UNAIR NEWS – Selain sebagai sumber informasi, pers juga memiliki peran penting dalam kehidupan bernegara. Pasalnya, tulisan-tulisan yang ada di pers bisa mempengaruhi persepsi publik dan bahkan bisa digunakan sebagai media perjuangan untuk mengontrol pemerintahan. Saking krusialnya, pers bahkan disebut sebagai the fourth estate atau kekuatan keempat dalam sosial, ekonomi, dan politik suatu negara.
Wakil Pimpinan Redaksi Times Indonesia Wahyu Nurdiyanto menjelaskan, berkembangnya teknologi informasi di era digitalisasi menyebabkan arus informasi saat ini tak hanya bersumber dari pers. Setiap orang yang memiliki akses terhadap gadget dan Internet bisa mengabarkan suatu informasi melalui media sosial bahkan lebih cepat dari pers itu sendiri. Alhasil, banyak media pers justru berfokus untuk membuat berita secepat mungkin dan mengesampingkan kaidah jurnalistik yang ideal.
“Saat ini apa yang dimuat di media mainstream berkaca pada medsos, seakan apa yang viral itu yang dimuat. Padahal belum tentu itu sesuatu yang penting,” terangnya dalam Sekolah Jurnalistik yang diadakan oleh BEM KM SIKIA UNAIR, Sabtu (28/5/2022).
Wahyu mengungkapkan bahwa saat ini beberapa media massa online seakan tidak lagi berperan layaknya idealnya pers yang berperan sebagai kontrol pemerintahan dan mengedukasi masyarakat. Berita yang dimuat justru hanya berisi informasi yang dianggap kebanyakan masyarakat menarik dan bahkan ngawur supaya mendapatkan pembaca sebanyak-banyaknya. Tak jarang, berita mengangkat berita yang tidak sesuai dengan etika jurnalistik dengan headline clickbait yang menyesatkan.
“Ini kan kebalik, pers yang seharusnya menyajikan informasi penting dengan menarik namun malah mengangkat berita yang asal menarik meskipun tidak penting dan bahkan dapat menimbulkan mispersepsi semata untuk meningkatkan traffic pembaca,” ungkapnya.
Lemahnya Sistem Rekrutmen dan Minimnya Pelatihan Jurnalis
Menurut Wahyu, ada beberapa faktor yang mengakibatkan penurunan kualitas jurnalistik Indonesia di era digital. Salah satunya adalah sistem rekrutmen yang tidak kompetitif. Wahyu menerangkan, penerimaan jurnalis di kebanyakan media hanya didasarkan pada ijazah sarjana dan kemampuan kandidat dalam menulis. “Asal dia bisa nulis saja bisa langsung diterima,” katanya.
Ia melanjutkan, keadaan itu diperparah dengan minimnya pelatihan untuk para jurnalis di beberapa media. Hasilnya, banyak Jurnalis yang tidak berintegritas dan membuat berita yang tidak lagi sesuai dengan kaidah jurnalistik.
“Karena ingat, sebagai jurnalis kita tidak hanya dituntut untuk membuat berita saja, namun juga mempertanggungjawabkan apa yang kita tulis,” tegasnya.
Faktor Ekonomi
Sebagai sebuah korporasi, media pers membutuhkan biaya untuk operasional perusahaan. Wahyu mengungkapkan, keuntungan media massa online didapatkan dari iklan programatik yang muncul di laman berita dan nominal yang dihasilkan sangat sedikit. “Hanya sekitar 4-12 rupiah per-iklan,” jelasnya.
Oleh karena itu, lanjutnya, semakin banyak pembaca yang mengunjungi laman berita maka iklan programatik yang muncul akan semakin banyak menghasilkan uang. Itulah sebabnya media online menarget pembaca sebanyak-banyaknya untuk meningkatkan perolehan iklan.
“Solusinya ya, mau tidak mau kita menyajikan berita yang disukai masyarakat. Dan sayangnya kebanyakan masyarakat kita justru lebih menyukai berita-berita yang tidak penting tapi menarik tersebut,” ungkapnya. (*)
Penulis : Ivan Syahrial Abidin
Editor :Binti Q. Masruroh





