Sejumlah penelitian telah menggarisbawahi kompleksitas penularan demam Lassa, dengan penelitian awal oleh McCormick dkk. (1987) memberikan pemahaman mendasar tentang bagaimana penyakit ini yakni menyebar dari hewan pengerat ke manusia. Penelitian ini, yang menekankan bahaya kotoran hewan pengerat dan lingkungan yang terkontaminasi, membuka jalan bagi eksplorasi lebih lanjut. Anderson dan May [2] membangun fondasi ini, mengembangkan kerangka kerja komprehensif untuk memodelkan penyakit menular, termasuk demam Lassa, dan menekankan pentingnya mengintegrasikan faktor-faktor lingkungan untuk memprediksi wabah secara akurat.
Klempner dkk. (2020) telah mengkaji pengaruh perubahan iklim dan faktor lingkungan terhadap penyebaran demam Lassa, menggunakan model untuk memprediksi perubahan dinamika penularan akibat perubahan kondisi lingkungan. Keeling dan Rohani (2008) telah menyumbangkan model yang mengintegrasikan faktor ekologi dan lingkungan ke dalam pemahaman penularan penyakit zoonosis, sehingga memberikan konteks yang lebih luas untuk penyebaran demam Lassa. Plowright dkk. (2017) juga telah membahas bagaimana kontaminasi lingkungan dapat memicu peristiwa spillover dari hewan ke manusia, dengan fokus khusus pada demam Lassa di Afrika Barat.
Studi ini mengkaji bagaimana polusi lingkungan memengaruhi dinamika penularan demam Lassa melalui kerangka kerja pemodelan matematika. Sebuah model SEQIR-SEI-C yang baru dikembangkan untuk menggabungkan populasi manusia dan hewan pengerat serta kontaminasi lingkungan sebagai faktor penularan utama. Model tersebut dianalisis untuk memahami pengaruh parameter-parameter utama model, seperti tingkat karantina, demografi hewan pengerat, dan pembersihan kontaminasi, terhadap dinamika penyebaran penyakit. Studi ini menyoroti pentingnya pengendalian kontaminasi lingkungan dan karantina individu yang terinfeksi untuk memitigasi wabah demam Lassa. Simulasi numerik menunjukkan bahwa mengurangi tingkat penularan dari permukaan yang terkontaminasi dan meningkatkan pembersihan lingkungan dapat menurunkan tingkat infeksi secara signifikan. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya praktik kebersihan, pengendalian populasi hewan pengerat, dan strategi karantina yang efektif dalam mengurangi endemisitas penyakit. Penelitian ini menyediakan kerangka kerja yang komprehensif bagi para pembuat kebijakan untuk merancang intervensi yang tepat sasaran guna mengelola wabah demam Lassa.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Authors: C.E. Madubueze, S. Ajao, J.O. Akanni, Fatmawati, Z. Chazuka
Title: Impact of environmental contamination on Lassa fever transmission dynamics: a mathematical modelling approach





