Alergi makanan semakin diakui sebagai beban kesehatan masyarakat setelah peningkatannya selama beberapa dekade terakhir. Di beberapa negara, 10% bayi menderita alergi makanan. Hingga saat ini, alergi makanan dianggap langka di negara berkembang. Namun, prevalensi alergi makanan, sebagaimana dikonfirmasi oleh tantangan diet, berkisar antara 1% pada anak usia tiga hingga tujuh tahun di Thailand hingga 3,8% dan 7,7% pada anak usia satu dan dua tahun di Tiongkok. CDC menyimpulkan bahwa prevalensi alergi makanan pada anak di bawah 18 tahun meningkat sebesar 18% dari tahun 1997 hingga 2007. Di Indonesia, prevalensi pada anak di bawah 3 tahun di Jakarta, berdasarkan survei daring, adalah 10,5%.
Aktivitas keluarga sehari-hari mengacu pada perilaku yang berulang dan dapat diamati yang melibatkan dua atau lebih anggota keluarga, yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari keluarga dan dapat diprediksi kejadiannya. Berdasarkan Food Allergy Impact Scale (FAIS), terdapat delapan aspek aktivitas keluarga sehari-hari yang dapat dinilai dampaknya terhadap anak dengan alergi makanan, termasuk persiapan makanan, aktivitas sosial keluarga, pengasuhan dengan pengawasan, aktivitas sosial anak, dan lainnya.
Berbagai pembatasan terhadap aktivitas, pilihan makanan, dan pengalaman perundungan dari teman sebaya yang dialami anak dengan alergi makanan dapat meningkatkan kecemasan dan berpotensi menyebabkan depresi. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa 89,09% keluarga dengan anak yang menderita alergi makanan mengalami tingkat stres sedang. Banyaknya faktor yang memengaruhi kualitas hidup pada anak dan keluarga dengan alergi makanan, ditambah dengan rendahnya kualitas hidup serta tingginya prevalensi gangguan depresi dan kecemasan pada anak dan keluarga yang terdampak, menjadi alasan penting perlunya dilakukan penelitian lebih lanjut. Keterbatasan penelitian yang menelaah dampak aktivitas keluarga sehari-hari terhadap kualitas hidup, depresi, dan gangguan kecemasan pada anak dengan alergi makanan menjadi latar belakang dilakukannya penelitian ini.
Metode dan Hasil
Penelitian ini merupakan studi cross-sectiona observasional yang dilakukan pada anak usia 7“18 tahun dengan alergi makanan di Klinik Alergi Anak RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Setiap subjek mengisi kuesioner PEDSQL, RCADS, dan FAIS. Analisis regresi logistik digunakan untuk menilai pengaruh variabel, dengan nilai p < 0,05 dianggap bermakna secara statistik. Analisis dilakukan menggunakan SPSS versi 23.0. Sebanyak 65 subjek memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dan berpartisipasi dalam penelitian ini. Sebanyak 14 subjek (21,5%) mengalami gangguan dalam aktivitas keluarga sehari-hari. Analisis regresi logistik terhadap hubungan antara aktivitas keluarga sehari-hari dengan depresi dan kecemasan menunjukkan hasil yang bermakna secara statistik, dengan nilai p = 0,00 untuk depresi dan kecemasan. Analisis terhadap pengaruh aktivitas keluarga sehari-hari, depresi, dan kecemasan terhadap kualitas hidup menunjukkan bahwa aktivitas keluarga sehari-hari dan kecemasan memiliki pengaruh yang signifikan (p = 0,00 dan 0,01), sedangkan depresi (p = 1,234) tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan.
Penulis : Azwin Mengindra Putera, dr, SpA(K)
NIP : 197812142008121002
HP : 08113004112
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:





