51动漫

51动漫 Official Website

Fototerapi Narrowband Ultraviolet B (NB-UVB) pada Psoriasis

Foto by Halodoc

Psoriasis adalah salah satu penyakit inflamasi kulit kronis yang paling sering ditemukan. Angka penderitanya juga terus meningkat, ditemukan dengan adanya peningkatan jumlah pasien psoriasis vulgaris sebanyak 1.8% di RSUD Dr. Soetomo Surabaya dari tahun 2016 ke tahun 2017. Psoriasis juga memberikan dampak yang buruk terhadap kualitas hidup penderitanya. Hal ini disebabkan oleh gangguan secara fisik dan emosional yang dirasakan oleh penderita psoriasis. Dinilai dari skor Dermatology Life Quality Index (DLQI), skor kualitas hidup penderita psoriasis berkisar antara 6-20 (sedang hingga berat). Selain itu, pasien psoriasis juga dilakukan penghitungan skor Psoriasis Area and Severity Index (PASI), skor PASI yang tinggi mengindikasikan kualitas hidup dan disabilitas kerja yang semakin buruk.

Kualitas hidup pasien psoriasis dapat membaik dengan terapi yang berhasil. Terapi psoriasis bertujuan untuk mencapai remisi dan memperpanjang periode remisi selama mungkin karena psoriasis dapat kambuh kembali setelah beberapa saat atau jika terdapat inflamasi. Terapi psoriasis dikatakan berhasil jika tercapai pengurangan skor PASI sebanyak 75% dari skor PASI awal atau dikenal dengan istilah PASI-75. Jenis-jenis terapi psoriasis yang digunakan sekarang adalah terapi topikal, fototerapi/fotokemoterapi, terapi sistemik, dan agen biologis. Sangat penting untuk menemukan terapi yang paling efektif untuk penderita psoriasis untuk mencapai perbaikan kualitas hidup penderita psoriasis.

Narrowband ultraviolet B (NB-UVB) adalah salah satu jenih fototerapi untuk psoriasis. NB-UVB bila dibandingkan dengan jenis fototerapi lain seperti psoralen-ultraviolet A (PUVA) dinilai lebih aman, dengan efek samping dan risiko kanker kulit yang lebih sedikit. Penggunaan NB-UVB di Indonesia masih belum diketahui efektivitasnya. Di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, fototerapi NB-UVB merupakan pilihan terapi psoriasis yang baru diaplikasikan mulai tahun 2019. Penelitian ini memberikan gambaran penggunaan dan respon terapi pasien psoriasis terhadap fototerapi NB-UVB untuk kemudian dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasien psoriasis.

Untuk dapat mendapatkan gambaran penggunaan dan respon terapi pasien psoriasis, penelitian ini menilai dari faktor usia, skor PASI, tipe psoriasis, riwayat terapi pasien, dosis, dan frekuensi dari fototerapi NB-UVB yang dijalani pasien. Jenis studi retrospektif digunakan dengan data dari rekam medis pasien psoriasis yang menjalani fototerapi NB-UVB di IRJ dan IRNA Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo sepanjang Maret 2019 hingga November 2020 yang rekam medisnya lengkap mencakup seluruh data yang dibutuhkan. Dari ketentuan yang disebutkan, didapatkan total 28 pasien yang memenuhi kriteria.

Distribusi usia pasien psoriasis rata-rata 43.68 tahun. Jenis psoriasis yang paling banyak ditemukan adalah psoriasis tipe plak/vulgaris yaitu diderita oleh 92.9% dari seluruh pasien. Seorang pasien psoriasis dapat menderita lebih dari satu tipe psoriasis. Didapatkan 1 pasien menderita kombinasi psoriasis tipe plak/vulgaris dan eritrodermik; 2 pasien dengan psoriasis tipe plak/vulgaris dan gutata; 2 pasien dengan psoriasis tipe plak/vulgaris dan artritis; 1 pasien dengan psoriasis tipe eritrodermik, plak/vulgaris, dan pustulosa; 1 pasien dengan psoriasis tipe plak/vulgaris, artritis, dan gutata; dan 1 pasien dengan kombinasi psoriasis tipe eritrodermik, plak/vulgaris, artritis, dan gutata. Pasien yang berhasil mencapai PASI-75 seluruhnya adalah pasien dengan psoriasis tipe plak/vulgaris.

Pasien yang memulai fototerapi NB-UVB kebanyakan telah memiliki skor PASI yang parah, skor PASI > 10 didapatkan pada 82.1% pasien. Dari penelitian ini, didapatkan 60.7% pasien mencapai penurunan skor PASI, namun belum mencapai PASI-75 atau keberhasilan terapi. Hanya sebagian kecil pasien mencapai PASI-75, yaitu sebanyak 17.9%. Sejumlah 21.4% pasien lainnya belum terdapat penurunan skor PASI, hal ini dikarenakan pasien melewatkan beberapa kali sesi fototerapi dan beberapa pasien baru menjalani 4 sesi fototerapi. Rata-rata pasien menjalani sesi fototerapi sejumlah 31.54 kali. Hasil ini tidak sesuai panduan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI), yang menyatakan bahwa pasien psoriasis dapat mencapai keberhasilan terapi setelah 15-20 sesi fototerapi NB-UVB.

Mayoritas pasien psoriasis yang berhasil mencapai PASI-75 telah menjalani fototerapi NB-UVB sejumlah 40-60 sesi terapi. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa lebih banyak sesi fototerapi tidak menentukan tercapainya PASI-75 karena terdapat pasien yang sudah menjalani lebih dari 60 sesi fototerapi tapi belum mencapai PASI-75. Pasien yang tidak merespon baik terhadap fototerapi (skor PASI > 10) dapat dilanjutkan dengan terapi agen biologis.

Sebelum menerima fototerapi NB-UVB, pasien psoriasis telah menggunakan beberapa macam terapi lainnya juga, seperti krim Desoximetasone 0.25% yang digunakan oleh 75% pasien. Adapun Desoximetasone adalah kortikosteroid poten yang memiliki efek antiinflamasi dan antiproliferasi. Selain itu, pasien juga mendapatkan beberapa terapi kombinasi dengan fototerapi NB-UVB seperti Cetirizine yang digunakan oleh 96.4% pasien. Adapun Cetirizine adalah obat golongan antihistamin yang bermanfaat mengurangi intensitas gatal pada pasien psoriasis.

Dosis fototerapi NB-UVB diberikan berdasarkan tipe kulit Fitzpatrick orang Indonesia dan berdasarkan dosis rekomendasi PERDOSKI, yaitu 260 mJ/cm2, dan dosis yang sama diberikan pada seluruh pasien. Adapun dosis awal diberikan lebih rendah dapat mencegah efek samping penggunaan fototerapi NB-UVB, meski keberhasilan terapi lebih cepat dicapai pada dosis yang lebih tinggi. Dosis fototerapi NB-UVB dapat berubah sesuai kebutuhan terapi tiap pasien, dengan tetap mengikuti panduan penggunaan fototerapi NB-UVB. Dosis juga dapat diturunkan pada pasien yang telah mencapai penurunan skor PASI hingga skor PASI 1. Pasien yang melewatkan sesi fototerapi juga beberapa perlu diturunkan dosis fototerapinya, sesuai dengan panduan fototerapi NB-UVB. Selain dosis, frekuensi pemberian fototerapi NB-UVB juga bervariasi dan harus disesuaikan dengan panduan fototerapi NB-UVB oleh PERDOSKI.

Salah satu penyebab kegagalan terapi adalah ketidakpatuhan pasien dalam mengikuti jadwal fototerapi NB-UVB meskipun fototerapi sudah dilakukan sesuai panduan. Ketidakpatuhan ini juga dapat meningkatkan biaya kesehatan yang dibutuhkan untuk terapi psoriasis. Hanya 28.6% pasien yang tidak pernah melewatkan sesi fototerapi NB-UVB. Kepatuhan terapi di negara berkembang seperti Indonesia didapat lebih rendah daripada negara maju, hal ini dapat berdampak pada hasil terapi yang kurang adekuat, peningkatan risiko kesehatan lain, dan penggunaan dana kesehatan yang tidak efektif. Ketidakpatuhan pasien dapat berasal dari faktor pasien sendiri seperti faktor demografis, sosioekonomi, dan pemahaman serta ekspektasi pasien terhadap terapi. Dapat juga berdasar dari faktor terapi seperti durasi terapi, frekuensi terapi, dan efek samping. Serta dapat juga berasal dari faktor penyakit seperti kronisitas terapi dan dampak estetika dari penyakit.

Penelitian ini mendapatkan beberapa faktor dapat mempengaruhi keberhasilan terapi psoriasis, dibagi menjadi faktor terapi dan faktor pasien. Faktor terapi yaitu jumlah sesi fototerapi NB-UVB, terapi kombinasi, dosis, dan frekuensi terapi. Faktor pasien berupa ketidakpatuhan pasien yang juga mempengaruhi dosis dan frekuensi terapi.

Penulis : Prof. Dr. Cita Rosita Sigit Prakoeswa, dr., Sp.KK(K)

Informasi lengkap dari tulisan ini dapat dilihat pada artikel ini di :

Narrowband Ultraviolet B (NB-UVB) Phototherapy in Psoriasis: A Retrospective Study

Faida Ufaira Prameswari, Cita Rosita Sigit Prakoeswa, Widiana Ferriastuti

AKSES CEPAT