Pestisida organofosfat yang digunakan untuk mengendalikan hama tanaman mempengaruhi sistem saraf dengan menghambat aktivitas enzim kolinesterase dalam tubuh. Hal ini dapat dicapai dengan menghirup, memakan, atau mengoleskannya pada kulit. Paparan pestisida kronis dan akut dinilai berdasarkan kadar biomarker, seperti enzim kolinesterase, aktivitas asetilkolinesterase (AChE) dalam sel darah merah, dan aktivitas butirilkolinesterase (BChE) dalam plasma.
Kadar kolinesterase diartikan intoksikasi jika aktivitas kolinesterase dalam darah menurun lebih dari 50% dari normal atau 3500 U/L. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan membahas karakteristik petani dalam tinjauan literatur ini dengan memasukkan pengetahuan petani, alat pelindung diri, kadar kolinesterase, jenis kelamin, dan frekuensi penyemprotan dari artikel dengan populasi petani sayuran dan padi yang memiliki aktivitas kolinesterase terhambat karena paparan pestisida organofosfat dari artikel yang diterbitkan antara tahun 2017 dan 2020.
Penelitian ini menggunakan tinjauan literatur sistematis dengan sumber perpustakaan yang digunakan melalui Google Scholar dan Science Direct, sehingga menghasilkan 16 artikel penelitian yang membahas aktivitas enzim kolinesterase akibat paparan organofosfat yang dibahas pada tahun 2017-2020. Adapun faktor yang dikaji adalah pengetahuan, kebiasaan merokok, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), kadar kolinesterase, jenis kelamin, dan frekuensi penyemprotan pestisida.
Hasil literature review menunjukkan, Petani berisiko tinggi mengalami keracunan pestisida dan dapat terpapar bahan kimia ini melalui kontak kulit, penghirupan, atau konsumsi. Usia seorang pekerja menunjukkan akumulasi waktu paparan dan kemampuan berbagai organ tubuh dalam merespon paparan pestisida. Pada pengetahuan petani, kadar kolinesterase pada petani yang berpengetahuan adalah normal. Karena tingkat pengetahuan dapat mempengaruhi penggunaan pestisida secara bijaksana sesuai dengan dosis dan mempengaruhi tingkat kolinesterase. Petani harus dilengkapi dengan alat pelindung diri yang harus dikenakan untuk meminimalkan penetrasi pestisida melalui saluran pernapasan, inhalasi, dan pencernaan. Oleh karena itu penggunaan masker, topi, sarung tangan, baju lengan panjang, dan celana sangat dianjurkan, hal ini didasari karena petani yang tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) pada saat penyemprotan dan tidak mengganti pakaian setelah penyemprotan.
Pada faktor jenis kelamin, perempuan secara fisik lebih lemah dibandingkan laki-laki. Oleh karena itu, perempuan pada pekerjaan-pekerjaan yang menimbulkan risiko bahan kimia paparan pestisida memiliki tingkat residu pestisida yang lebih tinggi di tubuhnya dibandingkan laki-laki. Pada faktor merokok, Merokok sambil menyemprot juga dapat menyebabkan tertelannya pestisida oleh pengguna pertanian jika tangan terkontaminasi. Faktor durasi penyemprotan pekerja pertanian yang melakukan penyemprotan lebih dari 4 jam per hari memiliki kemungkinan 4,9 kali lebih besar mengalami gangguan fungsi kognitif, hal ini mungkin terjadi karena semakin lama waktu penyemprotan, semakin besar paparan yang dihasilkan.
Dampak keracunan organofosfat menurut literature review adalah dampak kesehatan petani akibat paparan pestisida:41% gangguan neurologis; 13% kanker; 8% keracunan; 6% gangguan reproduksi; 6% genotoksisitas; 7% masalah pernapasan; 5% penyakit ginjal kronis; 14% efek kesehatan lainnya.
Organofosfat memberikan efek toksik dengan menghambat asetilkolinesterase (AChE), enzim penting dalam sistem saraf yang bertanggung jawab atas pemecahan neurotransmitter asetilkolin dalam sinapsis saraf. Diagnosis keracunan organofosfat bervariasi di seluruh spektrum, dengan persentase berkisar antara 76% hingga 100% untuk kasus normal, 51% hingga 75% untuk keracunan ringan, 26% hingga 50% untuk keracunan sedang, dan 0% hingga 25% untuk keracunan parah.
Beberapa faktor ditemukan berkorelasi dengan keracunan organofosfat, meliputi umur, tingkat pengetahuan petani, penggunaan alat pelindung diri, perilaku merokok, dan lamanya kegiatan penyemprotan. Namun jenis kelamin tampaknya tidak menjadi faktor konkrit yang mempengaruhi kejadian keracunan organofosfat. Penting untuk diketahui bahwa keracunan organofosfat dapat menyebabkan masalah kesehatan akut dan kronis, sehingga menekankan pentingnya tindakan pencegahan dan penanganan yang tepat ketika menangani zat beracun ini.
Penulis: R. Azizah
Sumber:





