Escherichia coli adalah bakteri patogen yang umum ditemukan pada unggas yang dipelihara untuk konsumsi (seperti puyuh, ayam, bebek, dan kalkun), yang menyebabkan penyakit kolibasilosis yang signifikan. Penyakit ini disebabkan oleh Avian Pathogenic Escherichia coli (APEC), strain yang sangat virulen yang dapat menyebabkan penyakit parah pada unggas. Penularan APEC melalui rantai makanan menimbulkan potensi risiko bagi kesehatan manusia, terutama melalui konsumsi produk unggas yang terkontaminasi.
Unggas seperti ayam, kalkun, bebek, dan puyuh dipelihara dalam populasi besar dan sangat rentan terhadap infeksi bakteri. Infeksi ini dapat memengaruhi populasi unggas secara signifikan, yang menyebabkan meluasnya penggunaan antibiotik untuk pengobatan dan pencegahan, yang berkontribusi pada perkembangan resistensi antibiotik dan potensi residu berbahaya di lingkungan dan pasokan pangan manusia.
Kekhawatiran utama infeksi E. coli adalah resistensi antibiotik, yang sering bermanifestasi sebagai resistensi antimikroba (AMR) dan resistensi multidrug (MDR). Penggunaan antibiotik dalam peternakan telah menyebabkan munculnya galur bakteri patogen yang resisten terhadap antibiotik. Data bahwa penggunaan antibiotik global pada hewan hampir dua kali lipat dibandingkan pada manusia. Setiap tahun, sekitar 63,1卤1,5 ton antibiotik digunakan dalam produksi ternak, dengan lebih dari 80% hewan yang diternakkan untuk keperluan pangan menerima antibiotik. Pada tahun 2030, penggunaan antibiotik global pada hewan ternak diproyeksikan meningkat sebesar 67%, mencapai sekitar 105.500 ton.
Residu antibiotik dalam produk hewani seperti daging dan telur puyuh lebih tinggi daripada residu dalam telur ayam (8,4%) dan telur bebek (2,66%), dengan gugus aminoglikosida menunjukkan 9,15% dalam telur puyuh. Orang yang mengonsumsi produk unggas, seperti daging, telur, dan susu, berisiko mengembangkan resistensi terhadap antimikroba tertentu akibat residu antibiotik yang masuk ke dalam rantai pangan. Resistensi ini dapat mengurangi efektivitas antibiotik yang digunakan untuk mengobati penyakit manusia.
Penggunaan antibiotik yang meluas juga dapat mengakibatkan munculnya galur bakteri yang resisten terhadap antibiotik, dengan potensi transfer gen resisten ke bakteri patogen atau non-patogen lainnya. Konsisten dengan penelitian bahwa bakteri yang resisten dapat menjadi patogen dan menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Gen resistensi ini dapat ditransfer ke bakteri lain, sehingga memperburuk masalah. Tinjauan ini bertujuan untuk mengkaji risiko AMR dan MDR APEC pada unggas konsumsi, dengan fokus pada gen virulensi yang berbahaya, kontaminasi residu, dan dampak kesehatan lingkungan.
Menjaga kebersihan kandang unggas merupakan langkah awal yang krusial dalam mencegah infeksi APEC pada unggas. Biosekuriti memainkan peran kunci dalam pencegahan dan pengendalian APEC di peternakan unggas. Sanitasi yang tepat membantu meminimalkan penumpukan mikroorganisme berbahaya, seperti E. coli, di dalam kandang dan area sekitarnya. Penggunaan disinfektan yang efektif untuk membersihkan peralatan, kandang, dan fasilitas unggas lainnya sangat penting untuk mencegah kontaminasi silang. Selain itu, pengelolaan limbah dan kotoran unggas yang tepat sangat penting untuk mencegah penyebaran patogen ke lingkungan sekitar, termasuk sumber pakan dan air.
Pentingnya disinfeksi rutin di area peternakan, tempat penetasan, dan ruang pemeliharaan unggas (inkubasi). Penerapan sistem terpadu (all-in-all-out) dapat semakin membatasi penyebaran infeksi. Ventilasi yang baik di kandang unggas membantu mengurangi kelembapan dan meningkatkan sirkulasi udara, yang dapat menurunkan tingkat infeksi bakteri patogen, termasuk APEC. Kelembapan yang tinggi dapat memfasilitasi penyebaran bakteri di udara, sehingga memperburuk kontaminasi di dalam kandang. Oleh karena itu, menjaga sistem ventilasi yang baik dan kontrol suhu yang tepat sangat penting untuk menjaga kesehatan unggas. Pakan dan air yang terkontaminasi dapat menjadi jalur penularan utama APEC pada unggas. Memastikan bahwa sumber-sumber ini bebas dari kontaminasi bakteri sangatlah penting. Pakan harus disimpan di lingkungan yang bersih dan kering untuk mencegah kontaminasi, sementara kualitas air minum harus dipantau secara teratur. Menyediakan pakan bergizi juga memperkuat kekebalan unggas terhadap infeksi APEC.
Vaksinasi merupakan metode yang efektif untuk mengurangi tingkat infeksi dan meningkatkan kekebalan unggas. Beberapa vaksin yang dikembangkan khusus untuk APEC dapat diberikan untuk mengurangi virulensi bakteri dan meningkatkan respons imun. Vaksinasi yang tepat waktu dan tepat sangat penting untuk mencegah wabah penyakit terkait APEC. Penggunaan antibiotik pada unggas harus dikelola dengan cermat dan sesuai dengan pedoman medis untuk mencegah perkembangan resistensi antibiotik. Penyalahgunaan atau penggunaan antibiotik yang berlebihan dapat memperburuk masalah AMR, yang berpotensi mempersulit pengobatan infeksi APEC di masa mendatang. Oleh karena itu, kebijakan pengendalian penggunaan antibiotik yang ketat sangat penting untuk meminimalkan risiko bakteri resisten antibiotik.
Pemantauan kesehatan unggas secara berkala sangat penting untuk deteksi dini infeksi APEC. Program skrining kesehatan yang komprehensif, termasuk pengujian laboratorium sampel dari unggas yang diduga terinfeksi, sangat penting untuk identifikasi dini dan pengobatan yang tepat waktu. Deteksi dini dapat membantu menahan penyebaran infeksi dan mencegah kerugian ekonomi yang lebih besar. Pemantauan dan pengawasan rutin merupakan kunci untuk mengendalikan agen penyakit primer. Untuk mengendalikan penularan APEC pada unggas, jalur penularan horizontal (antar individu dalam kawanan) dan vertikal (dari induk ke keturunan) harus dikelola. Menerapkan praktik manajemen kawanan yang sehat, seperti mengisolasi unggas yang terinfeksi dan sehat, dapat mengurangi risiko penularan. Selain itu, mengendalikan infeksi pada induk unggas dan menggunakan vaksin untuk induk unggas dapat membantu mencegah penularan vertikal.
AMR dan MDR pada APEC yang ditemukan pada unggas yang ditujukan untuk konsumsi merupakan ancaman yang signifikan. Keberadaan gen virulensi pada isolat patogen ini meningkatkan kemampuannya untuk menyebabkan infeksi berat. Residu antibiotik dalam produk unggas, bersama dengan meningkatnya resistensi bakteri terhadap berbagai antibiotik, merupakan masalah utama yang tidak hanya memengaruhi kesehatan hewan tetapi juga berpotensi menular ke manusia melalui rantai makanan. Penyebaran APEC yang resisten antibiotik menimbulkan risiko serius, karena bakteri resisten ini dapat terlepas ke lingkungan melalui kotoran ternak, mencemari tanah dan air. Hal ini meningkatkan kemungkinan infeksi resisten antibiotik pada manusia dan berkontribusi pada krisis AMR dan MDR global. Regulasi ketat penggunaan antibiotik dalam peternakan unggas sangat penting, bersama dengan peningkatan tindakan pencegahan dan pengendalian untuk mengurangi dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan.
Penulis: Prof. Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH
Informasi detail dari studi ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Ummi Rahayu, Freshinta J. Wibisono, Wiwiek Tyasningsih, Mustofa H. Effendi*, Budiastuti Budiastuti, Budiarto Budiarto, Dian A. Permatasari, Aswin R. Khairullah, Saifur Rehman, John Y.H. Tang, Riza Z. Ahmad, Bima P. Pratama, Ikechukwu B. Moses, Dea A.A. Kurniasih. Risk of antimicrobial and multidrug resistance on Avian Pathogenic Escherichia coli in public health. Journal of Advanced Veterinary Research. (2025) Volume 15, Issue 3, 414-420. https://www.advetresearch.com/index.php/AVR/article/view/2236





