51

51 Official Website

CIMSA UNAIR Gelar Webinar Bahas Tuberkulosis

dr Tutik Kusmiati Sp P(K) memaparkan materi tentang fakta dan hoax tuberkulosis di masyarakat dalam webinar UTOPIA pada Sabtu (26/04/2025), (Foto : Screenshot Zoom Meeting)
dr Tutik Kusmiati Sp P(K) memaparkan materi tentang fakta dan hoax tuberkulosis di masyarakat dalam webinar UTOPIA pada Sabtu (26/04/2025), (Foto : Screenshot Zoom Meeting)

UNAIR NEWS Center for Indonesian Medical Students Activities (CIMSA) 51 (UNAIR) menggelar webinar Uplifting Tuberculosis Obtain Peace, Integrate Aspiration). Kegiatan berlangsung pada Sabtu (26/04/2025) melalui Zoom Meeting. Webinar ini merupakan post-event UTOPIA yang berlangsung dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis Dunia. Dalam acara ini, turut hadir dr Tutik Kusmiati Sp P(K) sebagai perwakilan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). 

Dalam paparannya, dr Tutik membahas tentang fakta dan hoax tentang di masyarakat. Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit infeksi dan bersifat menular. Oleh karena itu, perlu ada sosialisasi sebagai langkah preventif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait penyakit menular ini.

Dr Tutik menjelaskan bahwa penularan tuberkulosis (TBC) sangat mudah dan cepat menyebar melalui droplet yang mengandung bakteri TBC. Menurutnya jika imunitas seseorang kurang baik, bakteri akan menyebar melalui pembuluh darah ke berbagai organ, seperti otak, tulang, kelenjar, dan paru.

Dalam dua minggu, imun tubuh akan mengeliminasi virus TBC. Kalau imun tubuh mampu mengendalikan virus TBC. Ada dua kemungkinan yang mungkin terjadi, yaitu bisa terjadi infeksi laten TBC atau tubuh tetap sehat tanpa infeksi. Namun, jika sistem imun melemah, individu berisiko mengalami infeksi aktif TBC. Jadi tidak semua orang terinfeksi TBC itu sakit, semuanya tergantung imun. jelas dr Tutik.

Pada orang dewasa, gejala TBC Paru dapat terlihat dari dua jenis gejala, yaitu gejala pernapasan dan gejala sistemik. Pada gejala pernapasan, pengidap TBC akan mengalami batuk berdahak selama dua hingga tiga minggu atau lebih. Sedangkan pada gejala sistemik, badan akan terasa lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, berkeringat malam hari, dan demam meriang lebih dari satu bulan.

Dr Tutik menegaskan bahwa TBC tidak dapat disembuhkan dengan obat tunggal, melainkan membutuhkan kombinasi obat sesuai dosis berat badan dan pengawasan PMO. Pengobatan TBC terdiri dari tahap awal dan tahap lanjutan. Seseorang yang mengalami gejala disarankan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk tes cepat molekuler dan evaluasi pengobatan melalui pemeriksaan mikroskopis BTA. 

Untuk cara pencegahannya mungkin bisa dimulai dengan mengubah lifestyle terlebih dulu, misalnya dengan cara membiasakan diri untuk makan makanan bergizi, berhenti merokok, menggunakan masker terutama bagi yang sakit, tidak membuang dahak sembarangan, mengontrol gula darah bagi pasien diabetes, dan melakukan terapi pencegahan tuberkulosis (TPT), pungkasnya. 

Penulis : Dalliyah Iftitah Arbi

Editor : Edwin Fatahuddin

AKSES CEPAT