Asam docosaheksanoat (DHA) adalah asam lemak yang ditemukan secara alami dalam minyak tumbuhan, minyak ikan, daging ikan, biji rami makanan laut, ganggang, dan kuning telur, dan salah satu asam lemak tak jenuh rantai panjang yang penting bagi biokimia manusia. DHA merupakan asam lemak esensial, yang tidak bisa dibuat oleh tubuh baik dari asam lemak lain maupun dari karbohidrat ataupun asam amino dan harus didapatkan dari luar, misalnya minyak ikan, tanaman seperti rami dan suplemen makanan. DHA bisa didapatkan dari ekstraksi minyak ikan tetapi DHA murni dari minyak ikan tidak ada yang dalam bentuk jadi di pasar komersial karena kesulitan proses ekstraksi dan purifikasi. Saat ini sumber DHA yang banyak di pasar komersial adalah berasal dari 2 microalga (Crypthecodinium cohnii dan Schizochytrium genus) dan ini yang banyak dipakai pada susu formula. Sintesis DHA dari prekursornya pada janin dan plasenta tidak cukup untuk memenuhi permintaan jaringan saraf yang berkembang pesat, yang membutuhkan pengiriman simpanan DHA ibu melalui plasenta dan air susu ibu selama kehamilan dan setelah lahir. Oleh karena itu, pasokan DHA ke otak yang sedang berkembang sangat bergantung pada asupan makanan ibu, dan suplai ini sangat penting untuk perkembangan kognitif.
DHA terakumulasi di otak selama perkembangan otak, berimplikasi pada proses belajar dan memori. Peran DHA pada pembelajaran (learning) dan memori telah didokumentasikan dengan baik, namun, masih menjadi pertanyaan, apakah asam dokosaheksaenoat penting atau tidak penting untuk bayi, terutama pada populasi bayi prematur. Penelitian sebelumnya menunjukkan manfaat suplementasi DHA pada perkembangan janin dan bayi, sehingga suplementasi asam dokosaheksaenoat telah lama ada di susu formula. Namun, manfaat suplementasi ini tetap kontroversial setelah tindak lanjut dalam studi berbasis manusia dan klinis. Penemuan gen desaturase asam lemak dalam mengatur asam dokosaheksaenoat manusia dan kadar asam lemak tak jenuh ganda memberikan dasar bukti baru untuk suplementasi asam dokosaheksaenoat pada bayi. Tinjauan literatur ini mencoba untuk menjelaskan pemahaman saat ini tentang manfaat klinis dari susu yang diperkaya DHA untuk bayi, mulai dari penelitian translasi hingga uji klinis.
Penelitian pada susu formula yang diberi DHA dan AA menunjukkan kadar lipid di dalam darah sama dengan kadar yang dikandung ASI dan signifikan memperbaiki perkembangan mental dan maturasi fungsi visual, Studi epidemiologis telah menunjukkan pentingnya DHA selama kehamilan untuk perkembangan sel saraf. Penelitian dengan sampel besar mendapatkan bahwa asupan makanan laut yang lebih rendah, sumber kaya DHA, selama kehamilan berkaitan dengan risiko perkembangan suboptimal anak. Sebaliknya, anak yang lahir dari ibu dengan asupan makanan laut yang tinggi selama kehamilan menunjukkan perilaku pro-sosial dan motorik halus yang lebih baik serta skor perkembangan sosial, dan kecerdasan verbal yang lebih tinggi pada usia delapan tahun. Setelah bayi lahir, DHA diperoleh dari ASI, Kadar DHA yang tinggi dalam ASI telah dikaitkan dengan beberapa manfaat positif terkait otak pada bayi, termasuk kemampuan lebih baik pada penyesuaian diri anak dengan perubahan di sekitarnya, perkembangan mental, motorik halus, skor perhatian dan memori di kemudian hari, namun demikian, beberapa penelitian melaporkan hasil yang netral dari suplementasi DHA pada ibu menyusui pada evaluasi perkembangan anak, tetapi hasil tersebut kemungkinan bergantung pada panjang dan waktu suplementasi DHA dan saat penilaian perkembangan anak. Suplementasi DHA pada bayi akan mengembalikan kadar DHA ke kadar DHA dalam air susu ibu masa neonatus di semua regio kecuali korteks dan cerebellum. DHA meningkatkan neurotransmitter serotonin dan asetilkolin dan dapat menetralkan oksigen radikal bebas. Schulzke dkk tahun 2011 melakukan review penelitian tahun 1966 sampai desember 2009 mendapatkan 3 studi yang melaporkan manfaat suplementasi DHA pada luaran neurodevelopment dengan populasi berbeda dan usia post natal juga berbeda.
Pada penelitian dengan menggunakan tikus yang diberi diet yang defisiensi DHA didapatkan penurunan penggunaan glukosa di korteks serebral, gangguan perilaku, penurunan kadar melatonin pada malam hari dan peningkatan aktivitas lokomotor yang paralel dengan aktivasi fungsi striatal dopaminergik, peningkatan pelepasan basal asetilkolin (ACh) di hippocampus dan penurunan 10% muscarinic receptor binding. Pada pemberian makanan defisiensi DHA jangka panjang menyebabkan densitas reseptor serotonin-2 (5-HT2) dan reseptor D2 di frontal korteks rendah serta penurunan kadar dopamin.
Penulis: Dr. Irwanto, dr. Sp.A(K)
Disarikan dari artikel dengan judul: 淎 quick glance at docosahexaenoic acid fortification in formulated milk for infants, from animal models to clinical studies: a review yang diterbitkan di Pediatr Med Rodz 2022, 18 (1), p. 2833
Link:





