51动漫

51动漫 Official Website

Peringati Hari Anak Nasional, UNAIR Soroti Masalah GTM

Sesi diskusi bersama Dr dr Meta Herdiana Hanindita SpA(K) dalam Dokter Edukasi pada Jumat (25/7/2025). (Foto: Dok. Pribadi)
Sesi diskusi bersama Dr dr Meta Herdiana Hanindita SpA(K) dalam Dokter Edukasi pada Jumat (25/7/2025). (Foto: Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, 51动漫 (UNAIR) melalui program Dokter Edukasi menggelar diskusi bertajuk “Kenapa Harus Khawatir Jika Anak GTM?” Diskusi yang tersiar melalui kanal YouTube Dokter UNAIR TV pada Jumat (25/7/2025) tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya memahami fenomena GTM pada anak.

Hadir sebagai narasumber utama, dokter spesialis anak konsultan, Dr dr Meta Herdiana Hanindita SpA(K). Ia menjelaskan, GTM atau gerakan tutup mulut sejatinya bukan istilah medis dan tidak ada kriteria diagnosis secara resmi. Istilah tersebut populer di kalangan ibu-ibu saat anaknya mulai susah makan. 

Istilah GTM

Menurut dr Meta, fenomena GTM kerap terjadi ketika anak memasuki masa peralihan dari ASI menuju makanan padat atau saat menginjak usia satu tahun ke atas. Namun di luar faktor adaptasi, penelitian IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) mengemukakan bahwa penyebab paling umum GTM justru dari inappropriate feeding practice atau kebiasaan makan yang tidak tepat.

Lebih lanjut, dr Meta mengungkap jika penyebab GTM bisa karena kondisi medis tertentu, namun hal tersebut bukanlah penyebab utama. Dalam banyak kasus, GTM, terjadi karena aturan makan yang belum orang tua terapkan secara konsisten di rumah.

Ia menyebutnya sebagai feeding rules, suatu pola makan teratur yang membantu anak mengenali sinyal lapar dan kenyangnya sendiri. 淜arena bayi belum tahu kapan lapar atau kenyang, peran orang tua sangat penting untuk melatih mereka dengan aturan tersebut, imbuhnya.

Cara Menerapkan Feeding Rules

Terdapat beberapa prinsip dasar, sambungnya, dalam menerapkan feeding rules. Seperti menjaga jadwal makan anak konsisten tiap harinya, agar mereka terbiasa dengan waktu makan dan mampu mengenali rasa laparnya. Selain itu, batasi durasi makan maksimal 30 menit. Sebab, di luar dari waktu tersebut, anak mulai cenderung kehilangan fokus.

Hindari memberi makanan selingan atau snack di luar jadwal makan. Terkesan sepele, namun seringkali berujung pada anak yang kenyang sebelum waktu makan utama. Suasana makan juga perlu orang tua jaga agar tetap nyaman dan menyenangkan tanpa distraksi seperti gawai atau aktivitas lain yang mengganggu konsentrasi anak.

淎nak perlu diajak duduk di meja makan dan fokus makan, tidak disambi jalan-jalan atau menonton video. Karena fokus mereka masih terbatas, jadi satu aktivitas saja sudah cukup, tegasnya.

Dampak GTM pada Anak

GTM yang berlangsung terus-menerus dapat menimbulkan risiko gangguan seperti faltering atau kondisi saat berat anak tidak bertambah sesuai usia. Penelitian bahkan menunjukkan bahwa faltering dapat berpengaruh pada penurunan IQ hingga empat poin. 淛ika dibiarkan bisa berkembang menjadi masalah gizi seperti underweight hingga stunting, terangnya.

Dalam menghadapi GTM, dr Meta berpesan agar orang tua tetap tenang. Namun, jika anak sudah berusia satu tahun tetapi hanya bisa mengonsumsi makanan halus seperti bubur dan menolak makanan dengan tekstur kasar hingga muntah, maka segera konsultasikan ke dokter. Begitu pula saat berat anak tidak menunjukkan kenaikan yang ideal, kendati status gizinya masih dianggap baik. 

淐oba benahi dulu feeding rules selama dua sampai tiga minggu. Tapi kalau tetap tidak ada kemajuan, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter. Bisa jadi memang ada kondisi medis yang perlu ditangani. Dan jangan lupa pantau pertumbuhan anak setiap bulan, pungkasnya.

Penulis: Fania Tiara Berliana Marsyanda

Editor: Ragil Kukuh Imanto

AKSES CEPAT