51动漫

51动漫 Official Website

De Javasche Bank Sambut Baik Pameran ICAS

Erwindo Kolopaking Memberikan Opening Speech Pameran ICAS di De Javasche Bank (Foto: PKIP)

UNAIR NEWS – Gelaran mendapat sambutan baik dari berbagai pihak. Gelaran yang mengusung acara konferensi dan festival itu juga menyajikan berbagai pameran yang dapat masyarakat kunjungi.

Salah satu pameran yang ada dalam gelaran besar itu adalah pameran dengan tema crossroads atau persimpangan/pertemuan berbagai budaya. Acara tersebut mendapat respon baik dari pihak sebagai penyedia lokasi. 

Pameran itu resmi dibuka pada Selasa (29/7/2024) dan dihadiri oleh Erwindo Kolopaking selaku Advisor Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur; Satriagama Rakantaseta selaku perwakilan ICAS; Marrik Bellen selaku perwakilan exhibitor/artist; serta Duta Besar Belanda untuk Indonesia H.E. Amb. Lambert Grijns.

Erwindo mengharap masyarakat dapat mendapat banyak pandangan baru melalui berbagai kegiatan yang telah ICAS persiapkan. 淭erima kasih saya ucapkan kepada ICAS dan kolega lainnya sehingga mampu mewujudkan acara ini. Selamat berdiskusi dan semoga mendapat pandangan kultural yang acara ini janjikan, ucap Erwindo. 

Sementara itu, Lambert mengucapkan terima kasih kepada De Javasche Bank yang telah bersedia menerima dan menyambut hangat seluruh peserta ICAS 淧eserta ICAS tentu berasal dari beragam latar belakang, bidang, dan ketertarikan, sangat merefleksikan pameran ini. Crossroads, di mana orang-orang bertemu di satu titik dari berbagai macam latar belakang yang berbeda, ungkap Lambert.

Dari Kiri, Satriagama Rakantaseta, Erwindo Kolopaking, H.E. Amb. Lambert Grijns, dan Marrik Bellen dalam opening speech di De Javasche Bank (Foto: PKIP)

Terdapat tiga karya yang tampil dalam pameran di De Javasche Bank. Pertama, menampilkan dan menjelaskan salah satu tokoh yang ahli tentang Islam, Christiaan Snouck Hurgronje dan perannya dalam menyebar pengetahuan tentang studi Islam, khususnya di Belanda saat zaman Hindia-Belanda. 

淒ia (Snouck) merupakan sosok yang dikagumi sekaligus dibenci. Ia berhasil meyakinkan pemerintahan Hindia-Belanda untuk mengizinkan masyarakat pribumi membuat kantor agama. Tapi ia juga dibenci karena dianggap sebagai mata-mata pemerintah Hindia-Belanda, jelas Marrik.

Karya kedua yang hadir dalam pameran itu adalah hasil studi tentang koneksi maritim di masa awal Asia Tenggara. Sementara karya ketiga berbicara tentang rempah-rempah dari gunung hingga daerah laut. Hal ironik yang terungkap pada karya itu adalah alih fungsi lahan perkebunan rempah-rempah menjadi lahan pertambangan di Halmahera, Maluku Utara. 

Penulis: Muhammad Naqsya Riwansia

Editor: Edwin Fatahuddin Ariyadi Putra

AKSES CEPAT