UNAIR NEWS Menyoal eksistensi Wayang Madura yang mengalami krisis, 51 (UNAIR) gelar sesi diskusi dalam rangka Dies Natalis ke – 71 bertajuk Gelora. Mengangkat tema Pengembangan Seni Pertunjukan Wayang Madura: Masa Lalu, Masa Kini, Masa Depan, kegiatan ini berlangsung di Airlangga Convention Center (ACC) Kampus MERR-C UNAIR pada Sabtu (15/11/2025).
Bersama dua narasumber yang memiliki pemahaman mengenai budaya terutama wayang, diskusi berjalan dengan pemaparan kondisi nyata serta strategi demi upaya pelestarian dan pengembangan Wayang Madura. Pembina Panti Budaya Wayang Kulit Madura, Kosala Mahinda, mengungkapkan bahwa sejatinya Wayang Madura sudah ada sejak dahulu.
Sepengetahuan saya, zaman dahulu sudah ada Wayang Kulit Madura di berbagai daerah. Mulai dari Pamekasan, Bangkalan, sampai Sumenep itu ada. Dulu, karena tidak ada pertunjukkan lain, jadi acara-acara itu ya hiburannya pasti wayang kulit, jadi masih eksis. Namun, sekarang sudah berbeda, ungkapnya.
Peningkatan Eksistensi
Meski telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda, Wayang Madura jadi salah satu kesenian yang semakin tergerus zaman. Kosala menyebutkan ada beragam faktor penyebab Wayang Madura kehilangan eksistensinya. Peminat untuk menggelar wayang itu sekarang sangat minim. Instansi saja sekarang sudah sangat jarang. Jarang sekali generasi muda yang kenal, yang nonton generasi tua semua dan itupun terbatas, sebutnya.
Sebagai pemerhati, Kosala menerangkan sudah melakukan berbagai upaya untuk tetap bisa mempertahankan kelestarian Wayang Madura di tengah berkembangnya zaman. Mulai dari meminta bantuan pada pemerintah, hingga usulan pengenalan pada usia dini.
Supaya tetap eksis, dari kecil sudah harus dikenalkan tentang kesenian asli Madura. Sebisa mungkin dari tingkat SD sudah diperkenalkan, dengan ekstrakurikuler tentang gending Madura. Nanti meskipun tidak jadi hobi, anak-anak setidaknya bisa mengenal, jangan sampai asing, tambahnya.
Kolaborasi Pentahelix
Sejalan dengan Kosala, peneliti sekaligus pemerhati budaya, Prof Sunardi MSn turut prihatin dengan kondisi Wayang Madura dewasa ini. Menurutnya, di era serba digital ini, kuncinya adalah menemukan cara mengakomodasi minat generasi sekarang. Regenerasi belum berjalan dengan signifikan. Kami prihatin terhadap Wayang Madura yang sebenarnya adalah mutiara terpendam yang harus kita gali, ujarnya.
Melalui kolaborasi pentahelix, Prof Sunardi menyampaikan perlu ada dukungan dari seluruh pihak demi membangkitkan kembali Wayang Madura. Pemerintah harus peduli, dunia pendidikan harus memasukkan kurikulum untuk mengenalkan. Masyarakat juga harus peduli. Dunia industri harus lebih bisa mendorong peningkatan dengan menggelar Wayang Madura. Terakhir media ini bisa mengangkat keberadaan Wayang Madura, tuturnya.
Penulis: Mohammad Adif Albarado
Editor: Ragil Kukuh Imanto





