Krisis kepemimpinan yang meluas di berbagai sektor mencakup politik, bisnis, hingga institusi keagamaan mendorong pencarian model kepemimpinan yang lebih etis, manusiawi, dan efektif. Studi ini melakukan analisis etis komparatif terhadap dua model kepemimpinan populer, yaitu Kepemimpinan Pelayan (Servant Leadership) dan Kepemimpinan Demokratis (Democratic Leadership), melalui lensa teologi Paulus. Meskipun kedua model ini sering dianggap selaras dengan nilai-nilai Kristiani, masing-masing memiliki dasar teologis yang berbeda: Kepemimpinan Pelayan dengan penekanannya pada pengorbanan diri, selaras dengan pola Kristologis kenosis (pengosongan diri), sementara Kepemimpinan Demokratis, dengan fokusnya pada kekuasaan bersama, mencerminkan visi eklesiologis Paulus tentang gereja sebagai tubuh yang egaliter (koinonia).
Audiens utama dari studi ini adalah para pemimpin organisasi berbasis iman dan akademisi di bidang kepemimpinan Kristen, meskipun prinsip-prinsip yang dibahas relevan bagi siapa pun yang mencari landasan etis kepemimpinan yang kokoh. Pandangan pertama dalam riset ini adalah bahwa Kepemimpinan Pelayan, melalui konsep diakonia, sering disalahpahami sebagai pelayanan rendah. Namun, dengan menafsirkan ulang diakonia sebagai “keagenan yang ditugaskan” (commissioned agency), kepemimpinan ini sebenarnya merupakan pelaksanaan otoritas sakral yang didelegasikan oleh Tuhan. Pandangan kedua menyoroti Kepemimpinan Demokratis yang menekankan kesetaraan radikal dan partisipasi kolektif, sebagaimana visi Paulus dalam Galatia 3:28 bahwa “semua adalah satu dalam Kristus”. Berdasarkan hal tersebut, pertanyaan penelitian ini adalah bagaimana mengintegrasikan kedua model tersebut agar dapat menutupi kelemahan masing-masing, di mana Kepemimpinan Pelayan berisiko mengabaikan otoritas penentu, sementara Kepemimpinan Demokratis sering kesulitan melindungi keyakinan minoritas di atas konsensus mayoritas.
Untuk menjawabnya, pertama-tama kami meninjau kerangka etika Paulus yang terdiri dari empat tema kunci: Kerendahan Hati Radikal (Kenosis), Kasih yang Memberi Diri (Agape), Pelayanan sebagai Keagenan (Diakonia), serta Komunitas Egaliter dan Bersatu (Koinonia). Selanjutnya, kami memetakan prinsip-prinsip tersebut ke dalam model Kepemimpinan Pelayan dan Demokratis untuk melihat titik temu dan perbedaannya. Kedua, kami membahas dasar-dasar teologis dari masing-masing model, seperti himne Kristus dalam Filipi 2 untuk Kepemimpinan Pelayan dan metafora “Tubuh Kristus” dalam 1 Korintus 12 untuk Kepemimpinan Demokratis. Terakhir, kami mendefiniskan ulang kepemimpinan sebagai “panggilan salib” (cruciform vocation) yang menyeimbangkan antara penugasan ilahi dengan musyawarah komunal.
Kontribusi riset ini adalah kami memberikan kriteria berbasis teologis yang memperkuat model kepemimpinan pelayan terhadap kritik mengenai pasivitas. Secara khusus, kami menunjukkan bahwa otoritas kepemimpinan justru menjadi otentik melalui sikap melayani. Selanjutnya, kami melengkapi studi kepemimpinan sekuler dengan memberikan landasan soteriologis (teologi keselamatan) sebagai dasar etika kepemimpinan, di mana pemimpin melayani karena mereka telah lebih dulu dilayani oleh karya penebusan Kristus. Sebagai penelitian yang berfokus pada teks kuno, memahami relevansi tulisan Paulus dalam konteks kepemimpinan modern di abad ke-21 merupakan kontribusi penting riset ini.
Riset ini menggunakan metode desain etis-teologis komparatif. Data utama berasal dari pembacaan mendalam (close readings) terhadap teks-teks kunci Perjanjian Baru yang kemudian didialogkan dengan literatur kepemimpinan kontemporer dan teologi konstruktif. Analisis dilakukan dengan (1) menentukan jaminan teologis dari teks, (2) memetakan jaminan tersebut pada kedua model kepemimpinan, dan (3) menilai implikasinya terhadap otoritas, partisipasi, dan perhatian pada anggota yang “lemah”. Penelitian ini bertujuan pada klarifikasi konseptual dan tidak menghasilkan data lapangan baru, sehingga menjadi dasar teoretis bagi penelitian empiris di masa depan.
Hasil analisa menunjukkan bahwa terdapat titik temu yang kuat antara kedua model dalam hal fokus pada orang lain (other-centered), penggunaan persuasi alih-alih paksaan, dan prioritas pada pembangunan komunitas (koinonia). Namun, ditemukan juga perbedaan mendasar pada lokus otoritas: dalam Kepemimpinan Pelayan, otoritas ada pada pemimpin namun digunakan untuk melayani; sementara dalam Kepemimpinan Demokratis, tanggung jawab didistribusikan ke seluruh anggota komunitas.
Kesimpulan kami menunjukkan bahwa baik Kepemimpinan Pelayan maupun Demokratis tidak cukup jika berdiri sendiri. Kepemimpinan Paulus yang kokoh membutuhkan integrasi yang dinamis antara “hati” seorang pelayan dan “telinga” seorang demokrat. Dengan demikian, kepemimpinan dipahami sebagai tanggung jawab bersama untuk kesejahteraan spiritual komunitas, bukan sekadar tugas individu. Artikel ini ditutup dengan pembahasan mengenai implikasi teoretis dan praktis bagi organisasi berbasis iman serta saran bagi penelitian selanjutnya untuk menguji kriteria ini secara empiris di berbagai budaya.
Penulis: Eddy Widjanarko, Fendy Suhariadi, dan Mohammad Fakhruddin Mudzakkir
Informasi detail: Diakonia and Demos: A Pauline Ethical Analysis of Servant and Democratic Leadership, Pharos Journal of Theology, Vol. 106 (5), 2025.





