51动漫

51动漫 Official Website

Departemen Ilmu Sejarah Gelar Diskusi Buku bersama Guru Besar UNAIR, Tekankan Memori Kolektif

Dari kanan, Prof Purnawan Basundoro sebagai Pembahas Utama, Eni Sugiarti, SS, MHum selaku Moderator, dan Prof Bambang Purwanto selaku Penulis Buku dalam Kegiatan Diskusi Buku pada Selasa (31/03/2026) di Ruang Sriwijaya, ASEEC Tower, UNAIR Kampus B-Dharmawangsa. (Foto: Istimewa)
Dari kanan, Prof Purnawan Basundoro sebagai Pembahas Utama, Eni Sugiarti, SS, MHum selaku Moderator, dan Prof Bambang Purwanto selaku Penulis Buku dalam Kegiatan Diskusi Buku pada Selasa (31/03/2026) di Ruang Sriwijaya, ASEEC Tower, UNAIR Kampus B-Dharmawangsa. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS Departemen Ilmu Sejarah, UNAIR menggelar diskusi buku berjudul Jejak Masa Lalu di Masa Kini dan Masa Depan karya Prof Bambang Purwanto pada Selasa (31/03/2026) di Ruang Sriwijaya, ASEEC Tower, Kampus B-Dharmawangsa. Kegiatan tersebut menghadirkan Prof Purnawan Basundoro, Guru besar Sejarah perkotaan sebagai pembahasan utama serta mahasiswa Departemen Ilmu Sejarah. Fokus utama kegiatan tersebut adalah mengulas buku serta menjadi ajang otokritik terhadap peran sejarawan di masa kini.

Pola Siklus Pengulangan Sejarah

Ketua Departemen Ilmu Sejarah FIB UNAIR  Dr Johny Alfian Khusyairi, SSos, BA, MSi, MA mengingatkan kepada audiens mengenai puisi WS Rendra dengan judul Kemarin dan Esok adalah Hari ini. Ia menekankan bahwa sejarah adalah pengulangan yang bentuk siklus seperti halnya judul puisi tersebut. Selanjutnya, Ia memberikan contoh beberapa siklus sejarah yang terus berulang tetapi tidak disadari oleh beberapa orang. Menutup sambutan, Dr Johny menegaskan bahwa tugas sejarawan adalah untuk membangun dan mengingatkan kesadaran publik mengenai pola siklus sejarah yang berulang. 

Problematika Sejarawan di Indonesia

Prof Purnawan menjelaskan bahwa buku tersebut berisi otokritik untuk sejarawan dan menggunakan beberapa argumen, Argumen pertama mengenai lepasnya memori kolektif masyarakat. Ia mengambil contoh pada pandemi COVID-19. Ketika Indonesia mengalami wabah tersebut, Pemerintah terpaksa meraba-raba kebijakan akibat hilangnya ingatan kolektif mengenai pandemi flu spanyol seabad lalu. Akibat kehilangan memori tersebut, menyebabkan masyarakat dan pemerintah merespons dan mengambil tindakan dengan bersifat trial and error.听听

淜etika terjadi bencana Covid-19 tahun 2019 salah satu problemnya itu karena nyaris kita tidak memiliki atau tidak menyisakan memori tentang kejadian serupa yang terjadi pada 100 tahun yang lalu tentang bencana flu Spanyol, ujar Prof Purnawan.

Argumen kedua mengenai legitimasi sejarah. Mengutip dari buku, Prof Purnawan memberikan contoh pemindahan ibukota ke IKN tidak hanya sekadar pemindahan kekuasaan saja. Akan tetapi, memiliki aspek historis arkeologis yaitu mengenai penemuan Prasasti Yupa. Dalam aspek sejarah, penemuan tersebut menjadi sejarah baru serta pembatas antara zaman prasejarah dan zaman sejarah. Kemudian, pemindahan ibukota ke IKN akan menjadikan Indonesia baru yang tidak jawa sentris.

Argumen ketiga mengenai suksesi pemilihan, argumen keempat mengenai multikultural, dan argumen kelima mengenai tambang. Menurutnya, kelima argumen tersebut sangat relevan di masa sekarang dan cukup bernilai sebagai otokritik sejarawah. Pada akhir diskusi, Ia mendorong sejarawan menulis sejarah dengan tujuan mencegah kebingungan publik dan kehilangan arsip sejarah.

Penulis: Yongki Eka Cahya

Penyunting; Ragil Kukuh Imanto

AKSES CEPAT