Aterosklerosis adalah kondisi kronis yang ditandai oleh penumpukan lipid, peradangan, dan proliferasi sel di dinding arteri. Proses ini dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah, yang pada akhirnya memicu penyakit kardiovaskular seperti penyakit jantung koroner, stroke, dan trombosis vena dalam. Menurut laporan Global Burden of Disease (GBD), angka kematian akibat penyakit kardiovaskular meningkat dari 12,4 juta jiwa pada tahun 1990 menjadi 19,8 juta pada tahun 2022, dan diperkirakan akan terus naik hingga 23 juta pada tahun 2030. Hal ini menjadi perhatian serius karena prevalensi penyakit ini juga mulai meningkat pada kelompok usia muda.
Aterosklerosis berkembang melalui mekanisme kompleks yang melibatkan disfungsi endotel, akumulasi lipoprotein teroksidasi, infiltrasi makrofag, hingga pembentukan plak aterosklerotik. Salah satu pemicu penting proses ini adalah pola makan tinggi lemak jenuh, yang memicu hiperlipidemia dan inflamasi kronis. Margarin, yang umum dikonsumsi sehari-hari, mengandung asam lemak trans dan lemak jenuh yang diketahui dapat memperburuk profil lipid darah dan memicu peradangan pembuluh darah.
Berbagai penelitian sebelumnya telah memanfaatkan model hewan untuk mempelajari aterosklerosis. Model yang menggunakan hewan pengerat, seperti tikus Wistar, sering dipilih karena respons metabolisme lipidnya cukup mirip dengan manusia. Dalam penelitian ini, margarin digunakan sebagai sumber lemak tinggi untuk menginduksi aterosklerosis secara eksperimental, dengan harapan dapat memberikan gambaran yang relevan dengan kondisi pada manusia.
Untuk memberikan kontribusi dalam bidang ini, sebuah penelitian eksperimental dilakukan oleh Mochamad Bahrudin dkk., (2025) dari 51¶¯Âþ. Penelitian yang telah diterbitkan dalam Tropical Journal of Pharmaceutical Research (University of Benin) ini bertujuan untuk mengembangkan dan menganalisis hubungan antara dislipidemia, inflamasi, dan stres oksidatif dalam progresi aterosklerosis.
Metode penelitian yang digunakan adalah randomized controlled trial (RCT) pada 12 ekor tikus jantan Wistar berusia 8“12 minggu. Tikus dibagi secara acak menjadi dua kelompok, yaitu kelompok kontrol yang mendapat diet standar dan kelompok perlakuan yang menerima diet tinggi lemak berbasis margarin selama 4 minggu. Kandungan margarin yang digunakan memiliki 36% lemak jenuh dan kurang dari 1% lemak trans. Setelah periode intervensi, semua hewan dilakukan euthanasia di bawah anestesi untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Parameter yang diukur meliputi profil lipid (kolesterol total, LDL, HDL, trigliserida), biomarker inflamasi (TNF-α), penanda stres oksidatif (ROS), jumlah foam cell, dan ketebalan tunika intima pembuluh darah. Analisis statistik dilakukan menggunakan unpaired t-test dan uji korelasi Pearson, dengan nilai p < 0,05 dianggap signifikan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok diet margarin mengalami peningkatan signifikan pada kadar kolesterol total, LDL, dan trigliserida, serta penurunan kadar HDL dibandingkan kelompok kontrol. Selain itu, pembentukan foam cell, penebalan tunika intima, kadar ROS, dan ekspresi TNF-α cenderung lebih tinggi pada kelompok margarin. Analisis regresi mengungkapkan korelasi positif yang kuat (r = 0,73, p < 0,05) antara kadar LDL dan TNF-α, yang menunjukkan bahwa peningkatan LDL berhubungan erat dengan peradangan yang menjadi pemicu aterosklerosis.
Secara histopatologis, kelompok yang mendapat diet margarin memperlihatkan adanya penebalan lapisan tunika intima pembuluh darah dan jumlah foam cell yang lebih banyak dibandingkan kontrol. Temuan ini mendukung hipotesis bahwa asupan lemak jenuh dari margarin berperan dalam mempercepat proses aterosklerosis melalui mekanisme inflamasi dan dislipidemia.
Margarin diketahui mengandung asam lemak trans hasil proses hidrogenasi, yang memiliki efek negatif lebih kuat dibandingkan lemak jenuh biasa. Asam lemak trans tidak hanya meningkatkan kadar LDL dan trigliserida, tetapi juga menurunkan HDL, memicu pembentukan lipoprotein aterogenik, dan meningkatkan respons inflamasi di pembuluh darah. Penelitian epidemiologis telah mengaitkan konsumsi asam lemak trans dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner yang signifikan.
Hasil penelitian ini menguatkan teori bahwa aterosklerosis bukan hanya akibat penumpukan lemak di arteri, tetapi juga merupakan penyakit inflamasi kronis. LDL yang teroksidasi akan merangsang pembentukan ROS, mengaktivasi jalur NF-κB, dan memicu pelepasan sitokin pro-inflamasi seperti TNF-α. Proses ini memperburuk kerusakan endotel dan mempercepat pembentukan plak aterosklerotik.
Bahrudin dan kawan-kawan juga menekankan bahwa strategi pencegahan aterosklerosis sebaiknya tidak hanya fokus pada penurunan kadar lipid darah (misalnya melalui penggunaan statin), tetapi juga menargetkan pengendalian peradangan dan stres oksidatif, misalnya dengan penggunaan antioksidan atau penghambat jalur NF-κB. Di sisi lain, perubahan gaya hidup, seperti mengurangi konsumsi lemak jenuh dan trans, serta meningkatkan aktivitas fisik, tetap menjadi pilar utama pencegahan penyakit ini.
Penelitian ini memiliki keterbatasan, di antaranya jumlah sampel yang kecil dan durasi intervensi yang relatif singkat. Faktor genetik dan lingkungan yang dapat memengaruhi progresi aterosklerosis juga belum dianalisis secara mendalam. Oleh karena itu, penelitian lanjutan dengan desain lebih besar dan periode intervensi yang lebih panjang diperlukan untuk mengonfirmasi temuan ini.
Pada akhirnya, penelitian ini mengungkapkan bahwa diet margarin dapat memicu dislipidemia, meningkatkan biomarker inflamasi, dan memperburuk perubahan histopatologis yang terkait dengan aterosklerosis. Temuan ini memperkuat bukti bahwa modifikasi diet, khususnya pengurangan konsumsi lemak trans dan jenuh, adalah langkah krusial dalam pencegahan penyakit kardiovaskular.
Penulis: Dr. Asra Al Fauzi, dr., Sp.BS.





