51动漫

51动漫 Official Website

Dikukuhkan Guru Besar, Prof Dominicus Soroti Tantangan Imunisasi dan Kemandirian Vaksin di Indonesia

Prof Dr Dominicus Husada dr DTM&H MCTM(TP) SpA SubspIPT CTH庐 saat menyampaikan orasi ilmiahnya dalam pengukuhan guru besar, Kamis (22/1/2026) (Foto: Humas UNAIR)

UNAIR NEWS Imunisasi telah terbukti menjadi salah satu dari dua intervensi kesehatan masyarakat paling sukses di dunia, bersanding dengan penyediaan air bersih. Kendati demikian, tantangan dalam Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) masih membayangi Indonesia. Mulai dari kemandirian produksi hingga fenomena penolakan vaksin (vaccine hesitancy). Hal tersebut disampaikan oleh Guru Besar Bidang Ilmu PD3I 51动漫 (UNAIR), Prof Dr Dominicus Husada dr DTM&H MCTM(TP) SpA SubspIPT CTH. Pernyataan itu ia sampaikan dalam orasi ilmiahnya yang berlangsung di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen Kampus MERR-C UNAIR, Kamis (22/1/2026).

Dalam pidatonya yang bertajuk Vaksin dan PD3I: Tantangan dan Peluang Masa Kini dan Masa Depan, Prof Dominicus mengungkapkan fakta sejarah penting. Meskipun perjalanan vaksin di Indonesia sudah sangat panjang, bangsa ini sebelumnya belum pernah menciptakan vaksin yang seluruh prosesnya. Dari hulu ke hilir, anak bangsa yang mengerjakan.

Namun, sejarah baru akhirnya tercipta melalui lahirnya vaksin INAVAC. Ia menambahkan bahwa proses uji klinik pada manusia juga dilakukan sepenuhnya oleh tim RSUD Dr Soetomo dan UNAIR. 淚nilah vaksin pertama yang dibuat oleh anak bangsa. Hasil kerja keras Prof Dr Fedik Abdul Rantam drh beserta tim di Lembaga Penyakit Tropis 51动漫, ujarnya. 

Prof Dr Dominicus Husada dr DTM&H MCTM(TP) SpA SubspIPT CTH庐 saat pengukuhan guru besar (Foto: Humas UNAIR)

Meski demikian, Prof Dominicus mengingatkan bahwa kemandirian produksi masih menjadi pekerjaan rumah. Ketergantungan pada bahan baku dari luar negeri dan gangguan suplai pasca-pandemi menjadi tantangan yang harus terjawab dengan penguatan industri vaksin lokal dan peningkatan kompetensi tenaga kerja.

Di hadapan para hadirin di Aula Garuda Mukti, Prof Dominicus menegaskan sebuah prinsip penting, bahwa vaksin sendirian sesungguhnya tidak bisa menyelamatkan nyawa. Yang bisa menyelamatkan nyawa adalah vaksinasi atau imunisasi.

Tantangan yang Indonesia hadapi bukan hanya soal memproduksi vaksin. Melainkan memastikan vaksin tersebut sampai ke tubuh 5 juta bayi yang lahir setiap tahunnya. Geografi kepulauan dan infrastruktur yang belum merata menjadi kendala teknis. Namun, tantangan terberat justru datang dari pola pikir masyarakat, yakni vaccine hesitancy atau keengganan menerima vaksin.

Vaccine hesitancy menjadi lebih menonjol karena berbagai sebab. Seperti ketakutan akan efek samping (KIPI) serta merebaknya hoaks di media sosial, jelasnya. Ia menekankan perlunya edukasi masif dan penanganan KIPI yang terpadu untuk melawan disinformasi ini.

Menutup gagasannya, Prof Dominicus mengajak para peneliti dan pemangku kebijakan untuk memegang filosofi 淢enapak di Tanah. Baginya, riset dan pengembangan vaksin tidak boleh hanya mengekor tren negara maju. Melainkan harus melihat kebutuhan riil bangsa sendiri. 淢ampu melahirkan vaksin baru dan mencukupi kebutuhan dalam negeri adalah keunggulan yang bisa dicapai tanpa meninggalkan tanah yang kita pijak, tuturnya.

Ia optimis bahwa masa depan dunia kesehatan akan melihat penurunan drastis angka kematian akibat PD3I. Bahkan munculnya vaksin untuk penyakit non-infeksi. 淭ujuan mulianya adalah memastikan semua orang, dari anak hingga lansia, menerima perlindungan yang memang menjadi haknya, pungkas Prof Dominicus.

Penulis: Ahmad Abid Zhahiruddin

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT