51动漫

51动漫 Official Website

Dukungan AI pada Literasi Digital di Indonesia dan Malaysia

Dukungan AI pada Literasi Digital di Indonesia dan Malaysia
Sumber: Kompas

Di era AI ini, berbagai profesi dan organisasi, termasuk pustakawan dan perpustakaan, akan terpengaruh secara langsung maupun tidak langsung dalam penggunaan AI. Artikel ini lebih banyak membahas bagaimana dukungan AI dari sudut pandangan pustakawan dalam membantu meningkatkan pengalaman belajar, pembelajaran sepanjang hayat, dan literasi digital di perpustakaan.

AI telah berkembang dari sekadar teori menjadi aplikasi praktis di berbagai bidang, termasuk ilmu perpustakaan. Sejak peluncuran model transformasional seperti ChatGPT (Lund dan Wang, 2023), perpustakaan semakin sering mengintegrasikan AI, mengadaptasi peran tradisional untuk menghadapi lanskap teknologi yang terus berkembang (Khanzode dan Sarode, 2020; Ali, Naem dan Bhatti, 2020; Omame dan Alex-Nmecha, 2020). Meskipun masih berada pada tahap awal dalam kurva adopsi AI, pustakawan di Malaysia dan Indonesia tidak terkecuali terpengaruh dalam perkembangannya (Harisanty, et. Al, 2024). Perpustakaan di kedua negara ini telah menyadari potensi transformasional AI, terutama dalam mendukung pengalaman belajar, pembelajaran sepanjang hayat, dan literasi digital. Namun, perspektif para pustakawan yang berinteraksi langsung dengan AI masih perlu dipahami lebih lanjut. Artikel ini mengeksplorasi pandangan pustakawan dari kedua negara, termasuk manfaat yang mereka rasakan, tantangan yang dihadapi, serta rekomendasi mereka untuk integrasi AI dalam layanan perpustakaan (Owolabi., et.al, 2022; Huang, 2024). Perbandingan ketiga hal tersebut yaitu pengalaman belajar, pembelajaran sepanjang hayat, dan literasi digital diukur dari penilaian pustakawan di Indonesia dan Malaysia dengan berbagai jenis perpustakaan sekolah, perpustakaan umum, perpustakaan perguruan tinggi dan perpustakaan khusus.

Malaysia dan Indonesia adalah dua negara tetangga yang terletak di Asia Selatan. Kedua negara ini memiliki kesamaan dalam berbagai aspek seperti faktor politik, ekonomi, teknologi, dan sosial (Maksum, 2022; Mahanani. Et al., 2022). Mengenai praktik yang ada di perpustakaan, ternyata pustakawan di Indonesia dan Malaysia juga terdapat kesamaan (Puspitasari. et al., 2015; Rusydiyah. at al., 2023). Oleh karena itu, ketika membahas perspektif pustakawan tentang dukungan AI terhadap pengalaman belajar, pembelajaran seumur hidup, dan literasi digital, apakah pustakawan di kedua negara tersebut memiliki pendapat dan pandangan yang sama atau tidak sama? Ini adalah pertanyaan menarik yang perlu dieksplorasi.

Dalam studi ini, dampak AI pada pembelajaran, pembelajaran sepanjang hayat, dan literasi digital menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Responden terdiri dari 71 pustakawan di Malaysia dan 96 di Indonesia, dari berbagai jenis perpustakaan umum, perguruan tinggi, perpustakaan sekolah dan perpustakaan khusus. Survei dilakukan secara daring menggunakan SurveyMonkey memungkinkan pengumpulan data yang efisien dari berbagai lokasi. Pengambilan sampel dilakukan acak berstrata (stratified random sampling) memastikan representasi dari setiap jenis perpustakaan.

AI dalam Perpustakaan

Banyak penelitian mengidentifikasi bagaimana cara AI dapat meningkatkan operasi perpustakaan, mulai dari pencarian informasi hingga otomatisasi tugas dan rekomendasi yang dipersonalisasi (Khanzode dan Sarode, 2020; Ali, Naem dan Bhatti, 2020; Omame dan Alex-Nmecha, 2020). Pada penelitian lain menunjukkan bahwa perpustakaan melihat AI sebagai jalan untuk meningkatkan efisiensi layanan dan kepuasan pengguna. Namun, meskipun ada temuan yang optimis, perjalanan integrasi AI menghadirkan sejumlah tantangan, terutama terkait kesiapan staf, infrastruktur, dan dukungan kelembagaan (Owate dan Ogonu, 2023).

Dampak praktis AI dari pandangan pustakawan terkait bagaimana mengelola interaksi dan dukungan pengguna. Studi terbaru menunjukkan bahwa pustakawan Malaysia dan Indonesia menilai AI secara positif, mengutip peningkatan efisiensi alur kerja dan keterlibatan pengguna (Owolabi et al, 2022; Lund et al., 2020; Andrew et al., 2021; Liu et al., 2024). Temuan ini mendukung pandangan bahwa AI dapat meningkatkan pengalaman perpustakaan secara signifikan ketika dikelola dengan benar, dengan memperbaiki akses informasi dan memfasilitasi pembelajaran yang dipersonalisasi (Chaoying, 2021; Rhanoui, et al., 2022; Nawaz dan Saldeen, 2020; Subaveerapandiyan, 2023).

Pengalaman Belajar

Fungsi utama perpustakaan adalah menciptakan lingkungan belajar yang mendukung. Para ahli mendefinisikan pengalaman belajar sebagai kombinasi dari dimensi intelektual, berbasis keterampilan, dan pertumbuhan pribadi, di mana perpustakaan menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk mendukung perkembangan ini (Adhiatma et al., 2022; Jahnke, 2023). Perpustakaan sering dianggap sebagai “rumah kedua” bagi para pembelajar, memperkuat perjalanan pendidikan mereka (Davis, 2023). AI menawarkan sumber daya yang dipersonalisasi, mendorong pembelajaran mandiri, dan meningkatkan aksesibilitas (Masrek, et al., 2024).

Pustakawan di kedua negara mencatat bahwa AI efektif dalam menyesuaikan pengalaman belajar sesuai kebutuhan individu. Responden survei menyoroti peran AI dalam meningkatkan keterlibatan dengan sumber daya dan pemahaman melalui mekanisme umpan balik (Pratama, et al., 2023; Elhossiny, et al., 2022; Araque, et al., 2023). Penelitian di kedua negara menunjukkan bahwa kemampuan AI untuk mempersonalisasi dan memfasilitasi keterlibatan menjadikannya alat yang kuat untuk mendukung berbagai gaya belajar, yang bermanfaat bagi pengguna dari latar belakang dan minat yang berbeda.

Pembelajaran Sepanjang Hayat

Pembelajaran sepanjang hayat adalah pencarian pengetahuan yang terus-menerus di luar pendidikan formal, dan perpustakaan mendukung model ini (Padilha, et al., 2020; Gannaway dan Lodge, 2023). AI di perpustakaan mendorong pembelajaran ini dengan menyediakan sumber daya adaptif yang memenuhi kebutuhan pengguna yang berkembang (Addai-Wireko, et al., 2020). Pustakawan Malaysia dan Indonesia menyatakan bahwa alat AI meningkatkan kemandirian, memungkinkan pengguna mengeksplorasi bidang minat baru sambil menciptakan rasa komunitas dalam ruang perpustakaan (Masrek, et al., 2024; Pratama, et al., 2023; Elhossiny, et al., 2022; Araque, et al., 2023; Padilha, et al., 2020; Gannaway dan Lodge, 2023; Addai-Wireko, et al., 2020; Abumandour, 2020). Alat berbasis AI yang memungkinkan pengguna mengarahkan sendiri pembelajaran mereka sangat penting, karena memberdayakan mereka untuk terus mencari informasi baru dan memperluas pengetahuan. Studi menunjukkan bahwa AI meningkatkan motivasi pengguna untuk belajar sepanjang hayat, menjadikan perpustakaan sebagai bagian integral dari perjalanan pendidikan mandiri mereka (Ogata, et al., 2024; Panda dan Chakravarty, 2022; Koravuna dan Surepally, 2020; Sabbah dan Sabbah, 2023). Dengan mendukung tujuan ini, perpustakaan di kedua negara memajukan model pendidikan di luar kelas, membantu pengguna mengembangkan keterampilan yang penting di dunia teknologi yang bergerak cepat.

Literasi Digital

Kemampuan literasi digital dalam mengakses, menganalisis, dan menggunakan informasi digital sangat penting dalam masyarakat informasi saat ini (Pangrazio, et al., 2020; Yildiz, 2020; Fallon, 2020; Barrie, et al., 2021). Perpustakaan berperan penting dalam meningkatkan literasi digital dengan menyediakan akses ke sumber daya digital dan membimbing pengguna dalam interaksi digital yang aman dan terinformasi. Hasil penelitian tentang AI menunjukkan bahwa pustakawan terbantu dengan AI untuk meningkatkan keterampilan pengguna dalam menavigasi konten digital, mengevaluasi informasi secara kritis, dan memahami privasi serta keamanan daring (Masrek, et al., 2024; Barrie, et al., 2021; Johnston, 2020). Pustakawan Malaysia dan Indonesia mengamati bahwa AI mampu meningkatkan literasi digital dengan memberikan rekomendasi yang disesuaikan dan mendukung kompetensi digital pengguna melalui alat interaktif (Panda dan Chakravarty, 2022; Koravuna dan Surepally, 2020; Sabbah dan Sabbah, 2023; Sari dan Alfiyan, 2023). Kontribusi AI pada literasi digital melampaui keterampilan dasar, memberdayakan pengguna untuk berinteraksi dengan konten secara kritis dan aman, menciptakan masyarakat yang berpengetahuan luas, dan berkontribusi pada kewarganegaraan digital yang bertanggung jawab.

Pada artikel ini ditemukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam penilaian pustakawan dari Indonesia maupun Malaysia secara empiris mengenai dukungan AI di perpustakaan, terhadap pengalaman belajar, pembelajaran seumur hidup, dan literasi digital. Jadi Perpustakaan di Malaysia dan Indonesia memiliki penilaian yang hampir sama terhadap ketiga aspek ini. Dengan adanya temuan ini, ada beberapa implikasi yang dapat diamati. Dari perspektif empiris, penelitian ini memberikan bukti mengenai dukungan yang dirasakan dari AI untuk perpustakaan. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sebagian besar literatur yang dipublikasikan tentang manfaat dan kegunaan AI terdiri dari pendapat dan sudut pandang penulis, yang kurang memiliki dukungan empiris. Dari perspektif metodologis, penelitian ini telah mengembangkan skala untuk mengukur dukungan yang dirasakan dari AI terhadap pengalaman belajar, pembelajaran seumur hidup, dan literasi digital di perpustakaan. Ketiga variabel ini, bersama dengan skala, dapat digunakan oleh para peneliti untuk mempelajari aspek-aspek lain yang terkait dengan adopsi atau implementasi AI. Dari perspektif praktis, eksplorasi temuan studi ini menyoroti pentingnya berinvestasi dalam teknologi AI dan akan berguna bagi para pengambil keputusan dalam menentukan jenis AI yang harus mereka investasikan untuk perpustakaan mereka. Selain itu, studi ini menggarisbawahi perlunya evaluasi dan adaptasi yang berkelanjutan terhadap perangkat AI untuk memastikan bahwa perangkat tersebut dapat memenuhi kebutuhan pelanggan perpustakaan yang terus berkembang.

Penulis: Fitri Mutia, A.KS., M.Si

Link:

Baca juga: Peningkatan Kemampuan Literasi Dini Melalui Program Intervensi Multisensori

AKSES CEPAT