UNAIR NEWS Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) 51动漫 (UNAIR) menggelar Seminar Nasional Transformasi Demokrasi Melalui Partisipasi Gen Z di Aula Soetandyo, Gedung C FISIP UNAIR pada Kamis (13/11/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kesadaran politik dan literasi demokrasi Gen Z sebagai kelompok pemilih terbesar.
Dalam era demokrasi digital, Gen Z dinilai memiliki potensi kuat sebagai motor perubahan. Meskipun masih harus berhadapan dengan tantangan seperti partisipasi yang cenderung simbolik, reaktif, serta kuatnya dominasi elite dalam ruang politik formal. Sejalan dengan fenomena tersebut, Muhammad Zulfikar Al Ghofiqi SAP MKP, dosen (AP) FISIP menyoroti bahwa demokrasi Indonesia yang telah berjalan lebih dari dua dekade masih menghadapi persoalan stagnasi partisipasi. 淧artisipasi politik kita masih sering berhenti pada tataran seremonial. Apatisme, distrust, dan money politics masih menjadi tantangan serius, ujarnya.
Kesadaran Politik Gen Z
Namun, Zulfikar menegaskan bahwa stigma Gen Z sebagai generasi apatis tidak sepenuhnya benar. Berdasarkan temuan riset, Gen Z memiliki kesadaran politik yang cukup baik. Hanya saja, bentuk partisipasi mereka berbeda dengan generasi sebelumnya. Ia juga menyampaikan data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang mencatat bahwa 60 persen pemilih pada Pemilu 2024 berasal dari kalangan Gen Z dan milenial.
Lebih lanjut, pihaknya menyebutkan bahwa aktivisme digital seperti kampanye online dan gerakan tagar #MahasiswaBergerak, #PeringatanDarurat, hingga #IndonesiaGelap telah menjadi bukti energi politik Gen Z. Meski demikian, partisipasi daring belum selalu berujung pada aksi nyata, dan ruang politik formal masih minim diisi oleh anak muda.
Dosen yang merupakan lulusan program fastrack UNAIR tersebut mengingatkan adanya fenomena democratic backsliding. 淢eski indeks demokrasi menurun sejak pertengahan 2010-an, mayoritas Gen Z tetap menunjukkan optimisme. Ini menandakan adanya complacency, kepuasan tanpa refleksi kritis yang justru berbahaya jika tidak disertai literasi politik yang kuat, tegasnya.
Transformasi dari Prosedural ke Substansial
Untuk menjawab tantangan di atas, ia menawarkan agenda transformasi demokrasi dari prosedural menuju substantial. Solusinya mencakup inovasi partisipasi digital, advokasi kebijakan berbasis data, hingga penguatan gerakan sosial yang konstruktif. Gen Z juga didorong memperluas spektrum partisipasi mulai dari petisi daring, konten edukatif, voting, organisasi politik, hingga kegiatan kerelawanan dan komunitas sosial.
淕en Z harus menjadi policy shaper, bukan sekadar policy follower. Transformasi demokrasi dimulai ketika anak muda terlibat aktif dalam deliberasi publik melalui partisipasi digital, sosial, dan politik yang mampu meningkatkan kesadaran publik, menumbuhkan empati sosial, serta memberi pengaruh nyata pada arah kebijakan, katanya.
Ia menekankan bahwa pemerintah melalui lembaga legislatif perlu membuka diri melalui praktik open parliament demi mewujudkan proses kebijakan yang lebih transparan, inklusif, dan partisipatif. Menurutnya, makna sejati demokrasi baru dapat terwujud ketika partisipasi Gen Z bergerak dari simbolik menjadi substantif. Seiring dengan kesediaan parlemen untuk menjadi ruang dialog yang benar-benar terbuka bagi publik. 淒emokrasi tidak diwariskan, tetapi diperjuangkan di setiap generasi. Masa depan demokrasi Indonesia ada di tangan Gen Z, tutupnya.
Penulis: Panca Ezza Aisal Saputra
Editor: Yulia Rohmawati





