Dermatitis Atopik atau biasa disebut dengan eksim atopik (atopic eczema) adalah suatu jenis penyakit kulit yang bersifat kronis, pruritus (rasa gatal), inflamatif. Dermatitis Atopik banyak ditemukan pada balita serta anak-anak, dan sering diasosiasikan dengan abnormalitas pada fungsi lapisan sawar kulit (skin barrier), sensitisasi alergen, dan infeksi kulit yang berulang. Diperkirakan bahwa 15-20% anak-anak dan 1-3% orang dewasa menderita Dermatitis Atopik. Angka keterjadian ini meningkat hingga tiga kali lipat pada beberapa dekade terakhir khususnya di negara-negara yang memiliki area industri.
Dermatitis Atopik dianggap sebagai tahapan awal dari ˜pawai atopik™ (atopic march). Pawai atopik atau yang juga biasa disebut dengan pawai alergi merupakan tahapan perkembangan dari Dermatitis Atopik yang diawali pada masa anak usia dini dan selanjutnya dapat berkembang menjadi gangguan alergi lain di kemudian hari. Kemunculan penyakit Dermatitis Atopik pada anak-anak seringkali dijadikan acuan indikasi adanya perkembangan asma dan/atau rinitis alergi (hay fever) pada usia anak yang lebih tua. Beberapa komplikasi Dermatitis Atopik pada tahapan yang lebih lanjut termasuk dan tidak terbatas pada asma, rinitis alergi, infeksi kulit, dan gangguan psikososial (psychosocial disorder). Pruritus (rasa gatal) kronis, kurang tidur, dan biaya yang berhubungan dengan terapi seringkali menjadi salah satu aspek yang mengkhawatirkan untuk pasien dan keluarga. Salah satu penelitian bahkan telah menyebutkan bahwa penyakit Dermatitis Atopik berhubungan dengan prestasi sekolah yang buruk, rendahnya kepercayaan diri, serta disfungsi keluarga.
Rasio penderita Dermatitis Atopik antara perempuan dan laki-laki adalah 1.14:1. Berdasarkan suatu penelitian, Dermatitis Atopik pada kelompok anak-anak berumur 1-10 tahun tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, meskipun demikian pada kelompok anak-anak berumur 10-18 tahun Dermatitis Atopik lebih sering ditemukan pada perempuan. Sebanyak 85% anak-anak menderita Dermatitis Atopik sebelum menginjak umur lima tahun. Dermatitis Atopik paling banyak ditemukan pada bayi (infancy) dimana 45% diantaranya mengalami gejala awal Dermatitis Atopik di enam bulan pertama setelah lahir, 60% di bawah umur satu tahun, dan 85% di umur di bawah lima tahun.
Salah satu rumah sakit terbesar di Indonesia yang terletak di provinsi Jawa Timur adalah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo. Sebagai salah satu rumah sakit rujukan nasional, RSUD Dr. Soetomo menerima pasien dengan kondisi Dermatitis Atopik. Sebuah penelitian dilakukan selama periode 1 Januari 2019 hingga 31 Desember 2019 bertempat di Unit Rawat Jalan (URJ) bagian Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo untuk mengetahui faktor-faktor pencetus yang turut berpengaruh pada kejadian Dermatitis Atopik pada anak-anak. Faktor-faktor yang diteliti antara lain umur, jenis kelamin, status gizi, dan riwayat atopi keluarga.
Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui prevalensi (persebaran) pasien Dermatitis Atopik pada anak. Korelasi faktor-faktor pencetus yang berpengaruh pada keterjadian Dermatitis Atopik diteliti dengan penelitian deskriptif, menggunakan rancangan studi cross-sectional menggunakan rekam medis pasien Dermatitis Atopik pada anak. Studi cross-sectional adalah suatu jenis rancangan penelitian yang menganalisis data yang telah dikumpulkan pada satu periode waktu tertentu pada sampel yang telah ditentukan sebelumnya. Pada penelitian ini, periode waktu yang dipilih adalah 1 Januari 2019 hingga 31 Desember 2019 dan populasi yang dipilih adalah pasien Dermatitis Atopik anak (umur 1 bulan hingga 18 tahun) di URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo.
Berdasarkan ketentuan yang telah disebutkan, didapatkan sejumlah total 185 pasien Dermatitis Atopik di URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo. Dari 185 pasien tersebut, 86 di antaranya adalah anak umur 1 bulan hingga 18 tahun yang memenuhi kriteria. Enam diantaranya tidak diikutkan dalam proses analisis sehingga tersisa sejumlah 80 pasien.
Distribusi jenis kelamin pasien Dermatitis Atopik anak di RSUD Dr. Soetomo didominasi oleh perempuan yakni sebanyak 54.9%. Kelompok usia terbanyak adalah anak-anak berusia 5-9 tahun yakni sebesar 30.5%. Pasien dengan status gizi lebih (overweight) dan obesitas ditemukan pada 53.6% pasien. Pasien yang datang dengan diagnosis Dermatitis Atopik tanpa penyakit kulit lain sebesar 76.9%. Sejumlah 31.7% pasien memiliki riwayat atopi keluarga dengan jenis terbanyak yaitu asma sebesar 9.8%, dan 20.7% pasien memiliki riwayat atopi personal dengan jenis terbanyak yaitu adanya riwayat alergi sebesar 14.6%.
Data menunjukkan bahwa 88.4% dari anak-anak berumur ≤ 60 bulan memiliki Dermatitis Atopik tanpa komplikasi, sedangkan 62.2% dari anak-anak berumur > 60 bulan mengalami Dermatitis Atopik dengan komplikasi. Artinya, jumlah pasien yang menderita Dermatitis Atopik dengan komplikasi meningkat bersama dengan umur pasien tersebut. Terdapat beberapa alasan yang mungkin dapat menjelaskan fenomena ini. Salah satu di antaranya adalah Dermatitis Atopik adalah penyakit yang bersifat multifaktor, dan terjadi karena interaksi antara kerentanan genetik yang berakibat pada kerusakan sawar kulit, gangguan sistem imun, dan peningkatan respon imun (sensitisasi) terhadap alergen dan antigen mikroba.
Penelitian ini tidak menemukan adanya hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan keterjadian Dermatitis Atopik dengan komplikasi. Partisipan laki-laki dan perempuan, masing-masing 79.5% dan 72.2% tidak mengalami komplikasi. Seringkali, persebaran jenis kelamin pasien sangat dipengaruhi oleh faktor demografi di area tersebut. Selanjutnya, penelitian ini juga tidak menemukan adanya hubungan yang signifikan antara riwayat atopi keluarga dengan kejadian Dermatitis Atopik dengan komplikasi. Sebanyak masing-masing 73.1% dan 77.8% pasien dengan dan tanpa riwayat atopi keluarga tidak mengalami komplikasi. Terdapat hubungan yang kompleks antara penyakit-penyakit alergi (Dermatitis Atopik, asma, rinitis), sehingga dibutuhkan riwayat keluarga yang mendetail untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasi resiko dan penyakit fenotip.
Riwayat keluarga saja belum dapat menjadi kriteria diagnostik untuk Dermatitis Atopik, namun dapat membantu mengkonfirmasi kejadian Dermatitis Atopik. Terakhir, penelitian ini menemukan adanya hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kejadian Dermatitis Atopik dengan komplikasi. Dimungkinkan bahwa kenaikan Indeks massa tubuh atau Body Mass Index (BMI) dapat berkembang menjadi Dermatitis Atopik. Obesitas adalah kondisi yang bersifat ±è°ù´Ç¾±²Ôfla³¾³¾²¹³Ù´Ç°ù²â atau mendukung terjadinya peradangan sedangkan Dermatitis Atopik adalah penyakit radang kronik (chronic inflammatory disease).
Penulis : Dr.Damayanti,dr.,Sp.KK(K)
Informasi lengkap dari tulisan ini dapat dilihat pada artikel kami di :
Age and Nutritional Status as Factors Supporting Incidence of Atopic Dermatitis with Complications in Children: A Retrospective and Cross Sectional Study
Khansa Raihani Rosmalika, Damayanti, Azwin Mengindra Putera





