasi terhadap penanda organ secara berkala direkomendasikan sebagai bagian dari protokol klinis agar membatasi risiko kerusakan organ lebih lanjut. Dengan demikian, pendekatan medis yang lebih terintegrasi dan berbasis bukti dapat diterapkan untuk meningkatkan keselamatan dan outcome klinis pasien dalam fase kritis infeksi COVID-19.
Penulis: Isnin Anang Marhana, dr., Sp.P(K), FCCP
Jurnal: Journal of Advanced Pharmacy Education & Research, Vol. 15(3), Juli“September 2025
DOI:
Kata Kunci: COVID-19, SARS-CoV-2, Paru-paru, Jantung, Hati, Patologi





