Berburu barang branded tidak selalu mahal karena barang tersebut dapat diperoleh dengan harga lebih murah meskipun bekas. Belanja barang seperti ini dikenal dengan nge-thrift, yakni pembelian barang bekas dengan harga relatif murah tapi branded alias merk ternama yang berkualitas tinggi. Sebagai sebuah kota metropolitan sekaligus kosmopolitan, berbelanja a la nge-thrift ini juga terjadi di Surabaya.
Dari sisi penjual, fasilitasi penjualan barang branded ini tentu sangat menguntungkan. Mereka menyediakan barang bekas berkualitas yang berasal dari bersumber. Tren masyarakat perkotaan kontemporer untuk konsumtif terhadap barang branded merupakan pasar yang potensial. Namun, bagaimanakah praktik ini dilakukan dalam pandangan konsumen?
Fnomena nge-thrift ini setidaknya dapat ditelisik dengan kacamata Marxian melalui tiga komponen, yakni ekonomi, sosial, dan budaya. Secara ekonomi, nge-thrift jelas cara ekonomis untuk bergaya. Perolehan barang-barang, terutama fashion, merk terkenal dengan harga terjangkau jelas menjadi motif utama konsumen di Surabaya. Konsumen sangat diuntungkan dengan posisi Surabaya sebagai kota terbesar di belahan timur Indonesia. Banyak barang thrift yang berlabuh di Surabaya untuk kemudian diedarkan di berbagai daerah di Jawa Timur dan sisi timur Indonesia.
Dalam penelitian sosial dengan pendekatan kuantitatif yang menjaring 110 responden dengan usia 15-40 tahun ini diperoleh beberapa temuan penting. Pertama, nge-thrift dipengaruhi oleh keterjangkauan, aksesibilitas, dan teknologi digital. Kedua, nge-thrift merepresentasikan keberlanjutan, kreativitas, dan ekspresi identitas. Ketiga, nge-thrift mampu meningkatkan ekonomi lokal dan memperluas jaringan sosial. Kelima, nge-thrift merefleksikan adanya pergeseran nilai budaya ke arah konsumsi yang beretika dan kesadaran lingkungan.
Keterjangkauan dan aksesibilitas yang ditopang teknologi digital yang memadai mempermudah persebaran barang-barang thrift. Bagi konsumen Surabaya, posisi Surabaya sebagai kota besar memberikankeuntungan lebih dibanding konsume di kota yang lebih kecil, di antaranya ialah adanya infrastruktur teknologi yang kuat. Jalur teknologi digital mempermudah dan mempercepat informasi dan persebaran barang-barang bekas branded ini. Keuntungan secara teknologis ini mempermudah akses informasi keberadaan dan ketersediaan barang thrift. Konsumendi Surabaya termasuk yang awal dan prospektif untuk nge-thrift.
Budaya urban di Surabaya bagaimanapun tidak terlepas dari fesyen. Nge-thrift merupakan bagian dari upaya ekspresi identitas melaui fesyen. Ketersediaan busana melalui nge-thrift ini mendukung upaya bergaya hidup urban dengan mengikuti gaya fesyen yang mengikuti perkembangan zaman. Ketersediaan busana dalam nge-thrift ini tidak hanya dipahami sebagai pemenuhan kebutuhan barang material, namun juga sebagai sarana untuk membangun identitas kultural. Bagi konsumen, nge-thrift menjadi cara penting dalam memenuhi dorongan untuk menyesuaikan trend baik sebagai bentuk inisiatif diri maupun akibat dari pengaruh-pengaruh sosial.
Nge-thrift bagaimanapun merupakan solusi ekonomis dalam mengkonsumsi barang berkualitas atau branded. Sebagian anak muda menjadikan nge-thrift sebagai aktivitas ekonomi, namun juga bagian dari gaya hidup yang merefleksikan nilai-nilai keberlanjutan dan ekspresi personal sekaligus sosial. Perolehan busana melalui nge-thrift ini bukan lagi dilihat sebagai simbol keterbatasan ekonomi, namun mulai bergeser sebagai ekspresi estetika dan bentuk gaya hidup modern yang ramah lingkungan.
Nge-thrift menjadi simbol keberlanjutan, kreativitas, dan ekspresi identitas. Kebiasaan baru dalam perolehan busana melaui nge-thrift ini menunjukkan adanya pergeseran suprastruktur budaya. Konsumsi atas pakaian bekas diterima sebagai alternatif modis yang juga merefleksikan tanggung jawab eco-social di balik estetika yang unik. Alhasil, nge-thrift bukan sekadar alternatif ekonomi, melainkan juga sebagai bagian dari gaya hidup yang mengacu pada nilai keberlanjutan yang mencerminmkan nilai-nilai modern yang estetis.
Penulis: Dr. Johny Alfian Khusyairi, S.Sos., M.Si., M.A.; Lady Khairunnisa Adiyani
Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada:





