Burung puyuh merupakan sumber protein hewani yang penting dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Burung puyuh dibudidayakan dalam jumlah besar untuk keperluan pangan termasuk telur dan daging. Tingginya protein hewani dalam daging burung puyuh menjadikannya bahan dasar pembuatan pakan mentah (pakan hewan peliharaan), selain itu feses burung puyuh digunakan untuk pakan ternak dan untuk pembuatan pupuk. Burung puyuh termasuk dalam kelompok unggas yang rentan terhadap infeksi bakteri Escherichia coli, salah satunya sebagai penyebab kolibasilosis.
Resistensi antibiotik merupakan masalah serius yang mempengaruhi kesehatan konsumsi unggas dan keamanan pangan. Tantangan utama dalam dunia kesehatan adalah munculnya infeksi oleh E. coli patogen pada unggas, terutama Avian Pathogenic Escherichia coli (APEC). Galur APEC merupakan salah satu agen penyebab penyakit berbahaya bagi puyuh karena berkontribusi terhadap resistensi antibiotik hingga penyebab Multidrug Resistant (MDR). Terjadinya MDR adalah terjadinya resistensi terhadap tiga atau lebih golongan antibiotik. Kejadian ini berpotensi memperburuk dampak infeksi, mengurangi efektivitas pengobatan, dan meningkatkan risiko penyebaran patogen berbahaya.
APEC merupakan salah satu agen penyebab kolibasilosis pada unggas, terutama pada puyuh. Patogen E. coli pada puyuh memiliki banyak faktor virulensi, yang berperan dalam proses infeksi dan patogenisitas. Salah satu gen virulensi APEC adalah gen untuk serum peningkatan kelangsungan hidup (gen iss). Gen iss berkontribusi terhadap resistensi bakteri terhadap aktivitas komplemen serum dengan menghasilkan protein yang memiliki urutan sinyal karakteristik pada protein membran luar (OMP) dan mengkode lipoprotein membran luar bakteri. Protein yang dihasilkan membantu bakteri bertahan hidup dalam serum darah inang dengan menghambat komponen sistem komplemen yang biasanya membunuh bakteri.
Berbagai pasar di wilayah Surabaya, sebagai salah satu pusat distribusi dan penjualan puyuh, berpotensi menjadi tempat penyebaran patogen dan resistensi antibiotik. Keberadaan bakteri APEC pada puyuh belum banyak dilaporkan di Indonesia, sehingga dalam identifikasi isolasi E. coli, terjadinya MDR dan gen virulensi molekuler iss pada unggas berdasarkan gejala penyakit kolibasilosis yang disebabkan oleh APEC. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gen virulensi iss pada burung puyuh APEC di Indonesia.
E. coli telah menjadi pusat perhatian dunia kesehatan dan menimbulkan kekhawatiran masyarakat, karena E. coli patogen dapat menjadi resisten terhadap antibiotik dan kemudian menular ke manusia melalui konsumsi produk hewani. Penularan infeksi ini dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan, paparan kotoran hewan, atau konsumsi bahan pangan yang terkontaminasi. E. coli diketahui membawa gen resistensi antimikroba dan memiliki kemampuan untuk melakukan transfer gen horizontal antar galur, bahkan antar spesies bakteri yang berbeda. E. coli, terutama galur APEC, merupakan penyebab utama kolibasilosis, yang merupakan tantangan besar dalam industri perunggasan, yang menyebabkan kerugian ekonomi, penurunan produktivitas, serta tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Galur APEC merupakan subgalur ExPEC yang menyebabkan infeksi sistemik pada unggas, termasuk puyuh, ayam, kalkun, bebek, dan unggas lainnya, dengan dampak signifikan terhadap produktivitas.
Hasil uji resistensi antibiotik dari lima kelompok antibiotik berbeda yang diperoleh dari usapan kloaka puyuh menunjukkan insidensi tertinggi terjadi pada antibiotik eritromisin dengan persentase 61% (84/138), diikuti oleh resistensi antibiotik streptomisin sebesar 37% (51/138), antibiotik siprofloksasin 35% (49/138), antibiotik tetrasiklin 22% (33/138), dan antibiotik aztreonam 14% (19/138). Tingginya insidensi resistensi antibiotik dalam penelitian ini menunjukkan bahwa telah terjadi penyebaran resistensi antibiotik yang tinggi pada puyuh di wilayah Surabaya, Indonesia. Kemunculan MDR menjadi salah satu tantangan permasalahan global terkait munculnya resistensi antibiotik yang mengkhawatirkan bagi kesehatan masyarakat. Resistensi terhadap antibiotik dikatakan MDR apabila resisten terhadap tiga antibiotik dari golongan yang berbeda.
Kemunculan MDR pada isolat E. coli sebesar 18% diperoleh dari usapan kloaka puyuh di pasar Surabaya. Tingginya penggunaan antibiotik oleh peternak untuk meningkatkan produktivitas ternak, tanpa mengacu pada standar penggunaan antibiotik yang benar, menjadi pemicu munculnya MDR. Terjadinya dan menyebarnya resistensi antibiotik juga dapat disebabkan oleh tingginya permintaan dalam industri unggas. Terjadinya resistensi antibiotik yang meluas, terutama MDR pada bakteri patogen, dapat menimbulkan tantangan dalam terapi pengobatan penyakit. Sejalan dengan konsep one health, penting untuk mempelajari tingkat resistensi di lingkungan, karena berperan dalam penyebaran bakteri ke manusia, hewan, dan lingkungan.
Berdasarkan hasil uji MDR pada isolat E. coli, pola resistensi yang paling umum adalah sebagai berikut: ATM/CIP/S/E (32%), diikuti oleh CIP/S/E (16%), kemudian pola resistensi CIP/TE/E, ATM/CIP/TE/S/E, dan TE/S/E, masing-masing dengan pola resistensi (12%). Pola resistensi ATM/TE/E (8%). Pola resistensi ATM/TE/S/E dan CIP/TE/S/E masing-masing dengan pola resistensi (4%). Perbedaan pola resistensi yang muncul disebabkan oleh perbedaan kombinasi jenis antibiotik yang diberikan oleh peternak. Hal ini disebabkan karena penggunaan antibiotik yang beragam, perbedaan geografis dan sistem produksi unggas yang berbeda menyebabkan perbedaan pola resistensi.
Pola resistensi terhadap berbagai antibiotik dapat dipengaruhi oleh penggunaan antibiotik berspektrum luas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa isolat E. coli MDR kemudian dilanjutkan dengan mendeteksi keberadaan gen virulensi gen iss. Uji PCR menunjukkan terdapat 5/25 dengan persentase 20% isolat bakteri E. coli dari kloaka swab puyuh yang memiliki gen virulensi iss. Gen virulensi iss merupakan gen virulensi yang terdapat pada APEC dimana gen iss berperan dalam meningkatkan kemampuan E. coli untuk bertahan hidup dalam serum darah dan menghindari sistem imun tubuh. Hasil ini membuktikan bahwa E. Coli yang mengandung gen iss merupakan strain patogen yang berpotensi sebagai agen zoonosis.
Hasil penelitian pada burung puyuh ditemukan E. coli yang memiliki sifat MDR pada usapan kloaka burung puyuh di lima pasar di wilayah Surabaya sebesar 18% dari isolat MDR E. coli ditemukan gen virulensi iss ditemukan sebesar 20%. Penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keamanan pangan yang berasal dari puyuh, serta meningkatkan pemahaman peternak tentang penyakit kolibasilosis yang disebabkan oleh galur APEC. Penggunaan antibiotik yang dapat memicu resistensi dan MDR memerlukan perhatian serius dan pengawasan ketat dari dokter hewan.
Penulis: Prof. Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH.
Informasi detail artikel: https://advetresearch.com/index.php/AVR/article/view/2231





