Bukti empiris secara konsisten menunjukkan bahwa kehadiran perempuan di dewan direksi perusahaan meningkatkan inovasi dan kinerja perusahaan (Chen dkk., 2018) dan mendorong tindakan strategis perusahaan (Amadi dkk., 2023; Issa dan In™airat, 2024; Vastola dkk., 2025) serta memperkuat mekanisme tata kelola dan transparansi (Mathisen dkk., 2013; Sahu dkk., 2025; Tong dan Chen, 2024). Efektivitas kepemimpinan perempuan terutama dikaitkan dengan pendekatan kepemimpinan yang berbeda yang dicirikan oleh pengambilan keputusan partisipatif, kepekaan etika yang kuat, tingkat kolaborasi yang tinggi, dan pola pikir bijaksana yang seringkali membuat perempuan lebih memilih menghindari risiko daripada menghadapi potensi konsekuensi buruk (Chen dkk., 2018; Fan dkk., 2024). Atribut-atribut ini membuat perempuan lebih mudah beradaptasi dengan tuntutan regulasi baru dan cenderung tidak terlibat dalam praktik yang membahayakan keberlanjutan jangka panjang, sambil tetap mempertahankan komitmen yang kuat terhadap kepentingan bersama, transparansi, dan keterlibatan pemangku kepentingan (Vastola et al., 2025). Merma-Molina et al. (2022) lebih lanjut mengungkapkan bahwa perempuan cenderung menganut gaya kepemimpinan yang berorientasi pada keberlanjutan yang secara visioner menyeimbangkan tujuan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Amadi dkk. (2023) menemukan bahwa perempuan dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi memberikan kontribusi yang lebih signifikan terhadap hasil keberlanjutan. Ketika pendidikan dikombinasikan dengan pengalaman dan posisi kepemimpinan fungsional, kehadiran perempuan di dewan perusahaan menjadi semakin strategis (Amadi dkk., 2023; Brinette dkk., 2024; Mathisen dkk., 2013).
Kebaruan penelitian ini “ Studi ini termasuk di antara investigasi empiris awal yang menunjukkan bahwa prestise pendidikan di antara direktur perempuan secara signifikan memengaruhi hasil ESG. Studi ini menggeser wacana dari fokus sempit pada representasi gender numerik menuju dimensi tata kelola kualitatif yang didasarkan pada atribut akademis dan kognitif
Secara teoritis, studi ini didasarkan pada empat perspektif yang saling melengkapi: upper echelon theory, human capital theory, resource dependence theory, dan stakeholder theory. Pi[u1] erspektif ini menjelaskan bagaimana prestise pendidikan memberikan modal kognitif, legitimasi profesional, dan akses ke sumber daya eksternal, sehingga meningkatkan kemampuan direktur perempuan untuk memengaruhi strategi ESG (Brinette et al., 2024; Bühlmann et al., 2022; Cünavate et al., 2024)
Hipotesis:
H1. Direktur perempuan dari universitas ternama berhubungan positif dengan kinerja ESG perusahaan.
H1a. Direktur perempuan dari universitas ternama memiliki hubungan positif dengan kinerja lingkungan perusahaan
H1b. Direktur perempuan dari universitas ternama memiliki korelasi positif dengan kinerja sosial perusahaan.
H1c. Direktur perempuan dari universitas ternama memiliki korelasi positif dengan kinerja tata kelola perusahaan
Untuk memastikan hasil yang dapat digeneralisasikan secara internasional, penelitian ini menggunakan data panel dari perusahaan non-keuangan di Asia-Pasifik, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika antara tahun 2016 dan 2023, wilayah yang dikenal dengan dinamika ESG dan komposisi dewan direksi yang beragam. Sampel dipilih berdasarkan ketersediaan skor ESG dari basis data Bloomberg untuk memastikan kualitas data yang andal dan transparansi tata kelola perusahaan. Setelah penyaringan untuk nilai yang hilang dan outlier, sampel akhir terdiri dari 1.781 perusahaan, menghasilkan 13.107 observasi tahun perusahaan. Penelitian ini melakukan pengujian sub-sampel terhadap perusahaan-perusahaan berdasarkan pasar maju versus pasar berkembang, negara-negara Eropa versus non-Eropa, dan negara-negara yang sensitif terhadap lingkungan.
Variabel dependen adalah kinerja ESG, yang diukur dengan skor ESG Bloomberg, yang menyediakan metrik yang konsisten dan diperoleh dari basis data Bloomberg. Variabel independen utama adalah direktur perempuan dari universitas terkemuka. Studi ini mendefinisikan reputasi universitas berdasarkan daftar QS World University Rankings (QSWUR) Top 100. Oleh karena itu, variabel Direktur Perempuan dari Universitas Terkemuka (WRE) dihitung sebagai jumlah anggota dewan perempuan yang lulus dari universitas QS Top 100 dibagi dengan jumlah total anggota dewan.
Hasil Penelitian:
Temuan ini secara konsisten menunjukkan bahwa direktur perempuan dari universitas terkemuka (WRE) berpengaruh positif terhadap kinerja ESG. Dampak paling besar terlihat pada dimensi lingkungan hidup, diikuti oleh dimensi sosial dan tata kelola. Selain itu, pengaruh direktur perempuan dari universitas terkemuka terhadap kinerja ESG lebih besar di negara-negara berkembang, negara-negara non-Eropa, dan industri-industri yang sensitif terhadap lingkungan. Konsistensi arah dan signifikansi di berbagai model memperkuat validitas temuan ini.
Secara teoritis, penelitian ini menegaskan upper echelon theory dengan menekankan bahwa kualitas latar belakang pendidikan bereputasi internasional di kalangan direktur perempuan berfungsi sebagai modal kognitif, yang membentuk keputusan keberlanjutan strategis. Temuan ini juga memperkaya human capital theory dengan menyoroti peran kompetensi akademis dalam mempengaruhi kinerja perusahaan, resource dependen theory dengan menekankan akses terhadap sumber daya eksternal, dan stakeholder theory dengan menekankan legitimasi. Selain itu, berdasarkan literatur sebelumnya, penelitian ini menghubungkan kinerja ESG dengan latar belakang pendidikan direktur perempuan dengan mengembangkan sebuah proxy baru untuk universitas-universitas terkemuka, sehingga mencerminkan kualitas pendidikan tinggi direktur perempuan. Dengan melakukan hal tersebut, studi ini mengalihkan fokus literatur keberagaman dewan, khususnya keberagaman gender, dari sekadar representasi kuantitatif ke dimensi kualitatif pendidikan dalam meningkatkan kinerja ESG.
Penulis: Dr. Wiwiek Dianawati, Dra., M.Si., Ak
Link:





