UNAIR NEWS – Tri dharma perguruan tinggi, meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, merupakan sebuah tanggung jawab yang perlu segenap sivitas akademika penuhi. 51动漫 (UNAIR) mendukung pemenuhan tanggung jawab ini melalui beragam program, termasuk salah satunya Kuliah Kerja Nyata Belajar Bersama Komunitas (KKN-BBK). Program KKN-BBK UNAIR mendorong mahasiswa menyalurkan ilmu pengetahuan yang telah mereka peroleh untuk membantu persoalan kompleks yang masyarakat hadapi.
Salah satu tim KKN-BBK 6 UNAIR memberikan kontribusi nyata dalam berbagai bidang bagi masyarakat Desa Lamongrejo, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan, termasuk ekonomi. Sebagian besar dari penduduk Desa Lamongrejo berprofesi sebagai petani, dengan fokus pada penanaman bahan pangan seperti padi dan jagung. Namun, masyarakat Desa Lamongrejo belum dapat memanfaatkan hasil pertanian secara maksimal.

Ketua tim KKN-BBK Desa Lamongrejo, Kaila Libina, mengungkap bahwa masyarakat desa ini hanya memanfaatkan hasil pokok seperti buah, tanpa mengulik potensi lain dari tanaman tersebut. Untuk itu, tim KKN-BBK ini menggagas sebuah produk dari limbah jagung, tepatnya rambut jagung, sebagai teh yang memiliki sederet manfaat bagi kesehatan. Mereka menamai produk ini Teh Srikandi.
淩ambut jagung itu limbah yang dibuang begitu saja sama masyarakat. Sayangnya, di desa ini juga tidak ada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah. Jadi, sangat krusial soal sampah itu, ungkapnya dalam wawancara bersama UNAIR NEWS.
Mengenal Teh Srikandi
Teh Srikandi merupakan produk dari rambut jagung yang dapat menjadi obat herbal. Produk ini memiliki segudang khasiat, yakni membantu menjaga tekanan darah, menstabilkan kadar gula darah, mengelola kolesterol, mendukung kesehatan jantung dan pembuluh darah, serta menjaga fungsi ginjal tetap optimal.
Tidak memerlukan campuran bahan lain, Teh Srikandi hanya memanfaatkan rambut jagung sebagai bahan utamanya. Proses pembuatannya juga terbilang cukup mudah. Prosesnya mulai dari pencucian, pengeringan, penghalusan menjadi bentuk lebih kecil, pengemasan dalam kantong teh, hingga penyajian, dapat diikuti tanpa memerlukan alat khusus.
Tim KKN-BBK kemudian mengenalkan produk teh ini kepada masyarakat Desa Lamongrejo pada Jumat (25/7/2025). Mereka mengadakan sosialisasi sekaligus demonstrasi penyajian teh di Balai Desa Lamongrejo. Sesuai dengan namanya yang mencerminkan seorang perempuan, Teh Srikandi, kegiatan pengenalan produk ini menyasar ibu-ibu rumah tangga.
淎ku mencetuskan penamaan Teh Srikandi diambil dari nama dewi, Dewi Srikandi, karena sasarannya ibu-ibu rumah tangga dan PKH. Kami mikirnya kan bapak-bapak pergi buat tanam dan panen jagung, nah ibu-ibunya yang memanfaatkan hasil panennya, tuturnya.

Harapan Keberlanjutan
Produk Teh Srikandi ini mendapat respons positif dari masyarakat Desa Lamongrejo. Kaila melihat antusiasme masyarakat bahkan sebelum demonstrasi pembuatan produk secara luas. Ia mengaku mendapat dukungan penuh dari pihak desa dalam proses pembuatan hingga pengenalan produk inovatif ini.
Kaila dan tim berharap masyarakat dapat mengembangkan produk ini menjadi ide usaha yang memberikan kontribusi pada peningkatan ekonomi. “Aku dan tim inginnya Teh Srikandi ini jadi UMKM lokal, karena juga sudah demonstrasi cara pembuatannya. Aku juga harap Teh Srikandi ini menjadi khas Desa Lamongrejo,” pungkasnya.
Penulis: Selly Imeldha
Editor: Ragil Kukuh Imanto





