51动漫

51动漫 Official Website

Cegah Penurunan Kinerja Otak Saat Olahraga dengan Memanfaatkan Teknik Pendinginan

Sumber foto: liputan6.com
Ilsutrasi Otak (foto: liputan6)

Berolahraga sangatlah dianjurkan karena dapat membuat tubuh menjadi lebih sehat dan bugar. Namun, berolahraga juga dapat meningkatkan suhu tubuh secara berlebihan dan dapat berakibat fatal, terlebih jika dilakukan dengan dengan intensitas tinggi, berdurasi lama, atau dalam kondisi suhu lingkungan tinggi. Peningkatan suhu inti tubuh yang berlebihan ini disebut dengan hipertermia, yaitu kondisi tubuh saat mengalami kesulitan dalam mengatur suhu, sehingga terjadi peningkatan suhu tubuh yang cepat dan ditandai dengan suhu tubuh yang melebihi 40掳C. Kondisi ini tidak hanya dapat menurunkan performa saat berolahraga, namun juga dapat menyebabkan kerusakan pada organ tubuh seperti otot, menurunkan fungsi otak, bahkan dapat mengancam kesehatan organ-organ vital dan berakibat kematian. Oleh karena itu, penting sekali untuk mencegah terjadinya hipertermia saat berolahraga.

Untuk mencegah terjadinya hipertermia saat berolahraga, penerapan strategi pendinginan yang efektif menjadi sangat krusial untuk mencegah timbulnya panas yang berlebihan maupun menghilangkan panas dari tubuh dengan cepat. Strategi pendinginan ini dapat diterapkan sebelum, selama, ataupun setelah berolahraga. Terdapat berbagai macam teknik pendinginan sebelum latihan, seperti mengkonsumsi minuman dingin, mengenakan rompi es, menggunakan penutup kepala dengan suhu yang dingin. Teknik pendinginan ini terbukti dapat meningkatkan performa fisik, meskipun efeknya dapat berkurang seiring dengan panjangnya durasi olahraga. Strategi pendinginan lainnya adalah dengan menggunakan teknik pendinginan saat berolahraga, misalnya kompres dingin di area kepala, mengkonsumsi permen dengan rasa mint,  atau konsumsi es saat Latihan. Hal ini dapat membantu mencegah peningkatan suhu inti tubuh saat berolahraga dan meningkatkan kinerja otak. Namun, hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa efektivitas teknik pendinginan dapat bervariasi tergantung pada kondisi subjek, jenis olahraga, suhu lingkungan, dan jenis teknik pendinginan yang dilakukan. Oleh karena itu, penelitian yang kami lakukan bertujuan untuk membandingkan efektivitas teknik pendinginan yang diberikan sebelum olahraga, saat olahraga, dan kombinasi keduanya terhadap kinerja otak pada latihan berintensitas tinggi.

Penelitian ini melibatkan sebelas pria dewasa muda yang sehat, berusia antara 18 hingga 28 tahun, dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) berkisar antara 18,5 hingga 24,9 kg/m虏. Semua subjek aktif (melakukan olaharaga minimal 150 menit setiap minggu), memiliki tekanan darah, detak jantung istirahat yang normal. Setiap subjek secara acak menerima tiga jenis intervensi yaitu: kelompok pertama diberikan teknik pendinginan sebelum latihan dengan memakai rompi es selama 30 menit; Kelompok kedua diberikan teknik pendinginan saat latihan dengan menkonsumsi es serut dengan dosis 7 gram per kg berat badan selama 30 menit; dan kelompok ketiga diberikan kombinasi kedua teknik tersebut. Olahraga dilakukan dengan intensitas tinggi dengan menggunakan sepeda ergometer monark hingga mencapai kelelahan di dalam ruangan suhu antara 20-26掳C. Selama proses penelitian, kinerja otak dievaluasi melalui tes kognitif, yaitu tes Operatian Span (OSPAN) sebelum dan setelah olahraga. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa terdapat penurunan kinerja kognitif jika diberikan teknik pendinginan sebelum olahraga dengan menggunakan rompi es atau saat berolahraga dengan es serut saja. Namun jika kedua teknik tersebut dikombinasikan, kinerja kognitif otak dapat dipertahankan.  

Sebagai kesimpulan, penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi teknik pendinginan sebelum dan selama latihan, yaitu dengan menggunakan rompi es dan es serut, lebih efektif dalam menjaga kinerja kognitif setelah olahraga intensitas tinggi dibandingkan dengan penerapan teknik tersebut secara terpisah. Meskipun kedua metode pendinginan ini mampu menurunkan suhu tubuh, dampak masing-masing tidak cukup signifikan untuk mempengaruhi kinerja otak. Penelitian selanjutnya diperlukan untuk mengidentifikasi factor-faktor yang dapat mempengaruhi efektifitas teknik pendinginan dengan perubahan fisiologis maupun penanda kerusakan organ tubuh dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat menmpengaruhi seperti fluktuasi suhu ruangan. 

Penulis: Oviesta Tasha Retyananda, S.Pd. ; dr. Raden Argarini, MKes.,PhD (Mahasiswa dan Dosen di Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Olahraga Fakultas Kedokteran 51动漫)

Informasi lebih detail mengenai penelitian kami dapat dilihat pada tautan berikut:

Retyananda, O.T., Argarini, R., Rejeki, P.S., Isna, N.M. (2025) Effect of providing cooling techniques (pre-cooling & per-cooling) on cognitive function. Retos: 62, pp. 37-41

AKSES CEPAT