51

51 Official Website

Dari Couplepause ke Doublepause: Menemukan Bahasa Baru untuk Kehidupan Seksual di Usia Senja

Ilustrasi Sepasang Kakek dan Nenek (Sumber: Kompasiana.com)
Ilustrasi Sepasang Kakek dan Nenek (Sumber: Kompasiana.com)

Ketika angka harapan hidup meningkat, dunia medis kini dihadapkan pada tantangan baru: bagaimana menjaga kualitas hidup, termasuk kehidupan seksual, di usia lanjut. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa kesehatan seksual merupakan indikator penting kualitas hidup, namun sering kali diabaikan ketika seseorang menua. Hal ini berarti bahwa berbicara kualitas hidup di usia senja, seorang tenaga medis tidak boleh abai akan kebutuhan seksual.

Seiring bertambahnya usia, terjadi penurunan kadar hormon seks, istilah yang dikenal ԴDZ貹ܲ pada perempuan dan ԻDZ貹ܲ&Բ;ٲ&Բ;late onset hypogonadism pada laki-laki. Penurunan hormon ini tak hanya berdampak pada gairah seksual, tetapi juga pada fungsi jantung, otot, otak, dan kondisi psikologis. Akibatnya, hubungan intim pada usia lanjut kerap dihadapkan pada perubahan besar yang kompleks, baik secara fisik maupun emosional.

Dari Individu ke Pasangan: Lahirnya Konsep Doublepause

Dulu, masalah seksual pada lansia dianggap sebagai urusan pribadi. Namun kini, muncul istilah baru yang mencoba mengubah cara pandang itu. Couplepause&Բ;岹&Բ;Doublepause.
Istilah Couplepause pertama kali diperkenalkan oleh Jannini dan Nappi (2018) untuk menggambarkan bagaimana perubahan hormon pada salah satu pasangan dapat memengaruhi dinamika hubungan. Kemudian pada 2024, konsep ini diperluas menjadi Doublepause menekankan bahwa kedua pasangan menua bersama, dan perubahan biologis maupun psikologis terjadi pada keduanya secara saling terkait.

Konsep ini mengajak dunia medis berpindah dari pendekatan yang berfokus pada individu menuju pendekatan pasangan (couple-oriented care). Artinya, ketika satu pihak mengalami perubahan hormon atau psikologis, dampaknya harus dipahami sebagai bagian dari pengalaman bersama. Dokter andrologi, ginekologi, endokrinologi, hingga psikiatri kini didorong untuk bekerja lintas disiplin dalam menangani pasangan usia lanjut secara komprehensif.

Lebih dari Sekadar Istilah Medis

Istilah Doublepause bukan sekadar permainan kata, melainkan upaya memberi bahasa baru bagi pengalaman seksual lansia. Dengan istilah yang mudah diingat, tenaga kesehatan dapat lebih mudah memulai percakapan sensitif tentang seksualitas tanpa stigma. Lebih jauh, Doublepause menumbuhkan empati bahwa seksualitas di usia senja bukan masalah, melainkan proses alami yang bisa dijalani bersama, dengan saling memahami perubahan yang terjadi.

Namun, penulis juga mengingatkan bahwa konsep ini perlu diterapkan dengan hati-hati. Tidak semua pasangan menua secara harmonis; ada perbedaan budaya, bahasa, dan pengalaman yang memengaruhi penerapannya. Selain itu, fokus pada pasangan juga tak boleh mengabaikan mereka yang hidup sendiri, duda, janda, atau lansia tanpa pasangan tetap berhak atas dukungan kesehatan seksual yang memadai.

Melalui konsep From Couplepause to Doublepause, penulis mengajak kita untuk melihat seksualitas lansia secara lebih manusiawi dan inklusif. Usia bukan akhir dari keintiman, melainkan babak baru yang menuntut cara pandang yang lebih bijak dan penuh empati baik bagi tenaga kesehatan maupun bagi setiap pasangan yang menua bersama.

Penulis: Cennikon Pakpahan, dr.

Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada:

AKSES CEPAT