51动漫

51动漫 Official Website

Mengungkap Rahasia Bertahan Hidup Balita BBLR di Indonesia

Ilustrasi Bayi Sedang Berteriak (Sumber: Primecare Clinic)
Ilustrasi Bayi Sedang Berteriak (Sumber: Primecare Clinic)

Di Indonesia, bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram atau yang biasa disebut berat lahir rendah (BBLR), masih menghadapi risiko kematian yang cukup tinggi sebelum mencapai usia lima tahun. Penelitian terbaru yang menggunakan data sekunder berskala besar dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (DHS) 2018 ini mencoba mengungkap faktor-faktor apa saja yang paling berpengaruh terhadap kelangsungan hidup mereka.

Hasil survei cukup menguatkan dugaan banyak pihak. Peneliti menemukan adanya peningkatan risiko pada bayi yang lahir dari ibu berusia sangat muda atau terlalu tua, ibu dengan pendidikan rendah, hingga bayi yang dilahirkan di rumah tanpa dukungan fasilitas kesehatan. Bahkan, perbedaan jenis kelamin juga berpengaruh攂ayi perempuan sedikit lebih unggul dalam peluang bertahan hidup dibandingkan laki-laki.

Temuan ini memperlihatkan bahwa penyebab tingginya angka kematian balita BBLR bukan hanya soal kondisi medis bayi, tapi juga erat kaitannya dengan latar belakang sosial, ekonomi, dan akses kesehatan. Misalnya, ibu dengan pendidikan rendah mungkin tidak mendapatkan informasi yang cukup tentang gizi selama hamil atau tanda bahaya pada bayi. Begitu juga dengan keterbatasan akses fasilitas kesehatan, yang membuat persalinan dan penanganan komplikasi neonatal jadi terlambat. Di sisi lain, ibu yang kekurangan gizi selama hamil berisiko melahirkan bayi BBLR dan tidak memiliki cukup cadangan untuk menunjang pertumbuhan bayi secara optimal.

Bagi pembuat kebijakan dan tenaga kesehatan, studi ini memberi pesan yang jelas: penanganan BBLR harus dimulai jauh sebelum bayi lahir. Program gizi ibu hamil, edukasi kesehatan yang menyasar kelompok berisiko, serta perluasan akses persalinan aman menjadi kunci penting. Bayi yang lahir dengan berat rendah juga perlu mendapatkan perawatan khusus sejak awal, terutama jika mengalami komplikasi. Dengan pendekatan yang lebih komprehensif攎enggabungkan aspek medis, sosial, dan edukasi擨ndonesia berpeluang besar menurunkan angka kematian balita BBLR, sekaligus memastikan lebih banyak anak tumbuh sehat dan kuat.

Penulis: Dr. Eka Mishbahatul Mar’ah Has, S.Kep., Ns., M.Kep.

Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada:

AKSES CEPAT