51动漫

51动漫 Official Website

Dosen FKM UNAIR Ungkap Keterkaitan Kebiasaan Sarapan Mahasiswa dengan Risiko Anemia

Ilustrasi timbulnya anemia akibat penundaan sarapan (Foto: Kompas Health)
Ilustrasi timbulnya anemia akibat penundaan sarapan (Foto: Kompas Health)

UNAIR NEWS – Sarapan bukan hanya sekadar rutinitas semata, melainkan kebutuhan utama dalam menjaga daya tahan tubuh dan energi. Utamanya kebutuhan utama ini penting bagi mahasiswa dan kalangan yang memiliki aktivitas dari pagi hari. Tanpa asupan nutrisi yang cukup, otak dan tubuh tidak memperoleh energi yang cukup untuk berfungsi secara optimal.

Dosen (FKM) 51动漫 (UNAIR), Lutfi Fajar Nuraidah S KM, M Epid mengungkap pentingnya kebiasaan sarapan untuk mencegah risiko anemia. “Melalui sarapan, tubuh dapat memperoleh nutrisi mikronutrien yang diperlukan sebagai bahan bakar, sehingga mahasiswa dapat menerima materi perkuliahan, dan aktif serta partisipatoris,” ujarnya.

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR, Lutfi Fajar Nuraidah S KM, M Epid (Foto : dok. narasumber)
Dampak yang Muncul

Lutfi, panggilan akrabnya, menegaskan bahwa ada banyak dampak yang muncul akibat dari penundaan sarapan sebelum beraktivitas. Khususnya dalam lingkup mahasiswa yang berdampak pada ketidak fokusan dalam kelas, gangguan pencernaan bagi yang terbiasa rutin sarapan, hingga jika tidak ada makronutrien yang terpenuhi dapat mengakibatkan anemia.

Kendati demikian, meskipun mahasiswa mendapatkan jadwal kelas pagi harus dapat memaksimalkan manajemen waktunya dengan menyempatkan sarapan. “Sarapan tidak harus dengan yang berat, hanya roti, telur dan susu, ini tergantung dengan habits masing-masing,” jelas Lutfi.

Keterkaitan dan Kebiasaan

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI), ditemukan adanya hubungan antara pola makan terutama kebiasaan menunda sarapan dengan risiko anemia. Penundaan sarapan cukup berpengaruh karena pada waktu makan pagi inilah tubuh memperoleh asupan zat gizi penting seperti zat besi, vitamin B12, dan nutrisi lainnya yang berperan dalam produksi sel darah merah. “Kalau misalnya yang kita awali tidak ada, otomatis dapat terjadi anemia,”

Maka dari itu, ia menekankan bahwa mulai dari kecil atau anak-anak harus di bangun kebiasaan yang sedemikian rupa. Sehingga, kebiasaan baik sejak kecil akan lebih mudah penerapannya hingga dewasa. “Terutama di usia remaja putri yang sudah menstruasi, itu sangat berpengaruh kalau tidak ada asupan zat besi,” tambahnya.

Gejala Anemia

Menurutnya, gejala anemia sering kali tidak disadari oleh mahasiswa. Umumnya,tanda-tanda ini baru mulai terasa ketika kepala sering pusing atau tubuh mudah lelah. Bahkan, banyak kasus anemia baru terdeteksi saat mahasiswa melakukan donor darah dan mereka menemukan kadar hemoglobinnya rendah.

Terakhir, ia mengingatkan kepada mahasiswa untuk tetap peduli terhadap diri sendiri supaya dapat melakukan aktivitas perkuliahan dengan baik. Selain itu, ia juga mengajak para orang tua untuk membiasakan pola makan sehat sejak kecil sampai dewasa. “Harapannya, ayo berfikir untuk hidup sehat supaya kita bisa memberikan generasi dan akademisi yang sehat,” tutup Lutfi.

Penulis : Adinda Octavia Setiowati

Editor : Ragil Kukuh Imanto

AKSES CEPAT