Isu keberlanjutan dan konservasi lingkungan telah mendapatkan perhatian global dengan tantangan lingkungan terus berlanjut di banyak negara, terutama didorong oleh kegiatan ekonomi. Pembangunan berkelanjutan berperan penting dengan menekankan perlindungan lingkungan untuk generasi mendatang. Banyak negara secara aktif berupaya mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh degradasi lingkungan sambil berjuang untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Di satu sisi, seiring pesatnya pertumbuhan teknologi digital telah memunculkan berbagai pertanyaan fundamental terkait dampaknya terhadap keberlanjutan lingkungan. Perdebatan tentang dampak lingkungan dari teknologi digital terbagi antara potensinya untuk mendorong keberlanjutan dan konsekuensi negatif yang tidak diinginkan. Di sisi positif, digitalisasi meningkatkan efisiensi energi melalui jaringan pintar, manajemen berbasis AI, dan pemantauan waktu nyata, sehingga mengurangi limbah dan emisi.
Digitalisasi juga mendukung produksi berkelanjutan melalui teknologi Industri 4.0, mengoptimalkan penggunaan sumber daya, dan mendorong praktik ekonomi sirkular. Selain itu, perangkat digital memungkinkan pemantauan lingkungan melalui pencitraan satelit dan analisis data besar, yang membantu konservasi dan manajemen bencana. Digitalisasi selanjutnya berkontribusi pada dekarbonisasi dengan memfasilitasi pekerjaan jarak jauh dan e-commerce, sehingga mengurangi emisi terkait transportasi.
Terkait hal tersebut, studi kami ingin menganalisis pengaruh teknologi digital (penggunaan internet, penetrasi ponsel, dan kepemilikan komputer) serta faktor sosial-ekonomi, seperti Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), investasi asing (FDI), dan rata-rata lama sekolah (MYS), terhadap kualitas lingkungan di 34 provinsi Indonesia selama periode 20132023. Penelitian menggunakan pendekatan System-Generalized Method of Moments (System-GMM), sebuah metode statistik yang andal untuk mengatasi masalah endogenitas dan variabel yang tidak teramati. Kualitas lingkungan diukur melalui Indeks Kualitas Lingkungan (EQI), yang mencakup kualitas air, udara, tanah, dan air laut. Data dikumpulkan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Badan Pusat Statistik (BPS).
Temuan studi menunjukkan kemajuan ekonomi (yang diukur lewat Produk Domestik Regional Bruto atau GRDP) ternyata bisa memperbaiki kualitas lingkungan, terutama karena daerah-daerah kaya mulai serius berinvestasi pada infrastruktur hijau dan kebijakan lingkungan yang ketat. Namun di sisi lain, arus masuk investasi asing (FDI) justru memperburuk keadaan, memperkuat teori 減ollution haven di mana investor cenderung membangun industri di negara berkembang yang regulasinya lebih longgar, meski dampaknya buruk bagi lingkungan. Adapun dampak teknologi digital tidak sesederhana yang dibayangkan.
Variabel computer sebagai proksi sekaligus menjadi simbol kemajuan teknologi, justru terbukti berdampak negatif terhadap kualitas lingkungan. Penggunaan komputer yang tinggi di daerah-daerah tertentu berkorelasi dengan meningkatnya konsumsi listrik dan limbah elektronik, dua penyumbang besar kerusakan lingkungan. Sementara itu, pemakaian internet dan ponsel tidak memberikan dampak yang signifikan dalam jangka panjang.
Peneliti menduga hal ini terjadi karena efeknya yang kompleks: di satu sisi, digitalisasi bisa mengurangi polusi lewat efisiensi (misalnya mengurangi kebutuhan perjalanan fisik lewat meeting online), tapi di sisi lain, infrastruktur digital yang menopang internet dan ponsel juga membutuhkan energi besar yang seringkali belum bersumber dari energi terbarukan. Lebih menarik lagi, pendidikan ternyata punya andil tersendiri dalam membentuk kesadaran lingkungan. Daerah-daerah dengan rata-rata tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki kualitas lingkungan yang lebih baik, meskipun efek ini juga belum terlalu kuat.
Penelitian menyimpulkan bahwa teknologi digital memiliki dampak beragam terhadap kualitas lingkungan di Indonesia. Kepemilikan komputer berkontribusi negatif karena konsumsi energi dan limbah, sementara internet dan telepon seluler tidak menunjukkan efek signifikan. Pertumbuhan ekonomi (GRDP) mendukung kualitas lingkungan, tetapi investasi asing (FDI) memperburuknya. Pendidikan berpotensi meningkatkan kesadaran lingkungan, tetapi dampaknya masih terbatas. Indonesia butuh strategi cerdas dalam memanfaatkan digitalisasi agar tidak menjadi bumerang bagi lingkungan. Pemerintah perlu mendorong penggunaan perangkat hemat energi, mengatur manajemen limbah elektronik, serta memastikan bahwa investasi asing tunduk pada standar lingkungan yang ketat. Digitalisasi seharusnya bukan hanya menjadi mesin pertumbuhan ekonomi, melainkan juga alat untuk merawat bumi.
Penulis: Fitri Kartiasih, Hanifah Putri Rosanti, Sabrina Do Miswa, Arif Rahman Hakim
Informasi detail terkait aritkel dapat diakses pada link berikut:





