Emisi karbon dioksida (CO2) di negara-negara berkembang Asia meningkat hampir 400% dari tahun 1990 hingga 2019. Kenaikan tersebut kemungkinan didorong oleh kegiatan ekonomi yang berkembang pesat, populasi yang semakin meningkat, dan konsumsi energi yang tumbuh dengan cepat. Sebagian besar bukti menunjukkan adanya dampak negatif yang ditimbulkan oleh pertumbuhan ekonomi terhadap kelestarian lingkungan. Hal ini disebabkan karena lonjakan emisi karbon di China, Asia Selatan, dan negara besar lainnya terjadi secara bersamaan dengan tingginya tingkat konsumsi energi.
Namun, diyakini bahwa saat ini negara-negara berkembang di Asia mulai beralih ke produksi sumber energi terbarukan yang lebih besar. Menurut Badan Energi Internasional (IEA, Paris, Prancis), total konsumsi energi terbarukan di Asia (tidak termasuk China) meningkat dari 85 GWh pada tahun 1990 menjadi 63.119 GWh pada tahun 2019. Hal ini mengindikasikan bahwa telah terjadi pergeseran menuju sumber daya terbarukan, meskipun banyak negara termasuk Cina, Indonesia, Pakistan, Thailand, Malaysia, dan India masih mengandalkan sumber daya yang tidak terbarukan. Selain sumber daya, beberapa negara tersebut juga tergolong tertinggal dalam hal inovasi teknologi, penggunaan energi alternatif, tata pemerintahan yang baik, dan pengembangan sumber daya manusia.
Penggunaan teknologi inovatif dan energi terbarukan, perkembangan sumber daya manusia, serta tingkat korupsi merupakan faktor yang dapat mempengaruhi kualitas lingkungan di kawasan Asia. Selain itu, kualitas lingkungan juga dapat dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk, aktivitas industri, dan tata kelola publik yang buruk. Faktor-faktor ini sangat penting dalam mendukung kelestarian lingkungan. Namun belum banyak penelitian yang mengungkap adanya dampak yang jelas dari faktor-faktor tersebut terhadap kelestarian lingkungan. Negara-negara berkembang di Asia memiliki cadangan sumber daya alam yang besar dan dapat berdampak terhadap lingkungan jika tidak dikelola dengan tepat seperti yang ditunjukkan pada kasus di negara-negara berkembang lainnya.
Baru baru ini, beberapa peneliti di lingkungan 51动漫 (Indonesia), National Institute of Technology Rourkela (India), dan Universidad Panamericana (Meksiko) melakukan sebuah studi yang bertujuan untuk menguji hubungan antara emisi CO2 dengan inovasi teknologi, penggunaan energi terbarukan, pengembangan sumber daya manusia, dan kualitas kelembagaan di negara-negara berkembang Asia. Negara-negara tersebut antara lain China, Korea Selatan, India, Pakistan, Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Filipina yang dipelajari dari tahun 1990 hingga 2019 (30 tahun).
Dalam mengamati perkembangan kualitas lingkungan negara-negara berkembang, terdapat beberapa studi terdahulu yang menggunakan hipotesis Kuznets dalam analisisnya. Asumsi umum hipotesis Kuznets adalah bahwa pertumbuhan pendapatan mendorong permintaan energi, sehingga meningkatkan emisi CO2 dengan kecepatan tinggi hingga mencapai ambang batas tertentu. Ambang batas yang mengarah ke pemulihan bervariasi tergantung pada faktor yang berbeda, dengan beberapa negara mencapai ambang batas lebih cepat daripada yang lain. Pendekatan Kuznets mengidentifikasi bagaimana kegiatan ekonomi berdampak pada lingkungan dalam tiga saluran. Pertama melalui skala pertumbuhan ekonomi yang identik dengan permintaan energi yang lebih besar. Kedua, komposisi adopsi energi terbarukan dan tak terbarukan. Ketiga adalah pilihan teknologi.
Di negara-negara berkembang Asia, peningkatan emisi CO2 yang disebabkan oleh penambahan permintaan energi dan penggunaan sumber daya energi yang tidak berkelanjutan secara intensif, mampu diatasi dengan adanya teknologi hijau. Penerapan teknologi yang lebih hijau telah menurunkan tingkat emisi di negara-negara berkembang Asia, meskipun tidak serendah di negara-negara maju. Pergeseran ke sumber yang lebih terbarukan juga dapat menurunkan emisi CO2 seperti yang didukung di negara-negara G7, negara ekonomi besar termasuk China dan beberapa negara berkembang lainnya. Namun, tidak demikian halnya di negara-negara Asia lainnya seperti India, Pakistan, dan Bangladesh. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah mengadopsi teknologi terbarukan pada skala yang lebih besar dapat memberikan dampak positif terhadap kelestarian lingkungan di negara-negara berkembang Asia.
Sementara itu, teknologi inovatif telah terbukti secara efektif mampu memperbaiki lingkungan di banyak negara dan kawasan ekonomi, termasuk negara-negara Brasil, APEC, G7, dan BRICS. Hal ini karena teknologi inovatif dapat membuat pembangkit listrik dan penggunaan energi menjadi lebih efisien. Teknologi inovatif juga dapat mengatur eksplorasi sumber daya alam dan memfasilitasi pemantauan tata kelola sehingga dapat mengarah pada kondisi lingkungan yang lebih baik. Tata kelola yang baik dan pengembangan sumber daya manusia juga mengurangi emisi CO2. Di sisi lain, tingkat korupsi di suatu negara dapat menghambat pelaksanaan program keberlanjutan. Korupsi juga dapat menurunkan dampak program inovatif dan kebijakan lain untuk memperbaiki lingkungan. Studi terdahulu yang mencakup Cina, India, dan negara berkembang lainnya cenderung mendukung bahwa perbaikan tata kelola dapat mengurangi konsumsi energi. Dalam kasus kekayaan sumber daya alam, negara maju dengan sumber daya alam yang melimpah namun memiliki tata kelola yang buruk cenderung merusak lingkungan karena mengeluarkan lebih banyak CO2. Oleh karena itu, pengendalian korupsi diperlukan untuk mencegah eksploitasi sumber daya alam dan mengurangi jejak karbon.
Temuan dari studi yang dilakukan oleh peneliti 51动漫 menunjukkan bahwa peningkatan inovasi teknologi energi tak terbarukan dapat membantu menurunkan emisi karbon. Demikian pula dengan peningkatan pengembangan sumber daya manusia dan pembentukan modal yang lebih besar, dapat memfasilitasi pencapaian target kelestarian lingkungan. Selain itu, meningkatkan penggunaan energi terbarukan dapat membantu menurunkan emisi, yang menunjukkan bahwa pemerintah harus terus beralih ke sumber energi hijau. Sementara itu, studi menemukan bahwa perkembangan teknologi, tidak selalu berkaitan dengan kualitas lingkungan yang lebih baik. Oleh karena itu, pemerintah dapat berfokus pada investasi R&D untuk meningkatkan efektivitas inovasi teknologi dalam mendapatkan efek ganda; pertumbuhan ekonomi dengan kualitas lingkungan. Namun di sisi lain, pertumbuhan ekonomi yang cepat, kepadatan penduduk yang lebih besar, dan peningkatan konsumsi energi dapat mendorong peningkatan emisi CO2 di negara-negara berkembang Asia.
Berdasarkan hal tersebut, studi ini menyimpulkan bahwa investasi dalam sumber daya manusia, peningkatan inovasi teknologi dalam produksi energi, dan peralihan ke energi terbarukan perlu berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan.
Penggunaan energi yang lebih hijau dan peningkatan tata kelola yang baik juga dapat membantu menurunkan emisi. Studi ini juga mengamati bahwa ekstraksi sumber daya alam juga dapat menyebabkan lebih banyak jejak karbon. Negara-negara Asia yang kaya akan sumber daya alam, perlu mempertimbangkan kembali kebijakan menuju pengelolaan sumber daya alam yang lebih berkelanjutan karena hal ini terkait erat dengan emisi CO2.
Studi ini dengan optimis menyimpulkan bahwa ada peluang untuk mengurangi emisi CO2 melalui tiga saluran yang terungkap dalam hipotesis Kuznets, antara lain 1) skala konsumsi, 2) komposisi energi, dan 3) pilihan teknologi. Pembuat kebijakan Asia juga perlu mempertimbangkan kebijakan yang berfokus pada modal manusia dan investasi R&D untuk meningkatkan efektivitas inovasi teknologi. Lebih banyak perhatian yang diberikan untuk meningkatkan investasi terhadap pembangunan sumber daya manusia dan teknologi tinggi yang efisien dalam pembangkitan, distribusi, dan penggunaan daya dapat membantu menurunkan emisi CO2. Migrasi ke konsumsi energi yang lebih ramah lingkungan juga dapat membantu meningkatkan kualitas lingkungan, meskipun perlu memilih teknologi yang tepat untuk menghasilkan energi bersih.
Penulis: Miguel Angel Esquivias Padilla
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, 51动漫
Link Paper: Esquivias, M.A.; Sugiharti, L.; Rohmawati, H.; Rojas, O.; Sethi, N. Nexus between Technological Innovation, Renewable Energy, and Human Capital on the Environmental Sustainability in Emerging Asian Economies: A Panel Quantile Regression Approach.听Energies听2022,听15, 2451.





