Proses penuaan adalah bagian tak terelakkan dari kehidupan manusia, akan terjadi pada setiap individu dalam populasi dan kehidupan global. Lansia adalah orang berusia 60 tahun atau lebih. Tahap proses penuaan ini menyebabkan penurunan fisik dan kemampuan fisiologis. Penurunan kemampuan tersebut menyebabkan keterbatasan dalam menjaga kebersihan diri, termasuk perawatan mulut. Jika perawatan mulut tidak dilakukan dengan benar akan menyebabkan gangguan pada mukosa mulut dan penyakit terkait mulut lainnya. Kesehatan gigi dan mulut pada lanjut usia merupakan kebutuhan dasar yang semakin diabaikan dengan bertambahnya usia, kelemahan, dan mobilitas terbatas. Jika kesehatan mulut lansia dapat terpelihara dengan baik, dapat menunjang kesehatan umum dan meningkatkan kualitas hidup.
Populasi lansia telah meningkat jumlahnya. Pada tahun 2017, ada sekitar 22 juta lansia di Indonesia. Jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi 48 juta pada tahun 2035 dengan populasi lansia menyumbang 16% dari total peningkatan jumlah penduduk perlu mendapat perhatian khusus, terutama tentang peningkatan kebersihan dan kesehatan. WHO menyatakan bahwa kesehatan mencakup kesejahteraan fisik, mental, dan sosial. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesehatan tidak hanya dalam aspek yang mengancam jiwa tetapi juga dalam kualitas hidup. Kesehatan gigi dan mulut berkontribusi secara fisik dan psikologis terhadap kualitas hidup.
Populasi lansia menghadapi banyak hambatan untuk menerima perawatan kesehatan mulut, seperti rendahnya pendidikan, tingkat pendapatan rendah, kurangnya asuransi gigi, kesehatan yang kurang baik, dan keyakinan bahwa tidak dibutuhkan pengobatan di rongga mulut. Kurangnya kesadaran diri tentang masalah kesehatan mulut dapat menyebabkan ketidaktahuan bahwa masalah tersebut dapat dicegah atau diobati. Oleh karena itu, penting untuk menilai pengetahuan lansia yang berhubungan dengan kesehatan gigi dan mulut.
Puskesmas berupaya mengatasi masalah kesehatan gigi dan mulut lanjut usia melalui program promosi kesehatan. Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu bentuk program promosi kesehatan yang berupa penyuluhan dan pemberian pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut pada lansia.
Sebuah studi oleh Thalib et al menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara status kebersihan mulut dan pengetahuan individu tentang kebersihan mulut. Cara kehidupan yang sehat dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut terbentuk dari pendidikan. Pengetahuan yang memadai akan mengarah pada status kesehatan yang baik sehingga risiko berkembangnya karies dan penyakit mukosa dapat ditekan. Sebuah studi survei yang dilakukan oleh Abdat dan Jernita menemukan bahwa lansia masih memiliki pengetahuan yang buruk tentang kesehatan mulut dan tingkat pengetahuan ini memiliki korelasi yang kuat dengan status kesehatan mulut yang buruk. Oleh karena itu, meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan mulut pada lanjut usia menjadi aspek yang penting untuk dikembangkan pada populasi yang menua.
Program peningkatan pengetahuan lansia pada penelitian ini dilakukan melalui angket pretest dan posttest. Selama pelaksanaan program, penyuluhan pendidikan dilakukan dengan metode demonstrasi oleh dua pembicara, yang dapat diikuti oleh peserta dengan bimbingan dari modul yang diberikan kepada mereka sebelumnya. Peserta memberikan positif umpan balik dan aktif mengajukan pertanyaan dari pembicara. Ini menunjukkan bahwa peserta mengikuti program dengan baik. Hasil penelitian ini adalah 29 lansia (76,32%) memiliki peningkatan skor posttest dibandingkan dengan skor pretest. Ini dapat menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan metode penyuluhan dapat meningkatkan pengetahuan lansia secara signifikan tentang kesehatan rongga mulut.
Pendidikan kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari promosi kesehatan program di Puskesmas, yang meliputi berbagai target untuk kelompok usia yang berbeda. Strategi promosi kesehatan untuk orang tua memiliki tiga hasil dasar: mempertahankan dan meningkatkan kapasitas fungsional, meningkatkan perawatan diri, dan merangsang jaringan sosial individu. Keterbatasan penelitian ini adalah sedikitnya jumlah peserta dan metode evaluasi. Studi ini menggunakan metode pretest dan posttest saja untuk menilai perbaikan pengetahuan, sementara faktor-faktor lain dapat mempengaruhi status pengetahuan setiap lansia, serta tidak mungkin untuk mengukur perkembangan tingkat kesadaran diri.
Secara keseluruhan, terlepas dari keterbatasan yang ada, penelitian ini menyimpulkan bahwa konseling pendidikan dalam program pemberdayaan dapat membantu lansia meningkatkan pengetahuan mereka tentang kesehatan gigi dan mulut sehingga diharapkan dapat diikuti dengan berkembangnya kesadaran diri untuk perbaikan pada masa depan.
Penulis: Nurina Febriyanti Ayuningtyas, drg., MKes., PhD., Sp.PM(K)
Judul: The Impact of Community Empowerment
Programs on Oral Health Education for
Knowledge Improvement in the Elderly
Link:





