Indonesia merupakan salah satu negara yang masih memiliki masalah dalam pengendalian penularan penyakit bawaan makanan mencakup berbagai penyakit, mulai dari diare hingga kanker. Masalah gastrointestinal adalah paling umum dari penyakit bawaan makanan, tetapi beberapa kasus memburuk ketika mereka juga menghasilkan gejala imunologi, neurologis, hepatotoksik, nefrotoksik, dan kanker.
Ada lebih dari 200 penyakit yang dapat ditularkan melalui makanan. Public Health Emergency Operation Center (PHEOC) Indonesia mencatat 163 insiden dan 7132 kasus wabah keracunan makanan dengan angka kematian atau case fatality rate (CFR) sebesar 0,1% pada tahun 2017. Terdapat 6.205 kasus keracunan makanan pada tahun 2019 selama pandemi Indonesia, yang terjadi pada usia 20-24 tahun (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2019).
Banyak mikroorganisme dapat mencemari makanan, yang menyebabkan infeksi bawaan makanan. Beberapa bakteri seperti Salmonella, Escherichia, Campylobacter, Listeria, dan beberapa virus seperti virus polio dan virus hepatitis A, dapat menyebabkan masalah kesehatan. Beberapa jamur dapat menghasilkan racun yang mencemari makanan, masuk ke tubuh kita, dan menyebabkan gejala penyakit bawaan makanan. Banyak zat kimia juga menyebabkan keracunan bawaan makanan. Sehingga penerapan higiene dan sanitasi pangan sangat penting. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap penyakit bawaan makanan adalah prosedur penanganan makanan yang tidak bersih dan kurangnya kebersihan di area persiapan makanan.
Survei internasional di kalangan konsumen menunjukkan bahwa pengetahuan keamanan pangan terutama di negara berkembang seperti Afrika, masih lebih rendah. Di Indonesia, terdapat kurangnya implementasi dalam higiene dan sanitasi pangan. Beberapa zat berbahaya yang masih ditemukan dalam pangan Indonesia seperti formalin, boraks Konsumen tidak menyadari bahwa beberapa makanan yang dikonsumsi cenderung menyebabkan penyakit tertentu. Mereka harus memiliki pengetahuan yang baik untuk memilih makanan yang aman.
Terkadang, pelabelan makanan dapat menunjukkan apakah makanan tersebut berkualitas baik. Mahasiswa diharapkan memiliki pengetahuan, sikap, dan praktik yang baik tentang keamanan pangan. Mereka memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang untuk mengendalikan penyakit menular makanan. Mahasiswa dapat menjadi panutan bagi orang-orang tentang cara memilih keamanan pangan.
Pandemi covid-19 membuat masyarakat meningkatkan kewaspadaan, termasuk keamanan pangan. Tingginya kejadian penyakit bawaan makanan, kurangnya kebersihan makanan, banyaknya makanan yang ditemukan mengandung beberapa zat berbahaya, dan situasi pandemi membuat peneliti ingin menganalisis lebih jauh bagaimana pengetahuan, sikap, dan praktik keamanan pangan di kalangan mahasiswa di Kabupaten Jember. Sehingga perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menganalisis profil, pengetahuan, sikap, dan praktik keamanan pangan di kalangan mahasiswa selama masa pandemi Covid-19.
Penelitian ini merupakan studi cross-sectional yang dilakukan di Universitas Jember, Indonesia, pada bulan Oktober 2020. Responden adalah mahasiswa jurusan Kesehatan Masyarakat yang belajar selama lebih dari dua tahun di Universitas Jember. Besar sampel adalah 187 mahasiswa. Korelasi profil, pengetahuan, sikap dan praktiknya dalam penyakit bawaan makanan dan mkeamanan makanan dianalisis dengan uji chi-square dan peringkat spearman.
Hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas mahasiswa responden adalah perempuan (86,1%) dan tinggal di asrama (90,9%). Pengetahuannya sedang, sikapnya netral, dan praktiknya rata-rata. Terdapat korelasi yang signifikan antara profil dengan pengetahuan, sikap, dan praktik; pengetahuan dan sikap; pengetahuan dan praktik; sikap dan praktik keamanan pangan di kalangan mahasiswa.
Disimpulkan terdapat korelasi yang signifikan antara pengetahuan, sikap, dan praktik tentang penyakit bawaan makanan di kalangan mahasiswa kesehatan masyarakat selama situasi pandemi. Disarankan pengetahuan, sikap, dan praktik keamanan pangan di kalangan mahasiswa harus ditingkatkan, dimana perguruan tinggi harus mengintegrasikan keamanan pangan ke dalam kurikulum, sehingga mahasiswa dapat berkontribusi untuk memecahkan penyakit bawaan makanan di masyarakat.
Penulis: Prof. Soedjajadi Keman, dr., MS., Ph.D.
Referensi: Anita Dewi Moelyaningrum, Soedjajadi Keman, Soenarnatalina Melaniani, Hari Basuki Notobroto, Dewi Rokhmah, Hario Megatsari. Foodborne disease and food safety among college students in a pandemic situation. Pharmacy Education (2023), 23(4):269-273.





