Di era digital ini, inklusi keuangan digital (IKD) muncul sebagai solusi yang menjanjikan untuk mengatasi masalah akses ke layanan keuangan, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Dengan meningkatnya penggunaan teknologi digital, inklusi keuangan dapat membuka peluang bagi masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki akses ke layanan keuangan formal. Namun, bagaimana sebenarnya IKD berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi berkelanjutan?
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh sekelompok akademisi dari beberapa universitas di Indonesia mencoba menjawab pertanyaan ini dengan menganalisis dampak IKD terhadap pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, yang diukur melalui pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dan emisi karbon dioksida (CO2) antara tahun 2011 dan 2020.
Temuan Utama
Penelitian ini menemukan bahwa IKD memiliki dampak positif yang signifikan terhadap pertumbuhan PDB. Menurut data yang dianalisis, peningkatan jumlah mesin ATM dan pemegang kartu debit berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi. Secara spesifik, peningkatan 1% dalam jumlah mesin ATM dikaitkan dengan kenaikan 0,037% dalam pertumbuhan PDB. Hal ini menunjukkan bahwa akses yang lebih baik ke layanan keuangan dapat mendorong peningkatan aktivitas ekonomi.
Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa peningkatan inklusi keuangan digital dapat meningkatkan emisi CO2. Aktivitas ekonomi yang meningkat dapat menyebabkan permintaan yang lebih tinggi terhadap produk dan layanan yang intensif energi, sehingga berpotensi merusak kualitas lingkungan. Ini menciptakan tantangan bagi Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, di mana pertumbuhan ekonomi tidak hanya diukur dari angka PDB, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan.
Implikasi Kebijakan
Temuan ini memiliki implikasi penting bagi pembuat kebijakan dan regulator. Untuk memastikan bahwa IKD berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, perlu ada upaya untuk mengurangi emisi CO2 yang dihasilkan dari aktivitas ekonomi yang meningkat. Regulasi yang lebih ketat terhadap industri yang berpotensi mencemari lingkungan, serta promosi teknologi hijau dan investasi dalam energi terbarukan, bisa menjadi langkah penting untuk mencapai tujuan ini.
Selain itu, pemerintah perlu meningkatkan literasi keuangan di kalangan masyarakat, terutama di daerah yang kurang terlayani, untuk memastikan bahwa semua lapisan masyarakat dapat memanfaatkan layanan keuangan digital secara maksimal. Ini juga mencakup peningkatan infrastruktur digital, seperti akses internet yang lebih baik, yang merupakan komponen kunci dari IKD.
Kesimpulan
Inklusi keuangan digital berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia, tetapi harus dilakukan dengan cara yang berkelanjutan. Penelitian ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan aspek lingkungan dalam setiap upaya pengembangan ekonomi. Dengan strategi yang tepat, IKD tidak hanya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi tetapi juga memastikan bahwa pertumbuhan tersebut tidak mengorbankan keberlanjutan lingkungan. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil menjadi krusial untuk menciptakan ekosistem yang mendukung inklusi keuangan digital yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Penulis: Sulistya Rusgianto, S.E., MIF., Ph.D
Referensi:
Ima Amaliah, Qaisar Ali, Oktofa Yudah Sudrajad, Sulistya Rusgianto, Harist Nu檓an, dan Tasya Aspiranti. (2024). Does digital financial inclusion forecast sustainable economic growth? Evidence from an emerging economy. Journal of Open Innovation: Technology, Market, and Complexity, 10(2), 100262.





