Kebencanaan merata di mana-mana, terutama ketika telah menghadapi musim kemarau yang berkepanjangan. Ini menjadi pemicu sering terjadinya bencana seperti kebakaran. Kebakaran sendiri kerap menjadi sorotan karena liputannya yang intens dan perhatian masyarakat yang terus menguat. Di Indonesia, sebagai negara rentan terhadap bencana, kita sering kali harus menghadapi berbagai konsekuensi dari bencana tersebut (Alhadi & Sasmita, 2014). Dampaknya tak hanya pada tingkat kerugian negara, tetapi juga merusak infrastruktur serta berdampak pada kehilangan nyawa. Hal ini menunjukkan besarnya risiko dan urgensi perlunya kesiapsiagaan yang lebih kuat dalam mengatasi ancaman kebakaran ini. Kesiapsiagaan bencana berkaitan dengan suatu langkah yang digunakan untuk mempersiapkan serta mengurangi dampak bencana, dalam hal ini dapat diartikan bahwa kesiapsiagaan adalah upaya untuk mencegah dan memitigasi dampak terhadap kerentanan objek dan mengatasi konsekuensi secara lebih efektif.
Selain menjadi ancaman yang cukup serius, permasalahan kebakaran juga berpotensi untuk merusak puluhan bangunan masyarakat serta fasilitas milik negara, seperti fasilitas pendidikan yang ada di perpustakaan (BNPB, 2021). Perpustakaan, sebagai salah satu bangunan yang rawan terkena kebakaran, memiliki risiko yang tinggi karena koleksinya yang mayoritas terbuat dari bahan kertas, yang rentan terhadap api. Penggunaan material kayu pun sebagai fasilitas penyimpanan koleksi juga menjadi salah satu masalah saat bencana kebakaran terjadi. Selain itu, sejumlah faktor lainnya seperti korsleting listrik atau arus pendek, serta kurangnya perencanaan dan pembangunan pada gedung perpustakaan yang masih tidak memperhatikan aksesibilitas alat pemadam kebakaran, ini juga dapat menjadi pemicu terjadinya kebakaran (Fadhli, 2019). Keadaan ini pun bisa mempersulit petugas atau pustakawan dalam menangani keadaan darurat saat kebakaran terjadi. Ini menunjukkan pentingnya untuk lebih memperhatikan perencanaan dan perlindungan terhadap pusat informasi seperti perpustakaan dari ancaman kebakaran.
Fenomena kebakaran pernah terjadi di diberbagai perpustakaan, seperti pada tahun 1988 terdapat fenomena kebakaran yang dialami oleh Perpustakaan Akademik Sains yang terletak di St, Petersburg yang mengakibatkan perpustakaan kehilangan 300.000 buku dan 3,6 juta volume yang mengalami kerusakan (Ugwuanyi, et al., 2015). Tidak hanya itu saja kebakaran juga pernah terjadi di Indonesia tepatnya di Kota Surabaya yang berada di Perpustakaan Universitas Negeri Surabaya, tepatnya terjadi di ruang baca koleksi dan ruang microteaching dari gedung A1 Fakultas Teknik (Utomo, 2018) dan Kebakaran juga pernah terjadi di Perpustakaan 51动漫, tepatnya di Perpustakaan kampus A yang mengakibatkan 3 komputer, 1 meja administrasi dan AC mengalami kerusakan, sehingga kebakaran tersebut segera ditangani oleh para pustakawan menggunakan Alat Pemadam Kebakaran Ringan (Sari & Fitrida, 2021).
Bencana kebakaran yang terjadi di perpustakaan memang sudah menjadi keharusan untuk lebih diperhatikan lagi, sehingga langkah awal untuk dapat meminimalisir dampak bencana yaitu dengan dengan meningkatkan kemampuan literasi akan kebencanaan (Marlyono et al., 2016). Literasi bencana sering disebut sebagai upaya penyadaran bagi masyarakat saat terjadi bencana. Sehingga literasi bencana akan membentuk individu untuk selalu siap siaga dalam menghadapi bencana. Literasi bencana yang dikemas sangat baik akan menjadi langkah yang penting untuk dapat mengurangi dampak terjadinya bencana kebakaran. Pentingnya literasi ini agar para pustakawan dapat menganalisis dan mengolah resiko yang timbul ketika bencana itu terjadi (Widyaningrum, 2018). Ini juga bertujuan agar setiap pustakawan selalu waspada dan selalu siap siaga jika bencana datang dengan tiba-tiba. Kesiapsiagaan bencana sebagai garis pertahan pertama dapat memandu para pustakawan mengenai apa yang harus dilakukan jika mengalami kondisi kritis, sehingga dengan begitu juga dapat meminimalisir dampak bencana dna memaksimalkan efisiensi dalam mengendalikannya (Superio et al.,2019).
Dengan melihat kondisi Negara Indonesia, khususnya Surabaya yang memiliki beberapa wilayah yang berpotensi mengalami bencana, maka penelitian ini berfokus untuk mengetahui pengaruh literasi bencana terhadap kesiapsiagaan pustakawan dalam menghadapi bencana kebakaran yang ada di Perpustakaan di Surabaya, serta untuk melihat seberapa besar pengaruh tersebut. Teori yang digunakan untuk mengkaji penelitian ini yaitu literasi bencana yang ditulis oleh Olowoporoku pada tahun 2017. Teori ini mendefinisikan bahwa literasi bencana mengacu pada beberapa kemampuan yang dimiliki seperti Mengidentifikasi (Identify), Memahami (Understand), Menafsirkan (Interpret), dan Mengkomunikasikan (Communicate) informasi bencana. Kemudian juga menggunakan 5 parameter Kesiapsiagaan Bencana oleh LIPI-UNESCO/ISDR seperti Pengetahuan dan sikap (Knowledge and Attitude), Kebijakan dan Panduan (Policies and Guidelines), Rencana untuk Keadaan Darurat (Plant for Emergencies), Sistem Peringatan Bencana (Disaster Warning System), Mobilisasi Sumber Daya (Resource Mobilization).
Literasi Bencana dianggap sebagai faktor pendukung yang memiliki peran dalam keberhasilan seseorang dalam menghadapi tantangan bencana (Mufit et al., 2020). Selain itu literasi bencana adalah dasar yang digunakan seseorang untuk membuat sebuah keputusan yang cepat dan tepat, sehingga kemampuan yang dimanfaatkan untuk mengambil keputusan dapat sesuai dengan panduan dan peraturan yang berlaku terkait upaya pencegahan bencana, persiapan menghadapi bencana, respon saat terjadinya bencana dan juga proses pemulihan atau rehabilitasi setelah terjadi bencana. Oleh karena itu literasi bencana sangat berperan dalam menjaga atau meningkatkan kualitas hidup masyarakat terutama dalam menangani isu-isu kebencanaan (Caliskan & Uner, 2021). Literasi Bencana juga adalah satu faktor yang membentuk tingkat kesiapsiagaan pustakawan dalam menghadapi bencana. Pandangan ini sejalan dengan hasil Konferensi Dunia yang menghasilkan 淜erangka Aksi Hyogo pada periode 2005-2015 yang menetapkan prioritas tindakan pengurangan bencana, dimana salah satunya yaitu pentingnya menguatkan kesiapsiagaan terhadap bencana dengan respon yang efektif pada seluruh tingkatan atau lapisan masyarakat.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatif dengan total populasi sebesar 59 pustakawan yang memiliki kompetensi melalui pendidikan formal atau melalui berbagai pelatihan dalam konteks perpustakaan. Teknik Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode sampling jenuh atau total sampling karena populasi pustakawan yang relevan berjumlah kurang dari 100 (Kurniawan & Puspitaningsih, 2016). Penelitian ini dilakukan di lima perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri di Kota Surabaya seperti dari 51动漫 (UNAIR), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur (UPNV Jatim, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA).
Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan dalam penelitian ini dapat diketahui bahwa literasi bencana yang dimiliki oleh para pustakawan di surabaya seperti 51动漫 (UNAIR), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur (UPNV Jatim, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) berpengaruh secara signifikan terhadap kesiapsiagaan pustakawan dalam menghadapi bencana kebakaran. Untuk besar pengaruh literasi bencana terhadap kesiapsiagaan pustakawan yaitu sebesar 41,2% yang sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Kemudian telah ditemukan juga bahwa literasi bencana yang dimiliki oleh para pustakawan berdampak positif pada tingkat kesiapsiagaan mereka dalam menghadapi bencana kebakaran, dengan artian bahwa semakin tinggi literasi bencana yang dimiliki, maka semakin tinggi juga kesiapsiagaan pustakawan menghadapi bencana, dan sebaliknya jika literasi bencana rendah, maka kesiapsiagaan pustakawan menghadapi bencana juga rendah.
Penulis: Fitri Mutia, A.KS., M.Si.
Jurnal: Dampak literasi bencana terhadap kesiapsiagaan pustakawan perguruan tinggi negeri di Surabaya





