Kura-kura air tawar Asia saat ini mengalami penurunan populasi regional yang sangat besar, sebagian besar disebabkan oleh penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan untuk perdagangan hewan peliharaan internasional dan untuk makanan tradisional. Perdagangan satwa liar merupakan pendorong utama perekonomian di seluruh Asia Tenggara, dan akibatnya, kura-kura air tawar mengalami penurunan populasi regional yang sangat besar. Orlitia borneensis (Gray, 1873), Kura-kura Raksasa Malaysia, adalah kura-kura air tawar terbesar di Asia Tenggara, dengan karapas yang mencapai panjang hingga 80 cm. Spesies ini biasanya menghuni sungai dan perairan dangkal di habitat hutan rawa air tawar. Orlitia borneensis merupakan pemakan generalis, yang mencari makan terutama pada vegetasi air dan buah-buahan hutan yang tumbang, ikan, dan invertebrata air.
Habitat kritis bagi O. borneensis telah terdegradasi dan hilang akibat berbagai tekanan antropogenik seperti polusi, deforestasi, pertambangan, akuakultur, dan industri komersial. Selain itu, spesies ini sering tertangkap sebagai tangkapan sampingan dalam perikanan komersial dan artisanal. Seperti kebanyakan kura-kura air tawar, O. borneensis memiliki siklus reproduksi yang lambat dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai kematangan; ukuran kelompok telur relatif kecil, dengan sembilan telur per bertelur. Karena kombinasi faktor-faktor ini, O. borneensis telah dinilai sebagai spesies yang Kritis menurut kriteria Daftar Merah IUCN, dan berdasarkan CITES, terdapat kuota pengambilan total nol.
Distribusi global spesies ini meliputi Thailand (Thailand selatan, wilayah perbatasan Malaysia), Malaysia (Semenanjung Malaya bagian barat dan Kalimantan, Sarawak), dan Indonesia (Sumatera bagian timur, Kalimantan bagian barat dan timur). Spesies ini juga telah dilaporkan terintroduksi ke Singapura. Dalam ekspedisi lapangan baru-baru ini, bukti fotografis O. borneensis tercatat dari Pulau Belitung, sebuah pulau terpencil di Selat Karimata, di antara Sumatera dan Kalimantan, Indonesia. Rekor baru ini berjarak sekitar 200 km di sebelah barat lokasi terdekat di Kalimantan, dan 250 km di sebelah timur lokasi terdekat di Sumatera. Catatan ini melengkapi data potensi sumberdaya alam Pulau Bitung yang selama ini dikenal dengan penghasil komoditas perikanan laut, hutan dan tambang.
Keberadaan kura-kura raksasa ini menjadi perhatian bagi Masyarakat, peneliti, dan pemangku kebijakan mengenai pentingnya Lokasi perlindungan dan populasi dari spesies tersebut. Keberadaan Tebat Rasau sebagai Goesite perlu mendapatkan perhatian lebih agar eksistensi dari kura-kura raksasa ini tetap lestari sampai ke generasi mendatang.
Kolaborator dalam penelitian ini terdiri dari WRC Jogja, Genbinesia Foundation, Komunitas Lanun, Pegiat Ikan Belitung (PIB), dan beberapa peneliti asing yang dibiayai oleh Asian Species Action Partnership (ASAP). Selain kura-kura raksasa, tim ini juga mendata keanekaragaman spesies ikan air tawar asli dan endemic Pulau Belitung yang tujuannya untuk konservasi insitu dan eksitu.
Penulis: Dr. Veryl Hasan, S.Pi., M.P
Detail tulisan ini dapat dilihat di:





