Selama 25 tahun terakhir, Indonesia telah terlibat dalam sejumlah perjanjian perdagangan bebas pada tingkat multilateral, regional, dan bilateral. Meskipun Indonesia termasuk negara yang relatif terlambat dalam perjanjian perdagangan bebas (FTA), pada tahun 2018, Indonesia terlibat dalam FTA dengan 19 negara, dan saat ini memiliki 23 perjanjian regional dan bilateral lainnya baik yang diusulkan maupun dalam konsultasi atau negosiasi. Upaya liberalisasi perdagangan di dalam negeri dilakukan melalui penurunan tarif, pengurangan pajak dan subsidi ekspor, penghapusan hambatan non-tarif (NTBs), dan penerapan langkah-langkah fasilitasi perdagangan. Akibatnya, rata-rata tarif di Indonesia turun dari 27% pada tahun 1986 menjadi 2% pada tahun 2020.
Penandatanganan kesepakatan perdagangan bebas disertai dengan penciptaan perdagangan atau efek pengalihan perdagangan. Penciptaan perdagangan melibatkan penggantian barang yang awalnya bersumber dari negara non-mitra, dengan produk yang bersumber dari anggota perjanjian kerja sama. Di sisi lain, FTA dapat menyebabkan pengalihan perdagangan jika barang-barang dari luar kawasan menggantikan produk dari anggota mitra. Umumnya, realisasi perjanjian perdagangan bebas dapat menciptakan baik efek penciptaan perdagangan maupun efek pengalihan. Pertanyaannya adalah efek mana yang lebih besar (penciptaan atau penyimpangan perdagangan) dan apakah kawasan perdagangan bebas menguntungkan Indonesia?
Untuk melihat dampak Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) untuk kasus Indonesia menarik. Pertama, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk, ekonomi, dan wilayah terbesar di antara anggota ASEAN. Kedua, studi sebelumnya menunjukkan bahwa meningkatnya liberalisasi perdagangan di Indonesia disertai dengan meningkatnya persaingan dari mitra regional (ASEAN dan Asia), yaitu Thailand, Vietnam, Cina, dan India. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah perluasan perjanjian menghasilkan perdagangan yang lebih besar dan akses yang lebih mudah ke pasar bagi Indonesia, atau justru membuat persaingan semakin ketat. Ketiga, Indonesia menghasilkan banyak produk yang berkaitan dengan sumber daya alam dan memiliki banyak barang ekspor dari manufaktur padat karya. Namun, Indonesia tertinggal dalam ekspor manufaktur teknologi maju. Oleh karena itu, perlu ditelusuri apakah integrasi pasar mengarah pada penciptaan perdagangan atau pengalihan perdagangan.
Dalam makalah yang diterbitkan di Jurnal Economies, peneliti dari 51动漫 menggunakan dua pendekatan untuk menilai dampak perjanjian perdagangan bebas bagi Indonesia dan mitra dagang. Pertama, peneliti menerapkan model gravitasi yang memperkirakan sejauh mana penandatanganan perjanjian mempercepat perdagangan intra-regional. Kedua, mereka (peneliti) mengukur keunggulan komparatif (RCA) dan indeks neraca perdagangan (TBI) dari 5.100 produk untuk mengidentifikasi tren ekspor di antara mitra dagang. Melalui indeks RCA dan TBI peneliti melihat produk mana yang tetap menjadi juara ekspor, produk mana yang kalah saing, dan produk baru mana yang muncul sebagai akibat dari perjanjian perdagangan baru. Menariknya, studi tersebut memetakan pergerakan semua produk untuk semua negara yang memungkinkan untuk melihat siapa yang diuntungkan dan siapa yang terpengaruh negatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa barang manufaktur, produk berteknologi menengah, barang berteknologi rendah, dan produk primer mengalami efek penciptaan perdagangan yang berasal dari pelaksanaan perjanjian FTA regional. Dengan kata lain, penandatanganan perjanjian perdagangan bebas mendorong ekspansi perdagangan regional yang lebih cepat. Perdagangan regional berkembang lebih cepat daripada perdagangan dengan wilayah lain di dunia yang tidak memiliki perjanjian perdagangan bebas. Sebaliknya, perdagangan dalam barang berteknologi tinggi dan produk berbasis sumber daya alam mengalami pengalihan perdagangan. Pengalihan perdagangan menunjukkan bahwa penandatanganan perjanjian perdagangan bebas mengakibatkan penggantian barang yang semula diproduksi oleh mitra dagang menjadi barang impor dari wilayah lain.
Selanjutnya, studi menemukan bahwa biaya transportasi sangat mempengaruhi ekspor barang berteknologi menengah, produk berbasis sumber daya alam, dan produk primer. Logistik merupakan penentu penting bagi perdagangan di negara-negara ASEAN. Sistem transportasi yang lebih efisien diperlukan jika mitra Asia mencari perbaikan dalam perdagangan regional. Temuan ini sangat penting bagi Indonesia karena sebagian besar ekspornya termasuk dalam kelompok produk tersebut. Namun, perdagangan di pasar ASEAN Plus Six tampaknya terus berkembang seiring dengan meningkatnya pendapatan dan populasi yang mendorong aktivitas perdagangan. Temuan ini menunjukkan bahwa prospek ekspansi ekspor sangat bagus untuk ASEAN karena semua anggota meningkatkan kemampuan pembelian.
Kedua, studi ini memetakan lebih dari 5.100 barang berdasarkan keunggulan komparatif RCA dan indeks neraca perdagangan (TBI) untuk menemukan pola persaingan dan peluang lebih lanjut untuk memperluas perdagangan dengan mitra strategis. Beberapa kesimpulan dapat dikemukakan.
Pertama, banyaknya perjanjian perdagangan yang ditandatangani oleh Indonesia mendukung pesatnya ekspansi perdagangan, karena sebagian besar keuntungan perdagangan terjadi dengan mitra regional. Kedua, mitra dagang juga mengalami ekspansi perdagangan yang besar dan mendapatkan keuntungan dari pasar yang besar di Indonesia. Ketiga, pertumbuhan ekspor Indonesia ditopang oleh sektor sumber daya alam dan produk primer. Keempat, pembukaan pasar telah berkontribusi pada lingkungan yang lebih kompetitif bagi industri tradisional Indonesia (antara lain tekstil, alas kaki, dan kayu). Namun demikian, negara-negara dengan pola ekspor yang sama dengan Indonesia diuntungkan dari pembukaan pasar (China, Vietnam, dan Thailand). Kelima, sektor tulang punggung Indonesia (sektor paling kompetitif) menyumbang hampir 65% dari total ekspor.
Namun, 394 komoditas kalah saing dalam ekspor di Indonesia, sedangkan 248 produk baru memperoleh daya saing. Keenam, Indonesia mengembangkan keunggulan dalam sektor-sektor baru (yaitu, transportasi) tetapi kalah di sektor-sektor yang berkembang pesat di Asia (yaitu, mesin dan peralatan listrik). Dengan demikian, Indonesia kehilangan satu dekade ekspansi besar-besaran dalam jaringan produksi di Asia di bidang elektronik, masin, dan peralatan elektrik. Ketujuh, meskipun lanskap persaingan di ASEAN semakin agresif, namun potensi perluasan perdagangan bagi Indonesia cukup besar, karena lebih dari 50% barang unggul di Indonesia menikmati keunggulan di bidang-bidang di mana negara-negara mitra dagang tidak dimiliki.
Penulis: Miguel Angel Esquivias Padilla
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, 51动漫
Link Paper: Purwono, Rudi, Lilik Sugiharti, Rossanto D. Handoyo, and Miguel A. Esquivias. 2022. “Trade Liberalization and Comparative Advantage: Evidence from Indonesia and Asian Trade Partners” Economies 10, no. 4: 80. https://doi.org/10.3390/economies10040080





