Berkembangnya jumlah populasi umat islam secara global merupakan peluang pasar yang sangat menjanjikan untuk industri halal. Bahkan di negara dengan pemeluk agama Islam minoritas seperti, Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Prancis, dan Jerman, daya beli umat islam ketika diurutkan berdasarkan Produk Domestik Bruto pada Harga Pembelian berada di antara sepuluh teratas. Halal diterima sebagai standar kualitas yang diterapkan pada penyediaan dan pembuatan produk pangan olahan, kosmetik, obat-obatan dan produk kesehatan lain. Sayangnya tidak semua produk konsumer, baik makanan maupun minuman yang beredar di Indonesia saat ini telah disertifikasi halal. Sementara itu, tidak semua produk yang belum/tidak bersertifikasi halal mencantumkan kandungan bahan baku dan bahan pembantu produknya, baik yang berasal dari bahan non-halal maupun yang halal. Sementara yang paling terkena dampak dari masalah ini adalah umat Islam yang memiliki kewajiban untuk mengkonsumsi makanan dan minuman halal.
Daging (sapi, kambing, ayam dan unggas) termasuk hasil olahannya merupakan sumber protein hewani yang paling banyak dikonsumsi. Produk yang sangat rentan pemalsuan adalah daging sapi dan produknya karena karakteristik daging sapi mirip dengan daging merah pada jenis hewan lain seperti daging babi. Proses penggilingan beberapa jenis produk olahan daging sapi seperti bakso juga semakin membuka celah untuk bercampur dengan daging merah lainnya. Warna, rasa, dan bentuk yang mirip dengan daging sapi, dengan harga yang jauh lebih murah menjadi alasan kuat penggunaan daging babi sebagai campuran dalam olahan daging sapi.
Daging tikus juga sering digunakan untuk campuran produk daging sapi karena harganya yang murah bahkan bisa didapatkan secara gratis. Teknologi pengolahan dan pengemasan yang semakin maju membuat sulit atau bahkan tidak mungkin untuk mengidentifikasi komponen makanan, terutama makanan olahan berdasarkan atribut fisiknya saja. Menggunakan asam nukleat sebagai pendekatan otentikasi produk daging merupakan metode terbaik karena lebih stabil dan tahan terhadap proses pemasakan dibandingkan biomarker lipid atau protein.
PCR dengan primer spesifik spesies yang dirancang secara tepat dengan formulasi yang dioptimalkan merupakan metode yang paling tepat untuk mendeteksi dan mengidentifikasi spesies dalam suatu produk, metode ini juga dapat mengurangi biaya karena tidak memerlukan digesti restriksi atau sequencing produk PCR. Pengujian dengan PCR multipleks dengan primer spesifik spesies sangat berpeluang akurasinya. Multiplex PCR berisi beberapa set primer dengan campuran reagen PCR tunggal untuk menghasilkan amplikon dengan berbagai ukuran yang spesifik untuk DNA target spesies yang berbeda secara bersamaan.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi primer yang tepat untuk PCR multipleks sapi, babi dan mencit yang nantinya dapat digunakan dalam pendeteksian produk daging sapi yang dijual di pasaran. Sampel diambil di beberapa pasar di Surabaya. Hasil PCR multipleks pada Gambar 1. ditunjukkan oleh garis 4 yang menunjukkan adanya 3 pita DNA yang menandakan bahwa amplifikasi PCR multipleks dengan target spesies sapi, mencit, dan babi telah berhasil dilakukan. Tidak adanya pita DNA yang mispriming dan non target akibat amplifikasi yang tidak spesifik, serta hasil pita yang tebal dan jelas juga menunjukkan bahwa amplifikasi berjalan optimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada pemalsuan dengan daging tikus atau babi pada semua sampel di seluruh wilayah Surabaya, yang terlihat hanya satu pita DNA dengan ukuran 495 bp hasil amplifikasi DNA daging sapi. Selain menunjukkan adanya spesies babi pada produk, keberadaan pita DNA sapi ini juga menandakan telah terjadi proses amplifikasi.
Perlindungan kesehatan, kebutuhan agama, anggaran, dan pilihan konsumen harus menjadi komitmen semua produsen makanan dan pemerintah. Deteksi simultan dari tiga spesies untuk produk daging sapi merupakan pilihan untuk menghemat hingga tiga kali lipat biaya pengujian. PCR multipleks yang dikembangkan dalam penelitian ini berhasil mengamplifikasi ketiga spesies tersebut. Sampel olahan daging yang beredar di pasaran dengan pengolahan dalam suhu proses pemasakan yang tinggi dan risiko degradasi DNA yang tinggi juga berhasil diuji dengan menggunakan metode multiplex PCR yang dikembangkan dalam penelitian ini.
Penulis: Dr. Abdul Rahem, Drs., M.Kes., Apt.
Jurnal:





