51

51 Official Website

Detik-Detik Menengangkan Sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI

J.D Legge dalam bukunya berjudul Sukarno: A Political Biography (1972) menuliskan secara rinci waktu-waktu kritis menjelang pembacaan Prokmasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945. Disebutkan pada tanggal 15 Agustus 1945 Sukarno, Hatta dan Soebardjo, kepala Biro Penelitian dari Kantor Penghubung Angkatan Laut Kerajaan Jepang di Jakarta pergi ke kantornya Jendral Yamamoto Gunseikan atau Panglima Militer, tapi beliau-beliau itu menemukan kantor si Panglima itu kosong. Tujuan kedatangan mereka itu adalah untuk memastikan apakah Kerajaan Jepang sudah resmi menyerah kepada tentara sekutu (Amerika Serikat). Maklum tahun 1945 itu teknologi informasi masih sangat sederhana dan dimasa perang sulit mencari informasi yang tepat.

Namun pada pukul 22.00 malam Sukarno dirumah kediamannya di Jalan Pegangsaan Timur Jakarta dikejutkan dengan suara ketukan pintu dari rombongan pemuda yang mewakili kelompok pemuda-pemuda di Jakarta. Para pemuda itu mendesak para tokoh bangsa memproklamirkan kemerdekaan tanpa restu penjajah Jepang. Lagian menurut indormasi rahasia dari gerakan bawah tanah yang mereka terima mengkonfirmasi bahwa Jepang sudah menyerah kepada sekutu.

Para pemuda yang bergabung di berbagai kelompok pemuda memang secara intens dan serius melakukan berbagai pertemuan. Kelompok pemuda itu ada yang dari kelompok mahasiswa kedokteran, dari Asrama Indonesia Merdeka dan dari Asrama Menteng. Mereka sepakat mengirim delegasi bertemu Sukarno untuk mendesaknya memproklamirkan kemerdekaan tanpa harus minta persetujuan penjajah Jepang.

J.D. Legge menyebutkan bahwa terjadi perdebatan sengit tantara Sukarno dan Wikana perwakilan pemuda. Sukarno menganggap cara-cara para pemuda itu bisa menyebabkan pertumpahan darah karena Jepang bisa marah. Sukarno murka: Jangan mengancam aku, ini leher ku, bunuh aku sekarang, potong kepalaku. Kamu bisa membunuh ku tapi aku tidak mau mengambil resiko adanya pertumpahan darah akibat cara-cara kamu itu.

Para pemuda tetap ngotot dan dalam pertemuan tengah malam dengan kolega mereka yaitu Chairul Saleh dan Adam Malik mereka sepakat cara yang tepat untuk memaksa Sukarno yaitu diculik. Lalu terjadilah penculikan antara jam 4 dan lima pagi, dua mobil menjemput Sukarno bersama Fatmawati istrinya dan Guntur putranya di kediaman Pegangsaan Timur 56 dan setelah itu mereka menjemput Hatta. Mereka membawa kedua tokoh bangsa situ kesebuah rumah kosong di desa Renggasdengklok. Dikabarkan para pemuda masih berdebat keras dengan Sukarno dan Hatta.

Setelah itu mereka kembali ke Jakarta. Mereka kumpul untuk membuat draft Proklamasi yang tidak perlu konsultasi dengan penguasa Jepang, Draft Proklamasi itu berisi pernyataan sederharna berbeda dengan tuntutan para pemuda agar dimasukkan kalimat yang menuntut keras agar Jepang menyerahkan segala kekuasaannya.

Draft itu ditandatangani Sukarno Hatta dan di proklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 pagi didepan rumah Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Sukarno didampingi Hatta dan Letnan Latief dari pasukan PETA. Sang saka Merah Putih yang dijahit khusus untuk peristiwa ini oleh ibu Fatmawati dikibarkan, dan hadirin menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan syahdu, dan pada detik itulah Indonesia merdeka.

AKSES CEPAT