51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Daun Peluntan Mengandung Senyawa Dihidrokalkon sebagai Antimalaria

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan terdapat 247 juta kasus malaria di seluruh dunia pada tahun 2021. Pemberantasan malaria terhambat oleh adanya resistensi parasit malaria (Plasmodium falciparum) terhadap obat antimalaria yang ada saat ini. Resistensi obat klorokuin pertama kali dilaporkan pada tahun 1957 di Thailand dan menyebar ke Asia Selatan dan Asia Tenggara. Beberapa laporan tentang munculnya galur P. falciparum yang resisten terhadap artemisinin terdapat di wilayah Mekong. Terapi kombinasi artemisinin adalah pertahanan terakhir melawan parasit malaria ini. Oleh karena itu, saat ini terdapat kebutuhan mendesak untuk pengembangan obat antimalaria.

Penelitian tumbuhan sebagai antimalaria telah berkontribusi pada penemuan senyawa-senyawa antimalaria baru. Banyak obat antimalaria saat ini yang merupakan turunan dari kina dan artemisinin. Keduanya pertama kali diidentifikasi pada tanaman yang digunakan secara tradisional untuk mengobati malaria dan demam. Studi fitokimia pada genus Artocarpus telah menemukan berbagai golongan senyawa diantaranya flavonoid, terpenoid, stilbenoid, arylbenzofuran, dan neolignane. Penelitian terhadap berbagai tanaman Artocarpus, termasuk Artocarpus champeden (cempedak), A. heterophyllus (Nangka), A. altilis (sukun), dan A. camansi (kluwih) telah menghasilkan sebagian besar senyawa flavonoid terprenilasi dengan aktivitas antimalaria yang kuat. Penelitian sebelumnya juga melaporkan bahwa telah dihasilkan senyawa dihidrokalkon dengan aktivitas antimalaria yang kuat dan memiliki mekanisme kerja sebagai inhibitor protease sistein falcipain-2 dari P. falciparum.

Falcipain-2 adalah enzim utama sistein protease yang terlibat dalam siklus hidup P. falciparum seperti hidrolisis hemoglobin inang, invasi eritrosit, dan pecahnya eritrosit. Enzim ini merupakan target baru dalam penemuan obat antimalaria yang dimungkinkan dapat memecahkan masalah resistensi obat antimalaria saat ini. Beberapa senyawa telah diidentifikasi sebagai penghambat falcipain-2, seperti isoquinolin, tiosemikarbazon, dan kalkon. Pendekatan hubungan kemotaksonomi merupakan salah satu strategi dalam pencarian obat baru yang berasal dari tumbuhan. Oleh karena itu, penelitian terhadap senyawa antimalaria dari genus Artocarpus dan identifikasi target obat sebagai inhibitor falcipain-2 merupakan penelitian prospektif untuk menemukan senyawa antimalaria baru.

Daun Artocarpus sericicarpus Jarret diteliti dalam penelitian ini sebagai bagian dari payung penelitian tanaman Artocarpus sebagai antimalaria. Artocarpus merupakan genus utama dari famili Moraceae yang terdiri dari 50 spesies, dan 25 spesies diantaranya terdapat di Pulau Kalimantan. Genus ini berpotensi menjadi sumber senyawa bioaktif dan juga digunakan dalam pengobatan tradisional. Kajian senyawa antimalaria dari genus Artocarpus akan memberikan manfaat dalam pencarian obat antimalaria baru dari tumbuhan dan memberikan penjelasan ilmiah mengenai pemanfaatan Artocarpus sebagai obat tradisional. Artocarpus sericicarpus dikenal dengan nama peluntan atau pedalai, dan pertumbuhannya bersifat endemik di beberapa daerah di Indonesia, antara lain Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ekstrak dan fraksi A. sericicarpus menunjukkan potensi aktivitas antimalaria.

Terdapat banyak laporan tentang tanaman Artocarpus, namun hanya sedikit informasi terkait A. sericicarpus. Berdasarkan penelusuran kami, baru pertama kali dilaporkan tentang isolasi senyawa antimalaria dari daun A. sericicarpus. Penelitian ini melaporkan isolasi dan penjelasan struktur senyawa antimalaria dari ekstrak daun A. sericicarpus, aktivitas antimalaria, sitotoksisitasnya, dan studi in silico senyawa terhadap enzim falcipain-2 P. falciparum.

Hasil studi ini menunjukkan bahwa A. sericicarpus merupakan sumber potensial zat antimalaria baru. Senyawa dihidrokalkon yang teridentifikasi sebagai 1-(2,4-dihidroksi fenil)-3-[4-hidroksi-3-(3-metilbut-2-en-1-il)fe nil] propan-1-on telah diisolasi dari ekstrak daun A. sericicarpus. Pada penyelidikan in silico, senyawa tersebut menunjukkan kemampuan mengikat situs aktif enzim falcipain-2 sehingga terdapat kemungkinan bahwa senyawa bekerja pada hambatan enzim falcipain-2 di vakuola makanan P. falciparum.

Penulis: Prof. Dr. apt. Achmad Fuad Hafid, M.S.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Tumewu L, Ilmi H, Saputri RD, Sari DK, Permanasari AA, Nisa HK, Maulana S, Tjahjandarie TS, Tanjung M, Osman CP, Ismail NH, Widyawaruyanti A, Hafid AF (2023) Antimalarial dihydrochalcone isolated from Artocarpus sericicarpus Jarret leaves and in silico investigation against falcipain-2 protein. J Pharm Pharmacogn Res 11(5): 797“809.

AKSES CEPAT