Pneumokoniosis merupakan penyakit yang paling sering ditemukan di antara semua penyakit akibat kerja, dimana silikosis merupakan salah satu jenis pneumokoniosis yang paling umum terjadi. Tuberkulosis (TB) merupakan komplikasi silikosis yang telah menjadi fokus perhatian klinis selama beberapa abad terakhir. Risiko berkembangnya tuberkulosis dilaporkan 2,8 hingga 39 kali lebih tinggi pada pasien dengan silikosis dibandingkan dengan individu yang sehat. Oleh karena itu, pada penelitian ini kami melaporkan kasus seorang laki-laki berusia 28 tahun yang datang dengan keluhan batuk kering kronis, penurunan berat badan dan nafsu makan serta timbulnya keringat berlebih saat tidur di malam hari. Pasien ini bekerja di pabrik kulit sintetis selama 7 tahun dan jarang menggunakan alat pelindung diri. Hasil rontgen dada menunjukkan adanya fibroinfiltrat bilateral dan hasil uji spektrofotometri silika dan GenXpert BAL secara berturut-turut menunjukkan positif silikosis dan tuberkulosis. Hasil pemerikasaan akhir Pasien telah didiagnosis penyakit paru akibat kerja yang disertai komplikasi tuberkulosis yaitu silicotuberculosis.
Silicotuberculosis merupakan penyakit yang sering dialami oleh pekerja yang terpapar debu silika. Pasien mendapat terapi tuberkulosis dan disarankan untuk pensiun dini karena cacat. Durasi dan tingkat intensitas paparan, serta tingkat keparahan silikosis, merupakan faktor dari tuberkulosis. Diagnosis silikosis dapat dibuat dari riwayat pekerjaan atau paparan silika, serta temuan radiologis dan histopatologis yang sesuai.
Silicotuberculosis merupakan penyakit yang sering dijumpai pada pasien dengan riwayat pajanan silika di daerah endemis TB. Diagnosis kedua penyakit ini seringkali sulit ditegakkan karena gambaran klinis dan radiologis yang tumpang tindih. Pemeriksaan lavage bronchoalveolar berperan penting dalam diagnosis silicotuberculosis dengan ditemukannya partikel silika dan kuman TB. Penatalaksanaan silikosis masih terbatas pada pemberian obat simtomatik dan pengendalian infeksi. Obat anti TB diberikan kepada pasien silicotuberculosis sesuai dengan regimen standar. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran akan terjadinya silikosis pada pekerja yang berisiko tinggi.
Penulis: Isnin Anang Marhana, dr., Sp.P(K), FCCP
Link:





