Pada satwa liar yang kompleks, interaksi predator (pemangsa) dan prey (mangsa) telah menjadi subjek penelitian yang mendalam dan menarik. Bagaimana makhluk-makhluk ini berinteraksi dalam ekosistem, yang memengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup satu sama lain, telah menjadi fokus perhatian ilmuwan alam selama berabad-abad. Salah satu kesulitan dalam memahami hubungan ini adalah bahwa predator dan prey selalu memengaruhi satu sama lain dalam lingkungan yang terus berubah. Dalam upaya untuk menyederhanakan dan menjelaskan dinamika yang kompleks ini, model predator-prey telah menjadi alat penting dalam ekologi.
Model predator-prey merupakan alat matematika yang memungkinkan kita untuk menggambarkan dan memahami dinamika populasi predator dan mangsa dari waktu ke waktu. Model ini, yang pertama kali dikembangkan oleh Lotka dan Volterra pada awal abad kedua puluh, telah membantu kita memecahkan misteri ekologi dan mengungkap beberapa dampak ekologi yang tidak terduga. Selain itu, banyak model matematika telah dikembangkan menggunakan asumsi yang masuk akal secara biologis.
Studi ini menyajikan model dinamika predator-prey orde fraksional yang mempertimbangkan dampak rasa takut, perlindungan, dan pemanenan pada populasi, secara berurutan. Model yang diusulkan menggunakan turunan fraksional Caputo untuk memperoleh efek memori dari interaksi antara predator dan mangsa ini. Kami membuktikan keberadaan dan ketunggalan solusi untuk memastikan sifat non-negatif dan keterbatasan sistem, yang sangat diperlukan untuk mempertahankan populasi yang layak secara biologis. Analisis stabilitas dilakukan pada titik ekuilibrium secara lokal dan global, menjelaskan kondisi yang menjamin titik-titik ini stabil atau mengarah pada dinamika periodik melalui percabangan Hopf. Untuk mendukung hasil analitis, dilakukan simulasi numerik yang menunjukkan peran penting yang disebabkan oleh rasa takut, perlindungan, dan pemanenan dalam kelangsungan hidup mangsa dan dinamika sistem secara keseluruhan.
Temuan penelitian ini menawarkan wawasan penting tentang pengelolaan dan konservasi sistem ekologi. Model ini menyoroti pentingnya memasukkan dinamika perilaku, seperti perubahan yang disebabkan oleh ketakutan pada perilaku mangsa dalam perencanaan konservasi. Faktor-faktor ini dapat menginformasikan desain kawasan lindung dan pengaturan aktivitas manusia dalam ekosistem yang sensitif. Pemanenan yang berlebihan, seperti yang ditunjukkan dalam model, berisiko mengganggu kestabilan ekosistem, yang berpotensi menyebabkan runtuhnya populasi predator dan mangsa. Wawasan ini dapat menginformasikan strategi pengaturan untuk praktik pemanenan berkelanjutan, yang menekankan perlunya pengelolaan adaptif yang mempertimbangkan ambang batas ekologis. Aplikasi model ini dimasa mendatang dapat melibatkan penjelajahan prediksinya dalam konteks strategi konservasi dunia nyata. Interpretasi fisik model menunjukkan bahwa rasa takut menyebabkan stres pada mangsa, mengurangi tingkat reproduksi, sementara perlindungan dapat mengganggu kestabilan sistem jika dilakukan secara berlebihan, yang menyebabkan kepunahan predator. Pemanenan yang merupakan bentuk intervensi manusia, menimbulkan tingkat kematian tambahan. Dari model tersebut menunjukkan bahwa pemanenan yang berlebihan dapat mengganggu kestabilan ekosistem dengan menghancurkan populasi predator dan mangsa. Temuan ini memiliki implikasi yang signifikan bagi pengelolaan ekosistem, yang menekankan perlunya praktik pemanenan berkelanjutan dan strategi adaptif, yang memperhitungkan dampak langsung dan tidak langsung dari pemangsaan dan aktivitas manusia terhadap dinamika populasi.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada link berikut:
Authors: Siti Nurul Afiyah, Fatmawati, Windarto, Afeez Abidemi Title: Dynamics of a Fractional Order Harvested Predator-Prey Model Incorporating Fear Effect and Refuge
Baca juga: Gigi Susu dan Bahan Sintetis: Inovasi Harapan Baru untuk Perbaikan Tulang Rahang Anak





