51动漫

51动漫 Official Website

Dominansi dan Proporsi Plankton dalam Budidaya Udang Vaname Secara Intensif di Bulukumba

Foto by Agrozine

Keberhasilan suatu usaha budidaya tidak dapat terlepas dari konsep keseimbangan antara faktor lingkungan, inang, dan keberadaan patogen. Plankton, baik fitoplankton maupun zooplankton adalah organisme mikroskopis yang hidup di lingkungan akuatik. Keberadaan plankton ini sangat penting dalam menjaga kualitas perairan secara alami sekaligus menyediakan rantai makanan melalui peranannya sebagai produsen utama, terutama fitoplankton. Sementara, zooplankton mentransmisikan energi yang diperoleh dari fitoplankton ke tingkat trofik yang lebih tinggi sebagai penghubung antara produsen energi dan konsumen (organisme akuatik), termasuk ikan atau udang.

Namun demikian, siklus pertumbuhan plankton dapat terus mengalami perubahan baik secara temporal dan spasial yang disebabkan oleh kondisi lingkungan. Salah satu dampak yang serius dari ledakan populasi plankton (blooming) yang tidak terkontrol ini sangat berdampak terhadap produktivitas kegiatan budidaya yang notabene harus memiliki kualitas air yang baik. Budidaya udang vaname misalnya, sangat rentan terhadap ledakan populasi plankton yang diakibatkan oleh jumlah sisa pakan yang diberikan masih sangat tinggi, padat tebar benih yang tinggi, dan keberadaan lingkungan budidaya yang terpapar oleh bahan organik lainnya.

Sebuah studi kasus kami lakukan di kolam budidaya udang vaname yang menerapkan sistem intensif di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Indonesia. Lokasi ini dipilih karena sebagai salah satu sentra perikanan budidaya udang vaname yang berkembang pesat di Indonesia. Studi surveillance ini dilakukan selama 84 hari dari bulan November 2019 hingga Feburari 2020 pada enam (6) tambak udang vaname menggunakan sistem budidaya intensif di Kabupeten Bulukumba. Studi ini bertujuan untuk mengamati dinamika kelimpahan populasi dan proporsi dari plankton selama satu siklus kegiatan pemeliharaan udang vaname yang diterapkan dengan sistem intensif.

Hasil dominasi plankton menunjukkan bahwa spesies Chlorophyta memiliki dominansi yang tertinggi dan terdapat secara stabil di seluruh tambak budidaya udang selama satu siklus pemeliharaan. Namun demikian, khusus pada tambak budidaya udang yang no 2 dan no 6 memiliki kandungan alga biru-hijau atau blue-green algae (BGA) yang tinggi jika dibandingkan dengan tambak budidaya udang lainnya. Hal ini patut disorot karena keberadaan BGA yang relatif tinggi pada perairan dapat menyebabkan terjadinya sindrom penyakit tertentu yang biasa dikenal dengan enteritis hemocytes yang ditandai dengan terjadinya nekrosis pada lapisan usus bagian tengah (midgut). Di sisi lain, keberadaan BGA juga mampu menyebabkan sindrom yang hampir mirip dengan infeksi Vibrio spp. pada kondisi kronis. Sisa pakan dan feses udang yang terakumulasi pada dasar tambak budidaya juga menjadi faktor munculnya ledakan dari BGA ini.

Hasil studi ini dapat dimanfaatkan untuk studi lanjut di masa mendatang dalam upaya menahan serta melakukan control laju pertumbuhan populasi plankton yang terlalu berlebih (blooming) yang sesuai untuk budidaya udang. Upaya-upaya pengembangan sistem budidaya udang berkelanjutan sangat penting untuk diterapkan di masa mendatang.

Penulis: Putu Angga Wiradana dan Akhmad Taufiq Mukti

Referensi:

Sani MD, Wiradana PA, Maharani AY, Mawli RE, Mukti AT*. 2022. The dominance and proportions of plankton in Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) ponds cultivated with the intensive system in Bulukumba Regency, South Sulawesi, Indonesia. IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science, 1036: 012057. .

AKSES CEPAT