Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit infeksi menular yang sampai kini masih banyak berakibat kematian. Penyakit TBC sebetulnya dapat disembuhkan, dengan cara penanganan dan pengobatan Pasien secara tepat, dan disertai kepatuhan Pasien minum obat dan taat menjaga kesehatan dengan mengkonsumsi nutrisi yang sehat bergizi dan lingkungan higienis sanitasi yang bersih seperti yang disarankan Dokter. TBC paling sering mengenai organ Paru (TBC Paru), namun juga dapat menyerang jaringan organ yang lain di tubuh manusia atau hewan. Pada laporan Lembaga Kesehatan dunia WHO pada tahun 2021, sampai saat kini angka kejadian insidens atau prevalensi TBC paru masih tinggi, dan ada peningkatan angka kejadian TBC Ekstra Paru, dengan angka kematian cukup tinggi. Beberapa negara Asia termasuk Indonesia merupakan daerah endemik TBC, berkontribusi 48% ditemukan kasus TBC baru setiap tahunnya. Angka penularan TB juga masih tinggi, berkaitan dengan angka deteksi bakteri TBC secara mikroskopis juga masih tinggi.
Pengobatan pasien TBC Paru atau Ekstra Paru yang tepat, dimulai dengan penentuan metode penegakan Diagnosis TBC yang akurat atau tepat pula, ditemukan atau dideteksi bakteri TBC penyebab menjadi dasar menentukan pengobatan.
Pengembangan metode Diagnosis TBC merupakan langkah awal menentukan ketepatan diagnosis. Penegakan diagnosis TBC yang tepat menentukan tahapan serial selanjutnya pada proses pengobatan pasien, menentukan keberhasilan pengobatan. Diagnosis definitive merupakan penegakan diagnosis yang akurat “ tepat, berarti ditemukan bakteri pathogen Mycobacterium tuberculosis sebagai penyebab penyakit TBC pada sampel bahan pemeriksaan yang diperoleh dari kerusakan jaringan organ pasien. Bahan pemeriksaan dapat berupa dahak dari saluran nafas bawah atau yang dibatukkan, atau dari sampel jaringan ekstra paru yang terinfeksi. Metode diagnosis definitive a.l. pemeriksaan mikroskopis sinar biasa, ditemukan bentukan karakteristik sel bakteri TBC, metode mikroskopis memiliki makna TBC Paru. Namun ada kesulitan pada pemeriksaan sampel TBC ekstra paru, a.l. TBC kelenjar. TBC tulang, TBC selaput otak, sering tidak ditemukan sel-sel bakteri secara mikroskopis pada sampel jaringan pada TBC ekstra paru. Metode pemeriksaan laboratorium lainnya untuk diagnosis definitive yaitu metode pembiakan sampel pasien terduga TBC. Keuntungan metode kultur, menggandakan atau multiplikasi sel- sel bakteria yang ada dalam sampel bahan pemeriksaan dari pasien, sehingga meningkatkan positifitas deteksi bakteri dengan temuan koloni bakteri TBC yang karakteristik dan dilanjutkan dengan uji biokimia untuk penegakan species bakteri TBC. Namun car ini memerlukan waktu lama 6 “ 8 minggu untuk memperoleh hasil pemeriksaan terdeteksi bakteri penyebab TBC, sedangkan pasien memerlukan pengobatan segera, untuk dapat segera sembuh dan tidak menular. Metode pemeriksaan lainnya untuk deteksi bakteri TBC menggunakan Teknik amplikasi asam nukleat DNA atau RNA, saat kini sering digunakan di laboratorium Kesehatan yaitu Polymerase Chain Reaction (PCR) merupakan cara akurat dan cepat, namun tidak selalu menggambarkan bakteri masih hidup atau sudah mati bersisa asam nukleat saja. Demikian juga ada kendala pada kasus pasien TBC Ekstra Paru seperti TBC kelenjar, TBC selaput otak, atau TBC tulang, sebaiknya pengambilan sampel dengan Teknik yang kurang atau tidak invasive, seperti aspirasi menggunakan jarum halus (FNAB), atau dapat menggunakan sampel darah atau serum. Demikian juga kesulitan sampel dahak pada kasus Anak, dan pasien TB-HIV.
Pengembangan metode diagnosis selain metode diagnosis definitive tersebut, diperlukan juga metode deteksi biomarker dalam serum “ darah, sebagai molekul molekul hasil reaksi tubuh terhadap agen penyebab infeksi yang berperan pada proses radang pada penyakit infeksi. Berdasar pada TBC adalah penyakit infeksi kronis, TBC Paru atau TBC Ekstra Paru juga terjadi reaksi radang atau inflamasi, peningkatan molekul “ molekul dan sel “ sel radang pada fokal infeksi dalam tubuh pasien. Peningkatan molekul sebagai biomarker ini mudah ditemukan dalam serum “ darah pasien TBC kronik-aktifasi proses penyakitnya. Salah satu biomarker potensial seperti ensim Adenosine Deaminase (ADA), ditemukan dalam serum – darah dan cairan tubuh yang terlibat proses radang pada penyakit infeksi termasuk TBC. Kadar ensim ADA dalam serum “ darah meningkat pada pasien kasus TBC aktif, karena stimulasi antigen bakteri TBC terhadap sel sel limfosit T. Metode pemeriksaan ensim ADA ditunjang laporan hasil penelitian, deteksi peningkatan ADA dalam cairan pleural pasien TBC efusi pleura (selaput paru).
Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan kadar ADA dalam serum “ darah pasien terduga TBC, sebagai biomarker untuk parameter diagnosis, menyatakan diagnosis TBC PARU atau TBC Ekstra Paru.
Metode Penelitian
Studi observasional, penelitian dilakukan mulai bulan Januari 2020 sampai November 2020, disertai perijinan dan teruji Etik. Sampel berupa serum “ darah pasien TBC Paru dan TBC Ekstra Paru, sempel darah vena 6 ml dilakukan pemisahan serum. Pemeriksaan kadar ADA dalam serum menggunakan metode ELISA, dilakukan di Laboratorium Patologi Klinik di RS Dr Ramelan Surabaya. Pemeriksaan dengan metode standar PCR “ gen gyrB, dilakukan di Laboratorium TB di Lembaga Penyakit Tropis 51¶¯Âþ. Besar sampel merupakan total sampling pasien dengan diagnosis klinis TBC Paru dan TBC Ekstra Paru. Ketepatan diagnosis berdasar deteksi kadar ADA dalam serum “ darah pada pasien TBC PARU dan Ekstra Paru ditentukan membandingkan standar baku gold standard metode kultur TB, diagnostic definitive ditemukan bakteri TBC, meliputi sensitifitas, spesifisitas, nilai prediktif positip dan negatip.
Hasil Penelitian dan Diskusi
Total 176 sampel serum “ darah pasien TBC, meliputi pasien pria 101 (57,4%) dan Wanita 42,6%, pasien pria lebih banyak dikaitkan dengan temuan kebenyakan perokok yang berakibat timbulnya jaringan ikat scar tissue pada jaringan organ paru berakibat mudah infeksi dan radang pada jaringan organ paru. Pasien TBC kebanyakan berusia lebih dari 50 tahun, kemudian usia 30 “ 40 tahun, ini merupakan usia produktif yang berisiko terpapar lingkungan. Pada 176 sampel, sampel dari TBC Paru 122, lebih besar dari pada pasien TBC Ekstra Paru 44 pasien. TBC Ekstra Paru meliputi TBC kelenjar, TBC selaput otak, dan TBC tulang/ Spondylitis. Kebanyakan pasien merupakan rujukan pasien dari Puskesmas satelit Rs Dr Ramelan Surabaya. Kadar ADA terdeteksi rerata pada pasien TBC Paru 20,05 U/L, pada pasien TBC Ekstra Paru 17,14 U/L, pada pasien TBC Paru disertai Ekstra Paru dengan kadar ADA 20,23 U/L, pada analisis statistik tidak ada perbedaan signifikan. Juga dinyatakan kebanyakan pasien dengan BTA negatip pada pemeriksaan sel sel bakteri secara mikroskopis, dan 122 pasien telah menjalani pengobatan, namun pada pemeriksaan rontgen foto dada masih ada kelainan gambaran radiologis jaringan paru dan masih ada keluhan sakitnya. Pada penelitian ini, ketepatan diagnosis berdasar deteksi kadar ADA dalam serum “ darah, diagnosis bermakna pada pada 18 pasien dengan TBC efusi pleural (radang selaput paru dengan cairan efusi pleura), yang dibandingkan dengan diagnosis definitive ditemukan bakteri TBC penyebab infeksi. Demikian juga ada perbedaan signifikan kadar ADA antara sampel serum dari pasien TBC Paru maupun TBC Ekstra Paru dibandingkan dengan serum dari kelompok orang sehat. Peneliti lain Rosfadilla, di RSUP H. Adam Malik Medan, melaporkan kadar ADA pada kelompok pasien TB efusi pleural, berbeda bermakna dengan kelompok non TB efusi pleural. Pada penelitian ini belum dapat ditemukan perbedaan bermakna antara kadar ADA pasien TBC Paru dengan kadar ADA pasien TBC Ekstra Paru, juga belum dapat membedakan kadar ADA antara pasien TBC dengan BTA positif dengan BTA negative, kemungkinan karena pada penelitian ini semua pasien TBC sudah mendapat pengobatan dalam 1 bulan atau lebih. Ensim ADA meningkat akibat adanya paparan molekul antigen atau bakteri, peningkatan katabolisme purin, mengkatalisa adenosine menjadi inosine, dan deoxyadenosine menjadi deoxyinosine, terjadi pada proses penting pada diferensiasi sel sel limfoid, dinyatakan dengan peningkatan kadar ADA.
TBC efusi pleural dilaporkan kasusnya meningkat dan penegakan diagnosis definitive deteksi bakteri penyabab infeksi masih ada kesulitan. Demikian pula kesulitan diagnosis definitive pada pasien TBC Anak, TBC meningitis, TB tulang. Penelitian lain ada yang laporkan makna ADA, penurunan kadar ada bermakna pada follow up hasil pengobatan , diantara pasien yang menuju kesembuhan dan yang sembuh setelah pengobatan kombinasi anti-TB setelah 6 bulan. Peneliti Yosuhara dkk., Jepang, melaporkan ada perbedaan bermakna kadar ADA pasien TBC Anak TBC paru aktif dengan pneumonia oleh penyebab virus, memiliki positip prediktif tinggi dan spesifisitas tinggi. Penelitian lebih lanjut makna diagnosis deteksi kadar ADA dalam serum “ darah atau cairan efusi pleural atau cairan otak, diperlukan untuk berbagai kriteria pasien TBC, pasien kasus baru, pasien pengobatan/ pengobatan ulang, TBC PARU atau Ekstra Paru. Desain studi prospektif, komparatif deteksi kadar ADA pada serum “ darah pasien, dibandingkan gold standard metode kultur, PCR-GeneXpert MTB/RIF, histopatologik jaringan biopsy, diagnostic radiologis, dan kriteria manifestasi klinis TBC.
Kesimpulan
Pemeriksaan laboratorium kadar ensim ADA dalam serum “ darah pasien TBC Paru dan TBC Ekstra Paru dinyatakan kurang sensitive untuk membedakan infeksi saluran nafas bawah/ paru, diperlukan penelitian lanjut dengan desain berbagai factor yang berpengaruh pada reaksi radang dan kadar ADA.
Penulis: Retno Budiarti, Ediono, Ni Made Mertaniasih, Soedarsono Soedarsono
Informasi detail riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
DOI: 10.52711/0974-360X.2022.00498;
Research J. Pharm. and Tech. 15 (7): July 2022: 2987 “ 2991;
Retno Budiarti, Ediono, Ni Made Mertaniasih, Soedarson;
Adenosine Deaminase Detection in Serum of Pulmonary Tuberculosis and Extra Pulmonary Tuberculosis patients at Dr. Ramelan Hospital Surabaya.





