UNAIR NEWS – Turki merupakan negara keenam destinasi wisata dengan pengunjung terbanyak sedunia. Fakta ini kemudian menyebabkan turisme menjadi sektor paling krusial terhadap perekonomian Turki. Dalam mengatasi Covid-19, Turki beradaptasi dengan menerapkan Safe Tourism Certificate Program yang menunjang protokol kesehatan dalam bisnis pariwisata.
Semua pencapaian tersebut tidak lepas dari aspek otonomi pekerjaan dan kepemilikan psikologis para pekerjanya. Assist Prof Dr Duygu Bora, seorang kepala Departemen Pemandu Wisata di Cappadocia University, memaparkan mengenai pentingnya independensi pekerja turisme dalam kuliah tamu . Kuliah tamu itu bertajuk Job Autonomy, Psychological Ownership and Organizational Citizenship Behavior in Hotel Businesses.
淥tonomi pekerjaan mengizinkan karyawan untuk menentukan ritme, prosedur, serta koordinasi pekerjaan mereka sendiri. Hal ini mendorong mereka untuk jadi kreatif, tutur Duygu.
Perusahaan dimana karyawannya memiliki kewenangan yang tinggi, lanjut Duygu, menghasilkan keluaran yang lebih optimal dan efisien. Hal ini dikarenakan otonomi yang dimiliki oleh karyawan membuat mereka merasa lebih bebas dan dihargai dalam menyelesaikan pekerjaan.
Alumnus Mustafa Kemal University tersebut menjelaskan bahwa otonomi membuat pekerja merasa lebih kompeten dan berkemampuan dalam memenuhi tanggung jawab mereka. Sehingga, pekerjaan tidak akan terasa lebih berat.
Kreatif, Inisiatif, dan Tanggap
Duygu melanjutkan bahwa kreativitas pekerja sangat dibutuhkan terlebih dalam bidang jasa atau hospitality. Karyawan hendaknya dituntut untuk menjadi inisiatif dan tanggap atas kebutuhan pelanggan. Deskripsi tanggung jawab terkadang tidak mampu merangkum tantangan apa saja yang akan dihadapi pekerja saat bertemu konsumen. Dengan kreativitas yang diperoleh dari kebebasan pekerja, maka persoalan di masa depan diharapkan dapat dicegah. Orientasi dari karyawan adalah kepuasan pelanggan.
淵ang menjadi esensi dari otonomi pekerjaan ini nantinya adalah kepemilikan psikologis. Karyawan harus tahu apa yang menjadi miliknya, dalam konteks ini adalah peran mereka untuk menyukseskan sebuah industri, ujar Duygu.
淜epemilikan psikologis merupakan perpanjangan dari konsep diri, tambah peraih gelar S2 di Nev艧ehir University tersebut. Yaitu, dimana seseorang memperluas identitasnya melalui suatu hal yang ia anggap miliknya. Seorang karyawan hendaknya memiliki kepemilikan psikologis terhadap suatu organisasi atau lembaga. Kepemilikan tersebut meliputi tujuan lembaga, reputasi, prosedur, hingga kultur dan iklim pekerjaan. Dengan rasa kepemilikan itu, maka seorang pekerja akan lebih terikat untuk memenuhi tujuan pekerjaannya.
淪eorang karyawan mesti mengetahui secara mendalam mengenai detail pekerjaannya, serta mengalokasikan waktu dan energi untuk inisiatif serta menerima kritik dan saran, tukas Duygu. (*)
Penulis: Deanita Nurkhalisa
Editor: Binti Q. Masruroh





