Infeksi COVID-19 pada kehamilan telah dikaitkan dengan dampak buruk pada ibu dan bayi baru lahir dibandingkan dengan wanita hamil normal. Data dari CDC juga menunjukkan bahwa wanita hamil memiliki peningkatan risiko penyakit parah terkait COVID-19 dibandingkan wanita tidak hamil. Hal ini mungkin disebabkan oleh perubahan fisiologis yang terjadi selama kehamilan, sehingga meningkatkan risiko ibu hamil terkena infeksi COVID-19 yang berat.
Namun demikian, sebagian besar pasien yang tiba di rumah sakit pada penelitian selama ini mayoritas tidak menunjukkan gejala dan ditangani dengan baik. Penelitian sebelumnya di RSUD Dr. Soetomo menunjukkan kondisi serupa, dengan hanya 10,1% kondisi COVID-19 parah yang dilaporkan pada kasus obstetri saat masuk rumah sakit.
Kondisi berbeda terjadi pada serangan COVID-19 gelombang kedua yang didominasi oleh mutasi variant Delta yang ternyata di beberapa negara lain meningkatkan derajat keparahan dan kematian pada Ibu hamil. Berdasar hal ini, tim peneliti dari Departemen Obstetri dan Ginekogi, Fakultas Kedokteran, 51动漫 melakukan riset untuk mendeskripsikan luaran kehamilan pada ibu hamil dengan COVID-19 pada gelombang kedua (yang berlum pernah dilaporkan sama sekali dari Indonesia) di RSUD Dr. Soetomo yang merupakan salah satu rumah sakit tersier di Indonesia, yang mungkin mewakili sejauh mana gangguan yang terjadi di negara dengan sumber daya terbatas.
Penelitian ini wanita pasca melahirkan yang terinfeksi COVID-19 selama kehamilannya pada periode serangan gelombang kedua COVID-19 (bulan Juni hingga Agustus 2021). COVID-19 didiagnosis menggunakan real-time polymerase chain reaction (PCR) menggunakan Abbott RealTime SARS-CoV-2. Seluruh pasien hamil yang menjalani triase dilakukan tes infeksi COVID-19 menggunakan swab nasofaring, baik dengan tes PCR maupun swab antigen.
Hasil penelitian ini menunjukkan selama gelombang kedua COVID-19 di Indonesia, total kasus COVID-19 dilaporkan sebanyak 184 kasus, dengan angka kematian yang tinggi (22%). Hanya 26,6% dari kasus tersebut menunjukkan gejala ringan, dan 73,4% sisanya memiliki kondisi yang lebih berat. Kelompok berat-kritis memiliki usia kehamilan yang jauh lebih rendah, timbulnya penyakit/gejala lebih lambat, dan proporsi kematian ibu lebih tinggi dibandingkan dua kelompok lainnya (p <0,001).
Gejala klinis, tanda-tanda vital, dan penanda inflamasi (NLR, CRP, dan prokalsitonin) juga secara signifikan lebih buruk pada kelompok dengan gejala berat-kritis dibandingkan kelompok lainnya (p <0,05). Akibatnya, kasus yang berat juga menunjukkan angka operasi caesar yang lebih tinggi (p = 0,034), berat badan lahir yang lebih rendah, skor Apgar yang lebih rendah, insiden kematian perinatal yang lebih tinggi (p <0,001), dan peningkatan kebutuhan bantuan resusitasi neonatal (p = 0,003).
Temuan pada studi ini sangat penting karena merupakan studi pertama yang mengkarakterisasi kondisi gelombang kedua pandemi COVID-19 pada layanan obstetrik di sebuah pusat layanan kesehatan besar di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini dapat secara akurat mewakili besarnya gangguan yang terjadi di suatu negara dengan sumber daya yang terbatas.
Sebagai kesimpulan, gelombang kedua COVID-19 yang didominasi oleh varian Delta meningkatkan morbiditas dan mortalitas ibu dan neonatal di Indonesia. Berlawanan dengan laporan selama gelombang pertama, sebagian besar kasus selama gelombang kedua memiliki derjat keparahan sedang hingga parah. Didapatkan juga tingkat kematian ibu yang lebih tinggi; gejala, tanda-tanda vital, penanda radang (NLR, CRP, dan procalcitonin) yang lebih buruk, dan pneumonia; kebutuhan yang lebih tinggi untuk dukungan oksigen; dan perawatan intensif untuk pasien dengan kondisi parah.
Usia kehamilan, berat lahir dan skor APGAR yang lebih rendah disertai insiden kematian neonatal yang lebih tinggi terjadi dalam kelompok dengan gejala berat-kritis. Penelitian ini menunjukkan perlu dilakukan suatu upaya perbaikan yang terfokus dalam menyiapkan kapasitas kesehatan kebidanan dan juga melakukan upaya pengendalian kurva pandemi untuk mengantisipasi semua kemungkinan pandemi lainnya di masa depan
Penulis:
Manggala Pasca Wardhana, Maria Celline Wijaya, Salsabila Nabilah Rifdah, Ifan Ali Wafa, Dahlia Ningrum, Erry Gumilar Dachlan.
Untuk informasi lebih lanjut bisa melalui link berikut:





