51动漫

51动漫 Official Website

Prof Bagus Paparkan Paradigma Baru Atresia Bilier dan Peluang Tatalaksana Baru

Prof Bagus saat menyampaikan orasi ilmiahnya dalam pengukuhan guru besar, Kamis (22/1/2026) (Foto: Humas UNAIR)

UNAIR NEWS Atresia bilier masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan bayi karena berkembang secara progresif dan berisiko menyebabkan kerusakan hati sejak usia dini. Kondisi tersebut menjadi sorotan Prof Dr Bagus Setyoboedi dr SpA SubsGH saat pengukuhannya sebagai guru besar Fakultas Kedokteran () 51动漫 (UNAIR). Kamis (22/1/2026) di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen Kampus MERR-C, ia resmi menjadi guru besar bidang Ilmu Penyakit Liver dan Saluran Bilier. Ia menyampaikan orasi ilmiah bertajuk Paradigma Baru pada Atresia Bilier dan Peluang Tatalaksana Baru.

Prof Bagus menegaskan bahwa atresia bilier merupakan peradangan progresif yang menyebabkan obstruksi dan fibro-obliterasi saluran empedu sejak periode perinatal. Kondisi ini memicu kolestasis dan fibrosis hati, bahkan dapat berkembang menjadi sirosis apabila tidak tertangani secara adekuat. Hingga kini, atresia bilier masih menjadi penyebab utama penyakit hati stadium akhir pada dua tahun pertama kehidupan.

Prof Bagus menjelaskan bahwa atresia bilier ditandai dengan hambatan aliran empedu yang menyebabkan penumpukan empedu di dalam hati. Kondisi ini memicu peradangan kronis dan kerusakan hati yang bersifat progresif sejak usia bayi. 淜olestasis pada atresia bilier ditegakkan melalui peningkatan kadar bilirubin direk dan menjadi dasar penting untuk memulai evaluasi lebih lanjut, jelas Prof Bagus.

Prof Dr Bagus Setyoboedi dr SpA SubsGH saat prosesi pengukuhan guru besar (Foto: Humas UNAIR)

Ia mengungkapkan bahwa secara klinis bayi dengan atresia bilier menunjukkan ikterus persisten, tinja berwarna pucat, urin gelap, serta hepatomegali. Namun, tanda-tanda awal tersebut kerap terlambat terdeteksi karena dianggap sebagai ikterus fisiologis. 淭emuan di praktik klinis menunjukkan masih sering terjadi keterlambatan diagnosis yang berdampak pada progresivitas penyakit hingga gagal hati, ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menegaskan pentingnya peningkatan strategi kesehatan masyarakat. Termasuk skrining standar serta penguatan kapasitas tenaga kesehatan di fasilitas layanan primer.

Dalam orasinya, Prof Bagus menekankan bahwa tatalaksana atresia bilier hingga saat ini masih menghadapi keterbatasan. Kasai portoenterostomi tetap menjadi prosedur utama dengan jendela emas pada usia 4560 hari, tetapi tidak sepenuhnya mencegah progresivitas fibrosis hati. 淧emahaman terkini menunjukkan bahwa atresia bilier berkaitan dengan proses inflamasi progresif yang melibatkan disregulasi sistem imun, paparnya.

Ia menjelaskan adanya perubahan profil sel imun. Seperti peningkatan sel proinflamasi dan penurunan sel regulator, yang berperan dalam kerusakan saluran empedu. Berdasarkan pemahaman tersebut, pengendalian respons imun dan pengembangan terapi anti-fibrotik berpotensi menjadi alternatif tatalaksana baru.

Prof Bagus juga memaparkan hasil uji klinis yang menunjukkan pemberian metilprednisolon mampu menurunkan kadar bilirubin dan penanda inflamasi secara signifikan pada bayi kolestasis. 淗asil ini mendukung hipotesis bahwa proses imunologis terlibat dalam kolestasis pada atresia bilier, tuturnya.

Sebagai upaya preventif, sosialisasi deteksi dini melalui penggunaan kartu warna tinja terus digencarkan di berbagai daerah sejak 2022. Ia berharap kombinasi deteksi dini, edukasi tenaga kesehatan, dan terapi adjuvan dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas, serta meningkatkan luaran jangka panjang bayi dengan atresia bilier.

Penulis: Era Fazira

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT