51动漫

51动漫 Official Website

Dampak Kecemasan terhadap Kesejahteraan Spiritual Lansia dengan Hipertensi

Foto by NHS

Selama pandemi Covid-19, lansia cenderung merasakan ansietas   yang berlebihan karena termasuk golongan yang memiliki resiko tinggi terserang penyakit, terutama penyakit hipertensi. Penderita mengetahui kalau terkena hipertensi setelah memeriksakan tekanan darahnya sehingga penyakit ini dikategorikan sebagai the silent disease. WHO (2014) menyatakan hipertensi adalah penyakit nomor satu penyebab kematian tertinggi di dunia, semakin bertambahnya umur seseorang maka akan berisiko terkena hipertensi. Jumlah penderita hipertensi  hampir 1 milyar penduduk di dunia. Sekitar 972 juta orang (26.4%) mengidap hipertensi, angka ini kemungkinan meningkat menjadi 29.2% ditahun 2025 nanti. Sekitar 333 juta (34.2%) berada di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Gangguan kecemasan merupakan gangguan mental terbesar dan diperkirakan 284 juta dari total populasi dunia menderita gangguan kecemasan, gangguan kecemasan lebih banyak dialami oleh perempuan sebesar 4,7% dan laki-laki sebesar 2,8% (WHO, 2017). Sebanyak 卤14 juta orang (6%) dari jumlah penduduk Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas menderita gangguan mental emosional yang diperlihatkan melalui gejala kecemasan dan depresi (Kementrian Kesehatan RI, 2013).

Selama pandemi covid-19, lansia yang mempunyai komorbid hipertensi akan mengalami kecemasan fisik dan pisokologi. Dampak dari kecemasan fisik adalah peningkatan tekanan darah, denyut nadi dan respirasi; kecemasan psikologis yaitu insomnia, kontak mata kurang, iritabilitas, takut, nyeri perut, diare, mual, kelelahan, gangguan tidur, gemetar, anoreksia, mulut kering; kecemasan interpersonal yaitu bloking dalam pembicaraan dan sulit berkonsentrasi (Baroroh, 2011). Lansia yang mengalami kecemasan berdampak pada kesejahteraan psikologisnya. Kesejahteraan psikologis meliputi pengaruh, pemenuhan, stres dan keadaan mental, harga diri, status dan rasa hormat, keyakinan agama dan seksualitas. Faktor psikologis merupakan faktor penting bagi individu untuk melakukan kontrol terhadap semua kejadian yang dialaminya dalam hidup.

Dalam suasana hati yang sedih, takut dan cemas, religuisitas dan spiritualitas menjadi pegangan hidup, praktik keagamaan menjadi akitivitas dalam keseharian  Hal ini merupakan langkah mendekatkan diri kepada Tuhan yang berdampak pada pemaknaan pengalaman sakit. Spiritual well-being atau kesejahteraan spiritual adalah salah satu faktor yang menunjukkan bagaimana seorang lansia dapat menghadapi permasalahan dan stress dalam hidupnya seperti adanya penyakit degeneratif dan permasalahan lain yang muncul akibat perubahan-perubahan dalam dimensi kehidupan lansia, keadaan yang muncul atau timbul dari sebuah keadaan kesehatan spiritual atau bisa timbul dari ekspresi kesehatan yang baik, indikasi kualitas hidup seseorang dalam lingkup spiritual.

Ada hubungan antara agama dan kesehatan yang dinyatakan bahwa secara keseluruhan kesejahteraan seseorang dapat ditingkatkan oleh keyakinan dan praktik agama (Mahjabeen Ahmad, 2015). Meskipun sakit, kesepian, depresi, cemas lansia umumnya akan menemukan makna dan dukungan dari kehidupan rohani. Agama dan spiritualitas memiliki  pengaruh dalam meningkatkan kesejahteraan lansia. Agama berkaitan dengan praktik, ritual dan tata cara ibadah sedangkan spiritualitas berkaitan dengan pencarian makna hidup dan tujuan hidup dan berhubungan dengan kekuatan yang lebih tinggi (Ahmad, M., & Khan, 2016). Hal ini juga menunjukkan hubungan antara spiritual, agama, dan iman menuju hidup sehat. Tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengurangi ansietas pada penderita hipertensi yaitu dengan dilakukan intervensi berupa pengobatan medis juga dapat dilakukan dengan intervensi keperawatan berupa edukasi spiritual  kepada penderita hipertensi untuk lebih mendekatkan diri dengan Tuhanya. Adanya studi menjelaskan bahwa kesehatan spiritual lansia terhadap kesiapan menghadapi kematian akibat penyakit hipertensi dipengaruhi oleh makna hidup, konsep agama dan ketuhanan, interaksi sosial, konsep sakit sehat, kesejahteraan dan spiritualitas serta kematian itu sendiri.

Kecemasan yang sering dialami lansia dapat diturunkan apabila lansia lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya agar tercapai kesejahteraan spiritual yang hakiki. Domain spiritual berfokus pada pencarian makna dan transenden yang dapat meningkatkan kondisi kesehatan. Penguatan aspek spiritualitas pada lansia sangat penting sebab dapat membuat lansia lebih siap dan kuat menerima dan menghadapi penyakit mereka, kehilangan akibat kematian saudara dan kerabat terdekat, maupun perubahan kehidupan sosial mereka. Ketika menua, lansia akan berhadapan dengan banyak perubahan dalam hidup mereka, baik secara fisik maupun dari segi kemampuan kognitif maupun lingkungan mereka. Hal ini sering kali membuat lansia merasa kesepian, terasing, dan tidak mampu.

Lansia menjadi lebih tertarik pada agama dan mereka menjadi lebih religius    dan tingkat spiritualitas menjadi tinggi. Seseorang yang mampu mencapai kenyamanan spiritual atau kesejahteraan spiritual akan memperoleh ketenangan pikiran. Kedamaian jiwa dapat menurunkan tingkat stres sehingga homeostasis tubuh akan lebih terjaga. Keyakinan spiritual membantu individu menciptakan ikatan emosional yang dapat meningkatkan kepuasan perkawinan, spiritualitas membantu mengenali diri sendiri, mengembangkan emosi positif dan puas dengan kehidupan yang dijalani.

Penulis: Dr. Iswatun, S.Kep.Ns., M.Kes

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

DOI :

AKSES CEPAT