51动漫

51动漫 Official Website

Dampak Stunting pada Perkembangan Anak Usia 1-3 Tahun

Foto by KKS

Stunting merupakan suatu terminologi yang digunakan dalam konteks kesehatan masyarakat untuk menyatakan pertumbuhan liner yang terhambat atau terhenti. Secara bahasa, stunting diterjemahkan sebagai perawakan pendek. Menurut WHO, stunting adalah keadaan panjang/tinggi badan seorang anak pada usia tertentu berada dibawah -2 SD dari median standar pertumbuhan WHO.  Standar penilaian status gizi menurut WHO dibedakan menjadi dua yaitu standar pertumbuhan WHO 2005 untuk anak balita dan WHO 2007 untuk anak sekolah sampai usia 18 tahun. Stunting diidentifikasi dengan membandingkan tinggi/panjang badan seorang anak dengan standar tinggi anak pada populasi yang normal sesuai dengan usia dan jenis kelamin yang sama. Stunting menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan kronis dimana seorang anak tidak dapat mencapai tinggi badan potensialnya karena terdapat gangguan gizi dan kesehatan.

Hal yang berbeda dengan stunting, meskipun memiliki terjemahan yang sama, istilah short stature umum digunakan untuk menyatakan seseorang yang PB/U atau TB/U berada dibawah -2SD atau persentil 3 grafik PB/U atau TB/U kurva central for disease control (CDC) dengan pola pertumbuhan yang lebih penting dibandingkan dengan posisi tinggi absolut pada kurva pertumbuhan. Proses terjadimya stunting dimulai dengan adanya penurunan berat badan terutama pada uia 2 tahun. Penurunan berat badan yang berlanjut akan menyebabkan panjang badan tidak optimal.

Secara umum penyebab stunting diklasifikasikan menjadi penyebab langsung dan tidak langsung. Beberapa penelitian epidemiologis menunjukan bahwa penyebab langsung adalah asupan nutrisi yang tidak adekuat secara kuantitas, kualitas dan varian makanan. Selain hal tersebut, infeksi berulang serta asuhan kesehatan yang kurang memadai menjadi penyebab stunting. Sebagai penyebab tidak langsung adalah kemiskinan, ketidaksetaraan ekonomi, norma sosial, pendidikan ibu serta status sosial perempuan. Teori lain mengenai faktor determinan yang menyebabkan stunting menurut WHO meliputi faktor keluarga dan rumah tangga, faktor nutrisi (inadekuat intake), faktor konsumsi air susu ibu (ASI), infeksi dan faktor sosial dan komunitas. Berdasarkan WHO, terdapat delapan elemen faktor rumah tangga dan keluarga yang berpengaruh terhadap kejadian stunting. Faktor utama pada elemen tersebut adalah defisiensi nutrisi 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) balita. Nutrisi berperan terhadap pertumbuhan linier anak. Faktor tinggi badan ibu juga termasuk seabagai faktor yang menyebabkan stunting. Beberapa studi di Indonesia menunjukan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara ibu yang pendek dengan anak stunting. Sebuah studi cross-sectional Indonesia Nutrition Survellance System (NSS: 2000-2003) pada sembilan provinsi, didapatkan bahwa ibu dengan tinggi badan < 145 cm mempunyai risiko anak stunting sebesar 2,32 kali dari ibu yang memiliki tinggi badan > 145 cm. Faktor rumah tangga lain yang dapat menyebabkan stunting adalah stimulasi dan aktivitas anak yang tidak adekuat, ketersediaan air, sanitasi yang buruk, praktik pengasuhan yang kurang baik, termasuk tingkat pengetahuan ibu yang rendah mengenai kesehatan dan nutrisi. Selain itu penyebab stunting adalah makanan pendamping ASI (MPASI) yang tidak adekuat, dalam hal ini termasuk kualitas makanan yang buruk, praktik pemberian makan yang salah, dan keamanan pangan. Oleh sebab itu, pada usia 6 bulan WHO merekomendasikan pemberian MPASI untuk melengkapi kekurangan zat gizi.

Secara umum dampak stunting dapat dibagi menjadi dampak jangka pendek dan jangka panjang. Pada jangka pendek, stuntingdapat menyebabkan peningkatan angka morbiditas dan mortalitas, perkembangan kognitif, motorik, tidak optimal, dan biaya kesehatan meningkat. Dampak jangka panjang dari stuntingyaitu postur tubuh yang tidak optimal saat dewasa sehingga anak lebih pendek dibandingkan anak normal, serta risiko obesitas dan penyakit lain meningkat, kesehatan reproduksi menurun, kapasitas belajar dan performa saat masa sekolah menjadi kurang optimal, serta dapat menyebabkan produktivitas dan kapasitas kerja yang tidak maksimal. Penelitian kami di Surabaya dilakukan pada bulan juli 2020 hingga Maret 2021 untuk menilai dampak stunting pada perkembangan anak usia 1-3 tahun mendapatkan sebanyak 300 anak yang ikut dalam penelitian ini. Perkembangan anak usia 1-3 tahun dinilai dengan skrining perkembangan Denver II (DDST-II), dan Tes CAT/CLAMS) untuk menilai kognitif anak. Hasil penelitian ini adalah anak stunting mempunyai risiko kterlambatan perkembangan dan penurunan kognitif/kecerdasan.

Penulis: Prof. Dr Irwanto,dr SpA(K)

Disarikan dari artikel dengan judul: 淚mpact of Stunting on Development of Children between 1-3 Years of Age yang diterbitkan di Ethiop J Health Sci, 2022;32(3): 569-78. Link:  

AKSES CEPAT