UNAIR NEWS – Masyarakat Yuris Muda Airlangga (MYMA) FH UNAIR kembali menoreh prestasi yang membanggakan. Delegasinya berhasil menyabet juara dua dalam lomba karya tulis ilmiah (LKTI) untuk Parahyangan Legal Competition (PLC) 2022 pada Minggu (16/10/2022). Ketiga anggota delegasi itu adalah Ika Putri Rahayu (2019), Elsa Ardhilia Putri (2019), dan Apriska Widiangela (2019). Angeline Irene Santoso (2020) juga ikut dalam tim sebagai Official. Untuk mengulik kisahnya lebih lanjut, tim redaksi mewawancarai mereka bertiga pada Sabtu (22/10/2022).
Iput, sapaan akrab Ika Putri, menuturkan bahwa judul LKTI yang mereka tulis adalah 淩ekonstruksi Hukum terkait Pembayaran Upah Cuti Melahirkan yang Berkeadilan Gender: Penerapan Social Security Systems. Topik ini dilatarbelakangi wacana pengesahan RUU Kesejahteraan Ibu dan Anak (RUU KIA) yang memperpanjang cuti melahirkan menjadi 6 bulan, dari yang sebelumnya hanya sepanjang 3 bulan menurut UU Ketenagakerjaan. Elsa menambahkan bahwa rencana ini tentu patut diapresiasi, tetapi polemik muncul karena beban pengusaha untuk membayar upah cuti melahirkan menjadi bertambah.
淎kibatnya, alih-alih semakin melindungi hak maternitas pekerja perempuan, perpanjangan cuti melahirkan dikhawatirkan dapat menimbulkan diskriminasi bagi perempuan di pasar tenaga kerja dan justru semakin menjauhkan dari agenda keadilan gender, tutur Elsa.
Angel, sapaan akrab Apriska, mengatakan bahwa solusinya adalah pemerintah harus mengadopsi social security systems, sebagaimana telah dianjurkan oleh International Labour Organization (ILO) via Konvensi ILO No. 103 dan No. 183. Dalam sistem ini, pembayaran tunjangan/upah cuti melahirkan nantinya tidak ditanggung sepenuhnya oleh pengusaha, melainkan dihimpun dari premi yang harus dibayarkan oleh pengusaha, pekerja (baik laki-laki maupun perempuan), dan pemerintah. Dari sini, hak pekerja yang berkeadilan gender dapat tercipta tanpa membebani perusahaan.
Mereka bertiga menceritakan bahwa tidak mudah mengikuti lomba karya tulis saat menempuh tahun ketiga perkuliahannya. Hal ini dikarenakan bahwa mereka harus membagi kesibukan mereka dengan penulisan skripsi. Tak hanya itu, tantangan utama adalah menyusun karya tulis dengan solusi yang kreatif namun implementatif. Elsa menjelaskan selama proses penyusunan mereka dibantu oleh beberapa dosen FH UNAIR.
淜etika kami dinyatakan lolos ke babak final, maka langkah selanjutnya adalah mempersiapkan presentasi dengan sangat baik dan teliti. Tantangannya adalah meringkas tulisan 30 halaman dalam presentasi 15 menit, dan kami harus mempertahankan gagasan kami di depan dewan juri, tutur Iput.
Kesan terbaik mereka bertiga dalam mengikuti PLC adalah mereka dapat bertatapan langsung dengan dewan juri, yang berkomposisi dari Komisioner Komnas HAM dan akademisi FH Unpar. Angel mengatakan bahwa mereka sejatinya sudah senang telah mencapai babak final, dan perolehan juara 2 adalah bonus. Ia berpesan bahwa jangan ragu mencoba dan menempa diri lebih baik dari hari sebelumnya. Jadikan lomba bukan hanya sebagai ajang berkompetisi namun juga wadah untuk belajar bekerja sama dengan tim, bekerja totalitas, disiplin, dan optimal.
Penulis: Pradnya Wicaksana
Editor: Nuri Hermawan





