Perkembangan pariwisata memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi di banyak negara. Pariwisata telah menjadi pilar penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi di berbagai negara, dengan kontribusi menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan nasional. Namun, pertumbuhan pariwisata juga dapat memberikan dampak negatif seperti degradasi lingkungan. Beberapa dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis 51动漫, Dr. Miguel Angel Esquivias, Rudi Purwono, Lilik Sugiharti dan Yessi Rahmawati berkolaborasi dengan tim peneliti dari Universitas Mataram meneliti mengenai dinamika yang mendasari hubungan antara pariwisata dan emisi karbon dioksida (CO2), dengan menggunakan data panel dari 77 negara antara tahun 2008 dan 2019. Penelitian ini secara khusus menerapkan pendekatan regresi kuantil dan mendalami keberadaan Environmental Kuznets Curve (EKC) berbentuk N terbalik dalam hubungan antara pariwisata dan emisi CO2 serta mempertimbangkan peran aktivitas ekonomi global, yang ditunjukkan oleh aliran pariwisata, perdagangan, dan investasi langsung asing (FDI).
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki keberadaan hubungan berbentuk N terbalik antara aktivitas pariwisata dan CO2 untuk memahami tahapan perkembangan dan implikasi lingkungan dari sektor pariwisata, menilai efektivitas ekspansi aktivitas global, seperti investasi langsung asing (FDI) dan perdagangan internasional, dalam mencapai netralitas karbon, serta untuk mengkaji hambatan yang muncul dari peningkatan keterhubungan global, termasuk peningkatan pergerakan barang (perdagangan), modal (FDI), dan orang (pariwisata), dalam pengurangan emisi CO2.
Dalam berbagai penelitian yang dilakukan oleh Azam et al., 2018; Irfan et al., 2023; Pata et al., 2022 ditemukan bahwa pariwisata memiliki korelasi positif dengan degradasi lingkungan. Sebagian besar penelitian fokus pada regresi linier dan memeriksa hubungan kuadrat untuk menemukan bukti Environmental Kuznets Curve (EKC), yang menghasilkan hasil yang beragam. Beberapa menemukan bentuk U terbalik, sementara lainnya menolak hipotesis EKC dengan menemukan bentuk U. Namun, sedikit penelitian menunjukkan kemungkinan keberadaan hubungan berbentuk N terbalik antara pariwisata dan CO2. Dalam hal ini, potensi hubungan N terbalik antara pariwisata dan emisi CO2 memiliki signifikansi teoritis dan empiris yang besar.
Selama fase awal perkembangan pariwisata, terjadi peningkatan emisi CO2 sejalan dengan meningkatnya kebutuhan energi dari aktivitas pariwisata yang meningkat (Balsalobre-Lorente et al., 2020). Namun, setelah mencapai titik tertentu, emisi CO2 cenderung menurun karena alokasi sumber daya keuangan yang lebih besar untuk mengurangi dampak lingkungan, memungkinkan adopsi praktik yang lebih berkelanjutan (Ochoa-Moreno et al., 2022; Raza et al., 2021). Meskipun demikian, di atas ambang batas pendapatan tertentu, lingkungan dapat mengalami degradasi akibat kebutuhan energi yang meningkat untuk pengembangan dan perluasan destinasi pariwisata (Yassin & Aralas, 2020; Se赂ker & Avs赂ar, 2023; Gossling et al., 2023). Selain itu, penelitian yang dilakukan ini tidak hanya menganalisis hubungan EKC berbentuk N antara pariwisata dan emisi CO2 tetapi juga dampak faktor-faktor lain seperti PDB, urbanisasi, energi terbarukan, perdagangan, dan FDI. Dalam hal ini korelasi antara PDB, urbanisasi, perdagangan, FDI, dan energi terbarukan dengan emisi CO2 dalam beberapa penelitian memiliki temuan yang berbeda-beda.
Penelitian ini akan menggunakan data dari 77 negara antara 2008 dan 2019. Negara-negara tersebut terdiri dari 6 negara di Afrika, 28 negara di Asia, 46 negara di Eropa, 3 negara di Amerika Utara, dan 12 negara di Amerika Selatan. Estimasi model akan menggunakan teknik Regresi Kuantil Panel, regresi kuantil panel dengan efek tetap memungkinkan penentuan dampak sekumpulan faktor terhadap emisi CO2 di seluruh distribusi kondisional, termasuk negara-negara dengan tingkat emisi yang sangat bervariasi.
Adapun penemuan utama yang didapatkan adalah menunjukkan hubungan berbentuk N terbalik antara pariwisata dan emisi CO2. Hal ini menunjukkan bahwa dalam tahap awal perkembangan pariwisata, emisi CO2 cenderung meningkat, mencerminkan permintaan energi yang lebih tinggi dari aktivitas pariwisata yang berkembang pesat. Namun, saat negara-negara berkembang secara ekonomi dan sektor pariwisata mereka matang, tercapai titik balik di mana peningkatan pariwisata mengarah pada penurunan signifikan emisi CO2. Penelitian ini menekankan bahwa titik balik ini menandai pergeseran penting dalam dinamika energi pariwisata, dengan sektor pariwisata yang matang semakin mengandalkan sumber energi terbarukan.
Selain itu, penambahan variabel kontrol seperti PDB, FDI, dan perdagangan memberikan pemahaman yang komprehensif tentang dampak mereka terhadap emisi CO2. Secara khusus, hubungan positif antara PDB dan emisi CO2 menyoroti tantangan rumit dalam memisahkan pertumbuhan ekonomi dari degradasi lingkungan. Di sisi lain, perdagangan ditemukan memiliki dampak negatif, menunjukkan potensinya untuk berkontribusi pada penurunan emisi CO2, sedangkan FDI menunjukkan korelasi positif dengan emisi. Penelitian ini memberikan wawasan berharga tentang hubungan berlapis antara pariwisata dan emisi CO2, menekankan pentingnya praktik yang berkelanjutan dan adopsi energi terbarukan dalam sektor pariwisata.
Pembuat kebijakan perlu fokus pada energi terbarukan saat pariwisata tumbuh dan beralih ke praktik berkelanjutan saat sektor pariwisata matang untuk mengurangi emisi CO2. Selain itu, mempromosikan perdagangan internasional dapat berkontribusi dalam menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Kebijakan masa depan harus menekankan investasi pada energi terbarukan dan inovasi teknologi hijau, sambil meningkatkan kerjasama internasional untuk mengatasi tantangan lingkungan global.
Penulis: Miguel Angel Esquivias





