51动漫

51动漫 Official Website

Depresi pada Remaja, Apa yang Bisa Kita Ketahui

Folo by Alomedika

Depresi merupakan masalah besar kesehatan. Secara umum, masalah ini menempati urutan keempat masalah kesehatan termasuk pada kalangan anak-anak dan remaja. Global Burden of Disease dan Jurnal terkemuka The Lancet melaporkan terjadi peningkatan global kasus depresi yang sangat besar di tahun 2020, yaitu sebanyak 76.2 juta orang.  Diantara mereka yang mengalami depresi, remaja dan usia dewasa adalah kelompok usia yang terpengaruh paling besar terhadap depresi. Dari sisi jenis kelamin, dua pertiga penyandang depresi adalah wanita.

Remaja yang mengalami depresi beresiko mengalaminya secara berulang, mulai dari 6 hingga 12 bulan. Beberapa penelitian melaporkan depresi pada remaja perempuan terkait dengan aborsi, menjadi korban kekerasan dari pasangan hingga mengalami perceraian. Oleh karena itu dirasa sangat perlu mengenali depresi pada remaja, apa saja factor yang mempengaruhinya dan apa dampaknya.

Dikompilasi dari berbagai laporan penelitian, terdapat setidaknya 37 faktor yang terkait dengan depresi, baik yang bersifat sebagai penyebab maupun sebagai pelindung dari terjadinya depresi pada remaja. Temuan yang sangat menarik karena banyaknya factor yang perlu menjadi perhatian. Apa saja factor yang disajikan di International Journal of Public Health Science dengan judul Psychosocial factors related to adolescent depressive symptom: systematic literature review ini, mari kita simak. (tautan tulisan ini dapat diakses di DOI: 10.11591/ijphs.v12i1.22413).

Yang pertama adalah factor-faktor yang terkait dengan aspek psikologis. Berbagai hal yang dapat memicu terjadinya depresi pada remaja diantaranya adalah kepribadian neurotis dan insecure (merasa tidak aman); cara berpikir yang negatif, yang cenderung menyalahkan diri atau hanya percaya pada pemikiran sendiri. Suasana emosi yang diliputi ketakutan dan perilaku bermasalah seperti suka menunda pekerjaan juga dapat berkontribusi terhadap depresi.

Orangtua yang kasar, cara mengasuh yang tidak jelas atau berubah-ubah, dan orangtua yang mengabaikan anak dilaporkan juga berkontribusi terhadap depresi pada remaja. Faktor-faktor ini menjadi semakin menjadi ketika seroang remaja dihadapkan pada kejadian yang sulit.

Sebaliknya, remaja dengan tipe kepribadian yang positif dapat terjaga dari depresi. Misalnya mereka dengan kepercayaan diri yang positif, yakin pada dirinya, optimis, terbuka, dapat mengelola emosi, dan melakukan adaptasi secara logis, serta resilien. Sifat-sifat ini diperkuat oleh dukungan dan kedekatan dengan orangtua dan keberadaan orang-orang yang mendukung akan menguatkan remaja sehingga tidak mudah mengalami depresi.

Pada era digital saat ini, bullying atau menimpakan kesalahan pada orang lain merupakan tantangan remaja. Di satu sisi teknologi membantu remaja membangun interaksi dan identitas diri, namun disisi lain teknologi juga dapat menyerang remaja melalui cyber-victimization dan cukup banyak remaja yang mengalami depresi karena hal ini.

Mengenali berbagai factor yang dapat memicu atau menjaga remaja dari depresi sangat penting untuk membuat tindakan yang membantu remaja menjaga dirinya. Jika ditelusuri dari temuan berbagai penelitian tersebut, peran orangtua dalam pengasuhan dan dalam membentuk karakter remaja sangat penting untuk diperhatikan. Mendampingi remaja dan memberikan dukungan kepada mereka juga menjadi tindakan yang sangat fundamental.

Demi mengurangi atau menghambat laju pertumbuhan masalah gangguan jiwa, nampak bahwa tindakan harus segera dimulai. Jika tidak, jangka panjang sebagai kelanjutan dari remaja yang mengalami depresi dapat membahayakan masa depan bangsa.

Penulis: Endang Retno Surjaningrum

Link Jurnal:

AKSES CEPAT